
"Tidak menyukainya?" tanya Jill sekali lagi, jelas saja ia bertanya karena melihat cara Celia menatap Jio bukan seperti mendamba, malahan yang terlihat hanya ada kebencian tertanam di sana.
Celia berusaha menghilangkan rasa gugupnya, meski begitu, dia selalu mencoba untuk menerima Jio, jadi jika pun ada yang bertanya mengenai bagaimana perasaannya terhadap Jio, Celia tidak akan semudah itu untuk berkata tidak suka.
"Gue nggak tau sejak kapan dia mulai suka sama lo, tapi gue harap kalian nggak nyepelein yang namanya pernikahan!"
Celia tersentak, ia merasa kata-kata Jill baru saja berhasil menohoknya, apakah dia telah salah karena sudah berani membuat keputusan untuk mencoba menerima Jio, katakanlah dia belum sepenuhnya menerima, untuk saat ini hanya seperti masa percobaan, karena rencananya Celia akan segera meminta Jio untuk menceraikannya, jika beberapa bulan kedepan tidak terjadi sesuatu padanya.
Jauh dalam hatinya, Celia hanya takut hamil, meskipun dia juga tidak begitu mengharapkan Jio bertanggungjawab.
"Gue yakin, kembaran gue baik kok! Meski dia tukang maksa, meski cara bicaranya kasar, kalau lo udah kenal dekat sama dia, dia itu orang yang baik, dibalik keras sifat yang dia tunjukkin sebenarnya dia itu cuma cowok yang kekanak-kanakan, pengen disayang-sayang mulu, baperan, dan satu lagi... Gue yakin dia bisa jagain lo!" lanjut Jilly, memberikan kekuatan, mencoba meyakinkan Celia, karena sungguh Jill tau, Celia sepertinya benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini.
"Kak Jill..."
"Nikah muda itu enak tau! Buktinya gue, bahagia kan!" ungkapnya lagi, apa lagi mengatakan itu sembari membayangkan bagaimana indahnya malam pertamanya dan Raiz semalam, dunia memang bagai milik mereka berdua, Raiz juga benar-benar menjaga suasana hatinya, aahhh demi apapun rasanya Jill tidak mau berhenti bersyukur bisa mendapatkan suami seperti Raiz.
Indahnya menikah jika kita menikah dengan orang yang tepat, kalian memutuskan untuk menikah karena memiliki perasaan yang sama, Kak Raiz juga menghalalkan Jill dengan cara yang indah, sementara gue?
"Gue bakalan berusaha untuk menjadi pendamping yang baik Kak!" ucap Celia pada akhirnya. Biarlah keraguan serta rasa kecewa yang sudah terlanjur larut dalam pemikirannya itu ia sampingan dahulu. Entah dirinya harus menganggap pernikahan ini sebagai apa, awal hidup barunya ini rasanya tak ubah seperti beban yang semakin hari semakin tidak sanggup dirinya jalani. Dan setiap hari juga dirinya mencoba menguatkan hati untuk berkata, 'Ya Cel, semuanya akan baik-baik saja!'
"Pasti, gue malahan yakin kalau sama lo Cel!" Jill langsung saja memeluk seseorang yang telah resmi menjadi kakak iparnya itu, tidak menyangka Jio akan secepat itu menyusulnya menikah, apa lagi dengan Celia, orang yang sama sekali tidak diduga.
"Lo ngapain?" tiba-tiba saja keharuan itu harus dirusak oleh suara ketus dari seseorang yang tengah menatap Jill tidak suka.
Spontan baik Jill maupun Celia melepaskan pelukannya.
"Nggak ngapa-ngapain, cuma kasih selamat, emang nggak boleh? Aneh!" jawab Jill sewot.
Sementara Celia, ia enggan menyahut, ia lebih memilih untuk duduk di sebuah sofa yang letaknya tak jauh dari mereka.
"Hah macem-macem? Apanya yang macem-macem? Heh, lo suudzon aja bawaannya, emang Lo pikir gue bakalan bilang apaan?"
"Yakali kan?"
Jill menyunggingkan senyumnya, lalu ia berkata, "Yo, kalau lo emang beneran cinta sama Cel, ya bagus dong! Gue bahkan ngarep banget kalian bisa jadi best couple setelah gue dan Raiz tentunya!"
"Heh, gila!" tanggap Raiz, dasar bucin gerutunya dalam hati tentang Jill.
"Yo, denger! Segala yang berlalu ya udah kita anggap berlalu aja, lupain yang nggak guna, entah itu kesalahan atau apapun yang menyakitkan, toh kita udah dapet pasangan kita masing-masing kan! Harapan gue buat pernikahan lo ini cuma satu, semoga lo beneran cinta sama Celia, jangan nyakitin anak orang demi ego lo, bagi gue Celia itu terlalu baik buat lo yang brengsek kek gini!"
"Keberuntungan nggak bakalan selalu berpihak sama lo, jadi yaaa... Gue harap lo nggak bakalan nyia-nyiain Celia!"
Mendengar itu, tanpa sadar sudut bibir Jio sedikit tertarik, yah benar yang dikatakan Jill, Celia memang bagai sebuah keberuntungan baginya. Terlihat jelas, betapa bahagianya ia saat ini karena bisa menikahi gadis itu.
"Nikah sama itu anak ustadz ternyata bisa bikin lo berubah banyak ya, entah gue harus kesel atau..." Jio menjeda ucapannya, lalu tangannya memegang pundak Jill gemas dan menepuknya pelan, "Gue salut sama lo, okelah! Gue juga udah putusin, kita bisa damai aja!"
"Hah?" bingung Jill. Damai? Memangnya sejak kapan mereka berantem.
"Jauh dari lo itu terlalu nyakitin sebenarnya, mungkin gue cuma belum terbiasa aja, maafin gue yaaa udah bentak lo, udah marah-marah sama lo!" lanjut Jio, yah sepertinya malam ini dia sudah bisa menerima, menerima pernikahan Jill dan Raiz, karena sungguh benar untuk alasan apa dirinya menolak, cinta? Konyol! Jio rasa semalam ini dirinya cuma salah paham menafsirkan.
Mendengar itu, Jill langsung saja mencubit gemas pipi Jio, "Duh yang udah punya bini, bilangnya aja udah 'bini gue', kek udah siap banget lahir batin!" goda Jill, ia melirik Celia sebentar, terlihat juga pipi gadis itu yang memerah karena mendengar perkataannya.
"Dasar, emang mulut nggak bisa diem!" gerutu Jio, namun dalam hatinya sungguh senang, ia memang sudah benar-benar jatuh cinta sepertinya dengan Celia.
Bersambung...