
Kadang orang lain hanya melihat luarnya saja, orang yang sama sekali tidak pernah masuk ke dalam saja kadang sudah begitu yakin untuk menghakimi, aku menemukan sebuah keluarga yang hangat, nyaman, dan selalu membuatku betah. Keluarga yang orang lain di luar sana anggap neraka itu, nyatanya adalah keluarga yang begitu kaya akan kasih dan sayang di dalamnya.
Aku menyesal, lucunya aku yang dulu pernah menganggap keluarga ini adalah keluarga yang menakutkan.
^^^Raiz. ^^^
___
"Kamu tidak membawa istrimu Raiz?" tanya Ummi Hana, melihat putranya itu datang sendiri dan juga tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu, ia takutnya terjadi sesuatu.
"Nggak Ummi, Jilly kan harus sekolah, lagi pula Raiz tidak akan lama, Raiz hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting!" jawab Raiz.
"Sesuatu yang penting? Apa Nak?" tanya Ummi Hana, dia langsung saja menegakkan duduknya, siap menyimak.
"Abi ke mana Ummi?" tanya Raiz, karena dari tadi dia tidak melihat Kyai Ahmad.
"Abi sedang ada pertemuan, mungkin sebentar lagi selesai, ada apa sih?" tanya Ummi Hana penasaran.
"Nanti saja ngomongnya kalau udah ada Abi." sahutnya.
"Ya sudah, Ummi ke belakang dulu, kebetulan Ummi sedang buat puding mangga, mangga di depan sedang berbuah lebat, baru aja Abi panen kemaren, nanti kamu juga harus bawain buat Jilly dan Tuan Jason!"
"Iya Ummi!"
Raiz menunggu kedatangan Abinya. Ia melirik jam tangan dan ternyata masih cukup pagi, nanti selepas Zuhur rencananya dia akan pulang, kalau sore Jakarta lumayan macet, nanti yang ada dia malah akan kemalaman pulangnya.
"Assalamualaikum..."
"Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh!"
"Lho Raiz, ke sini sendiri? Tidak mengajak istrimu?" tanya Kyai Ahmad yang baru saja datang, ia habis dari pertemuan, salah satu pihak Bank swasta di negara ini ingin membantu renovasi pondok pesantrennya, entahlah Kyai Ahmad pun tidak mengerti dan sedikit terkejut, salah satu pihak Bank yang tidak diketahui namanya itu tiba-tiba saja menyatakan ingin menjadi donatur tetap di pesantrennya, bahkan tadi mereka malah sudah membahas anggaran untuk renovasi besar-besaran, tentunya dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Belum hilang rasa terkejut Kyai Ahmad , bertanya-tanya siapa sebenarnya hamba Allah yang sungguh baik itu.
"Jilly harus sekolah Abi! Raiz ke sini karena ada sesuatu yang penting?" jawab Raiz.
"Sesuatu penting?"
"Iya lho Abi, Ummi sudah tanyain tapi katanya mau nunggu Abi dulu untuk menjelaskannya!" ujar Ummi Hana yang juga datang dari dapur, membawa satu piring puding mangga dan juga teh hangat untuk menemani bincang santai mereka.
Putra bungsu mereka memang sudah lama tidak pulang, terakhir pulang waktu hari raya idul Adha kemarin.
"Ada apa Raiz?" tanya Kyai Ahmad.
Raiz mengambil undangan resmi ARAD Group dari tasnya, ia meletakkan pelan undangan itu di meja.
Kyai Ahmad menyergit saat membaca undangannya itu, lalu tangannya bergetar karena mulai paham apa yang diberikan Raiz. "Ini..."
"Undangan resmi dari mertuaku!" ujar Raiz.
"Undangan resmi gimana ih? Ini kan perusaahan besar?" tanya Ummi Hana.
"Iya Ummi dan Abi diundang dalam acara ini, jadi pastikan Ummi dan Abi harus hadir, Raiz juga awalnya deg-degan tapi yaaa MasyaAllah, bukankah memang kenyataannya kalau mertuaku itu memang sehebat itu!" ujarnya antusias.
"Yah, tentunya, Abi akan usahakan untuk hadir!" jawab Kyai Ahmad.
"Ah iya Abi, tadi pagi Jilly mendapatkan telepon, memang sih tidak ada undangan resminya karena Raiz juga mendadak pergi ke sini, Papa bilang undangan ini juga berlaku untuk keluarga besar kita, jadi Kak Nia sama yang lainnya juga harus ikut, dan juga Papa bilang katanya anak-anak yang berprestasi di pesantren kita, terutama yang memang hafidz Qur'an, nanti akan di jemput dua hari sebelum acara, Papa ingin memberikan sedikit hadiah untuk mereka!" ujar Raiz sesuai apa yang Jilly katakan tadi pagi.
Yah tadi pagi Jason memang memberitahukan itu, karena masalah Jio di dua tiga hari ini yang begitu menyita perhatiannya, ia jadi lupa dengan rencananya untuk anak-anak di pesantren besannya.
"MasyaAllah, Nak Jason itu nyatanya orang baik ya, itulah selama ini Ummi memang nggak percaya kalau denger-denger berita buruk tentang beliau, Ummi tidak peduli orang lain mau julid juga, akhirnya tuduhan itu bisa dibantah dengan apa yang Ummi dengar ini!"
"Iya Ummi, kadang orang hanya melihat bagaimana luarnya saja, tidak tau sama sekali bagaimana kehidupan di dalam sana, semoga saja mertuaku memang orang baik, karena sejauh ini memang itu kenyataan yang Raiz lihat!" tambah Raiz.
"Tapi Abi ada yang aneh Raiz!" ujar Kyai Ahmad tiba-tiba.
"Kenapa Abi?"
"Pesantren kita, akan diadakan renovasi besar-besaran dalam dua atau tiga bulan lagi, ada donatur yang menyumbangkan dana begitu besar, bahkan sudah siap untuk melakukan renovasi, seperti semuanya sudah terencana dengan baik, Abi bahkan sudah melihat bagaimana designnya, bagaimana cara pengelolaannya, semua bahkan terperinci!"
"Bukankah selama ini, Abi sudah beberapa kali mengajukan proposal untuk menggalang dana supaya bangunan pesantren kita ini menjadi lebih baik, tapi jarang ada hamba Allah yang menyumbangkan uangnya sebanyak itu, ini benar-benar banyak, kalian mungkin akan terkejut mengetahuinya!"
"Berapa banyak memangnya Abi?"
"Iya Abi?"
"Ekhhmmm!" Kyai Ahmad berdehem untuk menetralkan rasa terkejutnya, "Tiga puluh lima milyar!" jawabnya kemudian.
"Dan itu belum termasuk santunan untuk anak-anak santri kita!"
"MasyaAllah!"
"Alhamdullilah..."
"Abi curiganya hamba Allah itu adalah mertuamu!" ujar Kyai Ahmad. Dan seketika Raiz mematung, benar juga, tidak banyak orang di negaranya yang bisa melakukan itu. Sedang mertuanya itu, adalah orang yang sungguh kaya dan patut diperhitungkan.
"Apa Abi menginginkan Raiz untuk menanyakannya?" tanya Raiz.
"Tidak usah, orang yang tadi mengadakan pertemuan itu, mengatakan ini dari BANK swasta, meskipun sedikit aneh, tapi kita harus menghargai, mungkin saja hamba Allah itu memang tidak menginginkan kita mengetahui namanya!" jawab Kyai Ahmad.
"MasyaAllah, jika benar itu Tuan Jason, berarti anak itu memang orang baik, Raiz beruntungnya kamu Nak!"
Raiz masih terkejut, nanti sajalah ia akan mendiskusikan ini pada Jill, uang tiga puluh lima milyar bukanlah sedikit.
"Ah ya Raiz, berarti Abi dan para Ustadz harus segera memilih para santri yang berprestasi untuk di bawa ke Jakarta, apa ada batasan orangnya?" tanya Kyai Ahmad.
"Kalau itu Raiz kurang tau Abi, nanti saja Raiz tanyakan lagi ke Jilly, atau tanyakan langsung ke Papa, kita juga tidak bisa gegabah menentukannya bukan, tapi ada baiknya jika Abi sudah memikirkan siapa saja orang-orang yang terpilih itu!" jawab Raiz.
"Yah, benar Raiz, Abi setuju."
"Kalau begitu Nak kamu jangan pulang buru-buru yaaa, Ummi mau masak dulu sebentar, untuk menanti Ummi sama keluarganya, jangan kita tidak memberikan apapun pada mereka, meski seadanya namun setidaknya sudah berusaha!" ujar Ummi Hana.
"Raiz pulang selepas Zuhur Abi, Ummi!"
"Ya, baiklah, masih keburu waktunya kalau begitu!" Ummi Hana langsung saja kembali ke dapur, dia akan memberikan apapun yang dirinya bisa dan mahir untuk membalas kebaikan Jason tentunya.
Bersambung...