
Celia tiba-tiba saja deg-degan saat Jio membelai lembut pipinya, pelan dirinya menggeleng karena menyadari mulai tak kuasa menolak pesona seorang Jio Adskhan Putra Adrian.
"Enggak Cel, lo kenapa jadi pengkhianat gini sih? Ini baru tiga hari lho tuh cowok ngajakin nikah, set dah lemah amat lo!" gerutunya tak percaya.
"Apanya yang lemah Cel?" tanya Zalin, dia baru saja ingin menyapa Jio namun dilihatnya calon mantunya itu sudah tidak ada lagi, tinggal lah putrinya yang sedang bergumam sendiri.
"Eh Mama!"
"Jio udah pulang? Cepet banget?"
"Iya Mah, tau katanya ada urusan!" dusta Celia.
"Ada urusan apa kamu usir?" selidik Zalin.
"Usir? Ehe he he, ya enggak dong Ma, masa iya ngusir tamu, dia emang ada urusan, ke sini cuma mau bilang katanya besok suruh fitting baju kebaya!" jawab Celia, semakin lancar saja ia berbohong.
"Oohh gitu, ya udah kamu tidur gih, besok sekolah kan!"
"Iya ma, daaah Mama, selamat malam..."
"Selamat malam sayang!"
...***...
"Masalah kamu kemaren kayaknya nggak ada yang lapor deh, cuma Bu Winda aja yang posting di grup, tapi nggak ada tindak lanjut!" ujar Raiz saat mereka dalam perjalanan ke sekolah.
"Maksud kamu, kamu tetep bakalan manggil aku nanti?"
"Iya!" jawab Raiz santai.
"Kok gitu?"
"Ya nggak papa, sekalian makan siang entar!"
"Kamu..." Jill ingin mengumpat, namun semenjak menikah dengan Raiz sayangnya hal itu sudah menjadi larangan, bibirnya tidak bisa untuk menahan senyum kala Raiz menjadikan masalahnya kemaren untuk berduaan lagi di ruangan.
"Dasar suami pengertian!" ujarnya sembari menahan tawa.
"Gemes banget sih Ay! Ah ya, kamu kapan selesai merahnya?" tanya Raiz tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Ya nggak kenapa-kenapa, nanya aja, kalau udah selesai kan enak!" jawab Raiz.
"Hemmm!" Jill tersenyum lagi.
"Kamu keknya juga udah nggak sabar, imbang dong jadinya, berarti ya kita jujur sama jujur aja!" lanjut Raiz.
"Ih apaan sih masih pagi udah ngomongin yang kek gitu, mes*m banget!" protes Jill.
"Lho kenapa? Mes*m juga sama istri sendiri.
"Eh iya, Ay, aku juga baru ingat!" Raiz mulai berbicara serius, dia memang sempat melupakan sesuatu.
"Apa?"
"Hari ini kita harus ke kantor polisi, karena kemaren kepala sekolah juga udah WA aku, katanya ada salah satu murid di sekolah kita yang bakalan jadi saksi atas kasusnya Anisa, ya aku rasa itu kamu kan!" ujarnya.
"Hemmm, ya udah, aku udah siap, Bunda kan juga udah bilangin sebelumnya!"
"Baguslah kalau kamu udah siap!"
Raiz memarkirkan mobilnya di parkiran khusus guru, ia menghela napasnya berat kala sekali lagi begitu banyak pasang mata yang menatap curiga terhadapnya, sudahlah ini tidak akan lama, Jill akan lulus sekitar enam bulan lagi. Dan setelah itu mereka akan tenang tanpa harus menyembunyikan pernikahan mereka, Raiz sudah tidak sabar untuk itu.
"Kamu kenapa?" tanya Jill.
"Enggak papa!"
"Enggak gitu Ay, tapi aku kek ngerasa kenapa juga kita harus nyembunyiin sesuatu yang padahal adalah kebahagiaan!"
"Sabar..."
"Makasih ya udah ngerti!"
Jill mengangguk, "Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang sama aku, ya kita jalanin aja dulu, kalaupun nanti kita ketahuan kamu udah siap kan konsekuensinya?" tanya Jill.
"Mungkin karir aku cuma sampe segitu!"
"Tapi kamu akan tetep jadi guru yang terbaik buat aku!" hibur Jill.
"Nah kan gemas lagi, ini muka kenapa sih gemesin banget apa lagi kalau lagi ngerayu gitu!" Raiz menangkup kedua pipi Jill dengan kedua tangannya.
"I love you Ay..."
"Love you too Pak Raiz!"
"Ya udah yuk keluar!" Raiz mengulurkan tangannya untuk di cium oleh Jill, sebagai pasangan yang baik tentunya Raiz sudah meminta Jill untuk melakukan hal-hal kecil seperti itu, mulai membiasakan diri.
Jill menyambut uluran tangan suaminya itu dan menciumnya, kemudian tanpa Jill duga Raiz mencium keningnya, gelenyar aneh yang sejak n membuat dadanya menyeruak kembali ia rasakan, jatuh cinta lagi dan lagi pada suami sendiri.
Raiz membuka pintu mobilnya dan keluar, lalu ia membukakan pintu juga untuk Jill.
"Udah... Kita itu nggak bakalan bisa ngenjelasin ke mereka satu-satu, SMA ini beneran banyak baget lho muridnya, kalau kamu mau ngenjelasin dengan kerja yang begitu efektif, aku punya caranya!" ujar Jill, mereka sedang menuju koridor.
"Apa emangnya?"
"Bilang aja sama Winda, kalau kamu adalah orang yang diharuskan buat jagain aku, pasti bakalan nyebar langsung penjelasan kamu itu, dia kan human terupdate!"
"Kamu tuh ya, bisa-bisanya!"
"Ya kenapa? Itu kan solusi yang paling bagus dari aku, aku nggak marah kok, malah aku nungguin gimana ekspresi wajah dia kalau tau kabar itu, behhh pasti bakalan shock berat!"
"Iya nanti, kalau dia ada tanyain pasti bakalan aku jelasin ke dia, biar bisa nyebar langsung."
Jill mendengar beberapa anak di sekolahan ini berbisik-bisik mengenai kedekatannya dengan Raiz, namun sayangnya bukan Jill namanya jika harus memedulikan hal semacam itu.
"Ya udah masuk kelas gih!" suruh Raiz.
"Oke!" sahut Jill semangat.
...***...
"Janinnya mulai berkembang, ini... Bayinya di sini, tapi memang masih sulit di gambarkan yaaa, karena masih sangat baru, selamat ya Ibu, Bapak, proses bayi tabungnya berhasil! Kini Ibu Shakira hanya harus menjaga kandungannya saja, jangan terlalu letih, usahakan makan-makanan yang bergizi dan seimbang, hindari makanan instan, minuman soda, pokonya lebih ditingkatkan lagi pola hidup sehatnya ya!" ujar Dokter Vina, menatap haru calon orang tua yang masih juga tidak menyerah, akhirnya usaha mereka memberikan hasil, setelah beberapa tahun berjuang untuk melawan ketakutan, berikhtiar terus menerus untuk mendapatkan keturunan namun sayangnya baru kali inilah Tuhan memberikan mereka kesempatan.
Roy dan Shakira mengangguk, lalu keduanya saling bertatapan, Roy melihat Shakira yang sudah meluruhkan air mata, tentu saja ia juga tidak bisa menahannya.
"Sayang..." ujar Roy, ia memeluk haru istrinya, Shakira langsung saja terisak, sungguh demi apapun ini benar-benar kebahagiaan, tidak bisa berhenti untuk menangisi kebahagiaan ini.
"Sayang... Dia ada, dia ada di rahimku, sayang... Dia ada!" ujar Shakira lirih.
Akhirnya ia berkesempatan menjadi calon Ibu seutuhnya, yah meskipun Jill dan Jio adalah juga anaknya namun rasanya kalau bisa memiliki bayi dari darah dagingnya dan Roy kenapa tidak, bahkan Shakira susah berjanji saat mengambil keputusan ini, bahwa ia tidak akan melupakan kedua anak angkatnya itu.
"Dia ada sayang, dia sudah ada..."
"Shakira... Akhirnya, sayang..."
"Aku akan menjaganya Roy, aku pasti akan menjaganya, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi, aku janji Roy!" ujar Shakira sembari terisak. Perlahan ingatannya pada tujuh belas tahun yang lalu, kembali dirinya kenang.
*Maafin Bunda ya sayang, Bunda bukannya mau gantiin kamu, Bunda yakin kamu bisa ngerti, kamu udah tenang di sana, kasih sayang Bunda ke kamu tetep nggak akan berkurang, maafin Bunda ya sayang, yang nggak bisa jagain kamu waktu itu, yang nggak bisa mempertahankan kamu...
Bunda janji untuk kali ini, Bunda akan selalu jagain adik kamu, Bunda nggak akan lalai lagi*...
Bersambung...