Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Sah!



Sayangi dia, aku tidak akan berharap apapun, karena jika kau sudah menyayanginya tentunya kau akan sulit untuk mengecewakanku!"


^^^Jason.^^^


___


Hari ini adalah hari pernikahan Raiz dan Jilly, dekorasi sederhana telah menghiasi ruang keluarga di rumah utama Jason Ares Adrian, tamu undangan yang memang setiap orangnya sudah bisa dipercayai akan mampu menjaga rahasia satu persatu sudah datang.


"Kamu jadi gagah banget dek!" ujar Rania, kakak sulung Raiz, dia sedang menggendong bayi mungilnya yang menggemaskan, tidak menyangka bahwa adik bungsunya itu akan menjadi mantu seorang pengusaha muda terkenal, mendengar nama Jason Ares Adrian saja sudah merinding duluan.


"Makasih Teh!" ujar Raiz. Ia mencubit gemas pipi gembul Najwa keponakannya, sudah lama memang dirinya tidak pulang ke Bandung.


"Nanti Jilly akan dibawa main ke Bandung kan, banyak banget sodara yang mau ikut, tapi untung deh Abi bisa memberi pengertian!" lanjut Rania.


"Iya, palingan minggu depan, Raiz usahain deh, udah lama juga Raiz nggak pulang, sekalian kenalin Jilly sama nenek.


"Katanya pas ijab qobul kamu mau nikah sama Aliyah Minggu kemaren, kamu salah sebut nama ya?" usut Rania, "Secinta itu kamu?" godanya lagi.


"Ya mau gimana lagi Teh, kalau boleh jujur mah Jilly bahkan udah penuh banget di otak aku, waktu itu aku juga nggak sadar, mudah-mudahan Jilly beneran jodoh sama Raiz, jodoh yang dikirimkan Allah!" ujarnya.


"Hemmm, semoga... Amin!" Rania mengaminkan.


Jika di pernikahannya dan Aliyah waktu itu Raiz terlihat tidak bersemangat, tentu saja kali ini tidak lagi, bahkan meskipun gugup melanda dia juga sudah tidak sabar untuk menghalalkan gadis yang dirasa memang benar-benar dicintainya itu. Yang sudah dirinya pilih dengan sepenuh hati.


"Raiz, ayok, udah mau mulai!" gegas Ummi Hana mengambil tangan putranya itu untuk membawanya menuju penghulu.


"Kamu ini kebiasaan deh, mesti dicariin dulu!" oceh Ummi Hana.


Raiz melihat Jason yang juga sudah siap, namun saat ini dia tidak melihat Jilly, ke mana gadisnya itu.


"Nyari Jilly? Dia gue sembunyiin, kalau mau ketemu lo harus bayar dong!" ucap Jacob tiba-tiba, pemuda itu merangkap jadi fotografer sepertinya, karena sedari tadi asik saja memotret untuk mengabadikan moment pernikahan adiknya itu. Jacob memang hobi dan tengah menggeluti bidang fotografi, Jason mendukung penuh untuk itu, dan kali ini dia diberikan kepercayaan oleh Papa gantengnya itu untuk menunjukkan pesona.


Raiz tersenyum sedikit, banyaknya canggung.


"Yeee malah senyam senyum, gue serius, lumayan buat ongkos, gue jauh pulangnya ke Amrik, nggak cukup naik Gr*b." garing Jacob.


"Iya, nanti gue usahain, apa sih yang nggak buat abang ipar." Raiz menimpali.


"Iyaaa!" angguk Raiz biar cepet, lagi pula jika memang Jacob serius dia masih punya cukup uang untuk mengembalikan pemuda itu ke Amrik sana.


"Oke! Gue nugas dulu ya, maklum kejar setoran!" garingnya lagi, Raiz hanya bisa menggeleng pelan, jika Jio melayangkan tatapan tidak suka padanya sedari tadi lain halnya Jacob, pria itu malah semakin mencoba akrab padanya.


Raiz duduk di hadapan Jason dan Pak penghulu, dia berusaha menetralkan kecanggungannya, dan melafalkan beberapa doa dalam hatinya untuk menenangkan pemikiran.


"Sudah siap?" tanya Pak Penghulu.


"Sudah!" angguk Raiz.


"Baiklah, Tuan Jason juga sudah siap?"!


"Sudah Pak!" .


"Silakan!"


Jason mulai menjabat tangan Raiz, dengan satu tarikan napas dia berkata, "Saudara Raiz Hanif Al-Haaqi Bin Kyai Haji Muhammad Asrun, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan putriku Jilly Almas Putri Adrian Binti Jason Ares Adrian dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar tujuh puluh lima juta rupiah dibayar tunai..."


"Saya terima nikah dan kawinnya Jilly Almas Putri Adrian Binti Jason Ares Adrian dengan maskawin tersebut tunai!" Raiz langsung menyambut kalimat yang dilafalkan Jason dengan satu tarikan napas juga, setelah berhasil melakukan itu sungguh dirinya lega sekali, kini Jilly sudah sah menjadi istrinya.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


Ungkap semua orang yang menyaksikan itu, kini tanggung jawab seorang ayah pada putrinya sudah berpindah ke pundaknya, seperti yang Jason pernah katakan, dia akan selalu mengingat itu.


"Selamat yaaa!" ucap Jason sembari memegang pundak Raiz, menepuknya perlahan, entah mengapa Raiz melihat wajah Tuan Penguasa itu begitu mengharukan, "Jaga putriku, semampumu, sebisamu, bahagiakanlah dia, jangan sakiti hatinya, dari kecil aku yang merawatnya ini begitu berusaha supaya Jilly-ku tidak kekurangan apapun, kasih sayang, cinta seorang ayah, aku selalu memberikannya, jangan pernah mengabaikannya jika dia marah, dia adalah nyawaku, aku bisa gila jika kau mengecewakanku tentang Jilly!" ujar Jason, mungkin dia terlalu berlebihan dalam mengungkapkan pesannya yang sudah seperti mengancam Raiz saja, namun jujur itulah yang dirinya rasakan, dia benar-benar bahagia sekaligus bersedih, satu putrinya sudah jadi milik orang lain.


"Insyaallah! Raiz akan berusaha Pa!" sahut Raiz, ada kesedihan di mata Jason, dia bisa melihat itu.


Bersambung...