Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Calon Imamnya Jill!



Aku tidak menyangka, kita akan berada di tahap ini, mendewasakan diri dan mencoba menjadi layak untuk satu sama lainnya.


^^^Raiz.^^^


___


"Nah, ini keluarga besar kami, ini si sulung namanya Misca, dan ini abangnya Jill namanya Jacob, panggil aja bang Jack dia suka kok dipanggil gitu, katanya biar lebih keren!" ujar Shirleen memperkenalkan anak-anaknya itu pada Raiz, Misca dan Jacob memang baru saja pulang dari Amerika hari ini, keduanya begitu antusias dan tidak percaya bahwa bungsu mereka akan segera menikah.


"Iya keren kayak kang Ojeck..." sambung Jill meledek.


"Ma..." rengek Jacob, dia sebenarnya suka sih panggilan Jack itu, tapi nggak perlu di kabarin juga alasannya. Dan sedikit terganggu karena Jill selalu mempermasalahkan itu.


"Sudah-sudah kalian ini!" lerai Shirleen.


Jacob meneliti wajah Raiz, memang tidak diragukan lagi selera adiknya itu, lalu dia mengulurkan tangannya sebagai salam perkenalan, "Jacob!" katanya.


"Raiz!" Raiz menyambut uluran tangan itu, sejauh ini aman saja, ternyata keluarga Jill benar-benar baik tidak seperti yang dirinya duga saat masih ragu tentang perasaannya pada Jill waktu itu.


"Misca!" Misca tersenyum senang, dia juga bangga pada Jill, bisa mendahuluinya menikah dan dilihatnya calon suami adiknya itu benar-benar mendekati sempurna, apa lagi Bundanya mengatakan kalau Raiz adalah anak dari Kyai Ahmad, salah satu pemilik pondok pesantren yang cukup terkenal di Bandung. Berlebihan tidak sih kalau dia menganggap Jill beruntung.


Sementara dirinya, beberapa kali mengenal pacaran malah orang sudah takut duluan mengingat latar belakang keluarganya, Jason Ares Adrian, entah mengapa nama itu terdengar menyeramkan bagi sebagian orang, dan sayangnya itu juga berimbas ke masalah percintaannya, Misca benar-benar tidak mengerti sebenarnya apa yang telah dilakukan Papanya itu di masa lalu.


"Raiz Kak... Eh apa kita seumuran ya?" ujar Raiz ragu.


"Aku mau jalan 24!" aku Misca.


"Nah kan tuaan aku, aku udah 24 mau jalan 25!"


"Tapi tetep aja, karena kan kamu bakalan jadi adik ipar, jadi gak papa juga kalau panggil Kak!" Misca mencoba mengakrabkan diri. Memberikan kesan pertemuan pertama yang cukup menyenangkan untuk Raiz.


"Lo tiati sama tuh anak, posesif abis kalau sama Jill!" bisik Misca pada Raiz, membuat Raiz terheran.


"Oh ya?" tanyanya.


Misca mengangguk, "Nggak ada yang boleh bikin Jill nangis, nggak boleh nyakitin Jill dikit pun, apa lagi kalau Jill sampe luka, kalau Jack peluk Jill aja si dia ngambekan, lo harus siap-siap aja pokoknya!" Misca tersenyum mengejek, dia memang yang paling mengetahui bagaimana dekatnya Jill dan Jio yang kadang malah bisa membuat orang salah paham.


"Tapi kan..."


"Kak Misca mulai deh!" kesal Jill, dia melerai aksi Misca menakut-nakuti Raiz.


"Ye bukannya bener!" cibir Misca.


Namun pandangan keduanya terhenti kala melihat Jio yang mulai mendekati Raiz, Jill dan Misca sejurus penasaran, apa yang akan dilakukan Jio.


"Kenalin, gue Jio, kekasih Jill sebelum lo!" ujar Jio, terlihat sayang sekali karena di sana nggak ada yang menganggap serius ucapannya itu. Padahal Jio mengucapkannya dengan gemuruh di dada menahan amarah.


"Yeee sa ae lo, kebanyakan hidup kek upin-ipin jadi nggak bisa move on kembaran mau kawin!" ledek Jacob.


"Jack..." seru Shirleen.


"Maaf Ma, lagian si Jio ada-ada aja, mentang-mentang udah sama-sama dari perut jadi ngaco!" lanjutnya.


Raiz menyambut uluran tangan itu, lalu dengan pasti dia berkata, "Raiz! Calon imamnya Jill!" balas Raiz tak mau kalah.


Bersambung...