
"Enggak! Aku nggak mau!" tolak Jill cepat.
Keduanya sudah berada di rumah, setelah makan malam keduanya melepaskan penat sebentar di ruang keluarga, lalu tiba-tiba Raiz membicarakan perihal siapa yang harus keluar dari sekolah.
Raiz mengatakan Winda mengetahui pernikahan mereka, menemukan foto pernikahan mereka dipajang di Mading pagi-pagi tadi, dan Raiz berharap tidak ada siapapun yang melihat itu selain Winda.
"Kamu sengaja ya Ay nyuruh aku yang pergi dari sekolah, biar kamu bisa deket-deket terus sama si Winda, apa lagi tadi dia dengan nggak tau malunya bilang suka sama kamu, kesemsem kamu hah?" berang Jill.
"Ay... Kok jadi gitu sih? Aku kan cuma tanya, gimana kalau seandainya kamu yang keluar dari sekolah?" Raiz mencoba menjelaskan lagi maksudnya, menegaskan kalau dirinya hanya ingin berdiskusi mengenai keputusan apa yang harus mereka ambil untuk menyikapi masalah yang lumayan serius ini.
"Aku nggak mau! Pokoknya nggak mau, titik!" kekeh Jill.
"Ya udah kalau nggak mau, jadi aku nih yang bakalan keluar?" tanya Raiz.
Jill mencuri pandang ke arah suaminya itu, haruskah Raiz keluar dari sekolah itu? Tidak, karena itu juga bukan keputusan yang tepat.
"Ya... Ya nggak gitu juga..." gugupnya.
"Terus?"
"Bisa nggak sih nggak ada yang harus keluar? Ngeselin banget sih, siapa coba yang beraninya?" gerutu Jill, dia penasaran.
"Orangnya nggak bisa dilihat dengan jelas, tubuhnya sih gempal, kayak preman gitu mungkin juga orang suruhan, entah suruhan siapanya ya aku nggak tau juga!" jawab Raiz.
"Kamu? Selain keluarga inti, siapa lagi yang datang ke acara kemaren?" selidik Jill, dia harus menelusuri itu, bagaimana bisa foto pernikahannya tersebar, bukankah kang fotonya juga adalah Bang Jack, jadi minim sekali jika bukti pernikahannya ini akan tersebar. Apa lagi foto itu, Jill melihat kembali foto pernikahannya dan Raiz yang katanya diberikan Winda, foto itu sepertinya diambil dari jarak dekat, siapa yang berani?
"Nggak ada Ay, kan kamu tau sendiri!" Raiz berpikir lagi namun sekeras apapun rasanya tidak mungkin dia harus mencurigai keluarganya sendiri.
"Keluarganya temen-temen Papa?" tanya Raiz kemudian, selain keluarga intinya yah tentu saja hanya rombongan teman-teman Papa mertuanya itu yang turut hadir meramaikan pernikahan mereka kemarin.
"Ini udah nggak beres, aku percaya banget sama temen-temennya Papa ganteng, nggak mungkin juga!" sahut Jill.
"Jadi siapa menurut kamu?"
"Entahlah, biar nanti aku kirimin ini ke Papa, suruh cek cctv atau apa, kali aja memang ada yang nyebarin!"
"Haaahh!" Raiz menghempaskan napasnya berat, ia antara siap dan tidak siap jika suatu saat hal seperti ini terjadi, dirinya kira mereka sudah menjaga privasi sebaik mungkin.
"Enggak! Enak di kamu nggak enak di aku dong, sengaja banget mau dua-duaan sama Winda!" ketus Jill, dia juga marah karena mengapa Raiz tadi harus bertemu Winda, meskipun niat Winda baik namun Winda adalah orang pertama yang membuat masalah dengannya di sekolah itu, jadi jujur saja Jill benar-benar membenci guru bahasa Indonesia itu, apa lagi tadi Winda menyatakan perasaan pada suaminya itu, meskipun terdengar juga seperti menyerah namun Jill tetap sulit untuk menerimanya.
"Aku nggak ada niat mau dua-duaan sama dia Ay..." sanggah Raiz, memangnya dirinya ini apa, playboy? Pemain cinta? Bajingan, brengsek? Mengapa juga harus menyukai Winda hanya karena wanita itu bilang suka padanya tadi, cinta nggak sebecanda itu kali, nikah dengan Jill saja butuh banyak pertimbangan, kalau saja nggak kelewat suka dengan istrinya ini tentunya dia tidak akan dengan mudah menjatuhkan hatinya pada sembarang wanita.
Jill menatap sinis Raiz, lalu napasnya naik turun, sungguh kesal yang teramat. "Tau ah!" dengusnya.
"Ya udah, aku aja yang berhenti!" putus Raiz.
Jill menoleh, aaaaahhh yang seperti itu juga dirinya tidak rela. Masa iya Raiz harus berkorban demi dirinya lagi dan lagi.
"Tapi Ay..."
"Ya mau gimana lagi, kalau bukan kamu ya aku, nah kamu kan nggak mau, jadi ya aku yang harus keluar!"
"Memangnya nggak bisa ya kita cari dulu, kita tuntasin masalahnya dulu Ay!" pinta Jill.
"Kamu yakin dua atau tiga hari ini orang yang nyebarin bisa kita ketahui?"
"Ya... Kan belum kita coba!"
"Aku mau cari aman aja Ay, keknya emang gak bagus kalau kita masih satu sekolah!" ujar Raiz.
"Terus kamu ngalah nih maksudnya?"
"Ya mau gimana lagi!"
"Tau ah, nyebelin banget sih, awas aja kalau sampai tau siapa orangnya!"
Raiz memikirkan beberapa tahun pengabdiannya menjadi guru, itu adalah mimpinya. Bahkan dirinya menjadikan impiannya itu sebagai alasan supaya tidak ikut dalam mengelola pondok pesantren di beberapa tahun ini, kalau dirinya berhenti entahlah haruskah dirinya kembali ke Bandung nantinya, membawa serta Jill ikut dengannya, atau... Raiz juga teringat akan permintaan Jason yang menginginkan ia mengelola salah satu perusahaan, tidak buruk juga nasibnya jika harus merelakan gelar guru.
"Kamu mau ikut pindah nggak?" tanya Raiz tiba-tiba, sepertinya dia lebih tertarik pada poin pertama.
Bersambung...