
Gue hanya perlu ngikhlasin dia, karena mau mempertahankan pun juga percuma, kenyataannya kami harus terjebak di rahim yang sama, tapi kenapa rasanya begitu sulit?
^^^Jio.^^^
___
Jio kalah telak saat mendengar pengakuan Raiz, benar saat ini yang tengah berhadapan dengannya kali ini adalah calon suami dari kembarannya.
"Ada yang lagi marah-marah... Marah tak jelas, padanya..." ujar Jacob, dia senang sekali menggoda Jio, tanpa tau bahwa adik kembarnya itu memang memiliki perasaan lebih terhadap kembarannya juga.
"Paan sih lo, ngalay banget semenjak di Amrik!" ketus Jio. Dia semakin kesal, dari dulu dia memang sering berantem dengan Jacob, untunglah dulunya juga Jill selalu membelanya, namun kali ini lihatlah, adiknya itu malah asik pacaran di hadapannya, memuakkan.
"Serah gue dong! Gue kan cuma nyanyi, tiba-tiba keinget lagu itu, Papa pernah nyanyiin itu!" sahut Jacob tak mau kalah.
"Raiz, lo rencananya kalau udah nikah mau bawa Jill kan?" tanya Jacob pada Raiz, dia semakin gencar mengompori.
Raiz dengan tenang mengangguk, "Iya, meski sederhana kayaknya aku mau ngajak Jill tinggal di rumah!" jawab Raiz.
"Rumah? Lo udah punya rumah?" tanya Jacob antusias.
Raiz mengangguk lagi, "Alhamdulillah udah, meski kecil tapi cukuplah kalau untuk ditinggali kami nanti!"
"Wah gila! Keren keren, selain jadi guru BK emang apaan kerjaan lo?" Jacob semakin gencar mewawancarai Raiz.
"Aku dagang, ada toko online dan offline juga, lumayan lah hasilnya!" Raiz jujur saja. Sementara Jill terperangah, ia kira Raiz hanya mengandalkan gajinya sebagai guru BK, tapi sekalinya dipikir-pikir, memang gak mungkin sih, tau sendirilah sekarang gaji guru berapa meski Raiz bekerja di SMA Swasta sekalipun.
Jacob antusias mengangguk, "Beneran cakep adek gue, mantap selera Lo Jill, gue dukung!"
Sementara Jio, terlihat muka sinisnya, dia tidak suka Jacob membanggakan Raiz di hadapannya, "Biasa aja!" ujarnya nimbrung.
"Lo ada liat orang nggak sih Raiz?" tanyanya pada Raiz.
"Udah lah Bang Jack, udah makin panas nanti!" lerai Jill.
"Panas? Mana ada makin panas, orang adem gini, AC selalu on!"
Dibilangin bukannya berhenti malah semakin menjadi, kalau sudah gini ya cuma Papa ganteng yang bisa nengahin, batin Jill menggerutu.
Namun siapa sangka, Jio malah bangkit dan berlalu pergi meninggalkan mereka, Jill mend*sah berat, sepertinya Jio memang tidak mudah untuk mengubah perasaannya. Dia juga tidak mengerti mengapa rasa suka itu bisa hadir dalam diri Jio mengenai dirinya, bukankah tidak akan mungkin jika saudara kandung memiliki perasaan yang tidak normal begitu, dia saja meski sering cemburu karena Jio didekati oleh gadis-gadis dulunya namun Jill hanya merasa gadis-gadis yang mendekati Jio bukanlah gadis yang tepat dan Jio terang-terangan mengatakan tidak menyukai, sehingga dia tidak bisa membiarkan itu, jika nantinya Jio memiliki seorang gadis yang di rasa cocok untuknya tentu saja Jill akan mendukung penuh untuk itu.
"Yo!" seru Jill, namun Jio menghiraukan panggilannya.
"Yah ngambekan! Padahal gue mau berantem!" keluh Jacob.
"Abang ah gitu mulu!" protes Jill.
"Ay, Jio itu biasanya emang kayak gitu ya?" tanya Raiz memastikan apa yang dikatakan Misca perihal Jio tadi memang benar, mungkinkah Jio cemburu akan kedekatannya dengan Jill, tapi mana bisa begitu.
"Haaahhh! Jio itu cuma ngerasa bakalan kehilangan aku kalau aku sampai jadi istri kamu!" dusta Jill, yang lebih memilih menutupi kebenarannya.
"Ohhh! Wajar sih, kalian udah sama-sama dari perut Mama!" ucap Raiz turut prihatin, karena di sini nantinya dialah yang akan mengambil Jill dari Jio, ternyata ada saudara kembar yang benar-benar dekat seperti Jio dan calon istrinya ini, pikir Raiz mencoba memahami.
Padahal tidak tau saja dia bagaimana Jill berusaha untuk mengingatkan Jio bahwa mereka adalah saudara kembar, Jio bahkan hampir mengambil ciuman pertamanya waktu itu.
Bersambung...