Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Ungkapan perasaan Winda.



"Silakan masuk?" ujar Raiz, Winda mendatangi ruangannya dengan wajah yang sulit diartikan. Seperti menatapnya menyelidik, namun seingat Raiz dia tidak memiliki riwayat kesalahan apapun yang dilakukannya dengan Winda.


"Saya mau bicara Pak!" ujar Winda, tidak biasanya bicara begitu formal, Raiz mengkerutkan keningnya, meski menurutnya itu lebih baik namun tidak bisa dipungkiri dirinya ikut bertanya-tanya ada apa dengan Winda.


"Silakan duduk!" Raiz duduk di kursi kerjanya, mempersilakan Winda untuk duduk di hadapannya.


Winda masih menatap Raiz menyelidik, jelas sekali matanya mengisyaratkan kekecewaan, tidak percaya dengan apa yang akan ditanyakannya ini.


"Ada apa Bu Winda?" tanya Raiz.


Winda memutus pandangannya, lalu tangannya beralih mengambil sesuatu dari map coklat yang dirinya bawa, dengan gemetar meletakkan sesuatu itu di meja kerja Raiz lalu berhasil membuat Raiz tercengang.


"Bisa Pak Raiz jelasin?"


Raiz terdiam, ia sedang memikirkan apa yang akan dirinya katakan sebagai jawaban, karena karirnya mungkin saja sedang dipertaruhkan.


"Saya memang sudah menikah!" jawab Raiz santun mencoba biasa saja, supaya tidak terlalu kentara kalau dirinya sedang gugup.


"Saya menemukan ini pagi-pagi sekali, entahlah selain saya, ada atau tidak orang lain yang melihat!" tutur Winda.


"Pak Raiz dengan Jilly? Bukan sebatas orang yang ditugaskan oleh Tuan Jason untuk menjaga Jilly? Bagaimana jika selain saya ada orang lain yang mengetahui!"


"Tidak akan ada yang mengetahui?"


"Saya sarankan Pak Raiz berhenti dari pekerjaan ini, saya sakit saat mengetahui ini tapi rasanya saya juga tetap tidak bisa untuk mengabaikan! Ini jelas sekali, ada orang yang tidak menyukai Pak Raiz dan Jilly!" lanjutnya.


Raiz mengambil foto yang tergeletak di mejanya, foto pernikahannya dan Jill, sederhana namun itu memanglah sebuah bukti bahwa dirinya dan Jilly benar-benar adalah pasangan yang sah. Ia menatap Lamat foto itu, entah siapa yang melakukannya tapi yang jelas keberadaannya dan Jill benar-benar tidak aman lagi di sekolah ini.


"Nanti akan saya bicarakan terlebih dahulu pada Jill!"


"Pak Raiz bisa melihat dari cctv pagi ini, pasti bisa mengetahui siapa yang melakukan ini, saya berharap benar tidak banyak yang melihat ini selain saya!"


Raiz menatap Winda dengan senyuman, tidak percaya bahwa Winda yang malah menolongnya kali ini, bukankah Jilly dan Winda adalah dua orang yang sama kerasnya dan tidak bisa disatukan.


"Kenapa melakukannya?" tanya Raiz. Berikan dia alasan mengapa Winda bisa peduli padahal jelas sekali wanita itu juga tengah menatapnya kecewa saat ini, dan itu tidak main-main.


"Pak Raiz adalah cinta pertama saya, saya selalu mencari perhatian Pak Raiz selama ini, semenjak Pak Raiz bergabung di sekolah ini saya sudah jatuh cinta sama Pak Raiz, jika ditanya kenapa bukankah akan sangat tidak normal jika saya tidak jatuh cinta dengan Pak Raiz yang memiliki sejuta pesona." ungkap Winda.


"Melihat kenyataan ini pagi tadi, saya benar-benar berpikir sebelum memberitahukan ini pada Pak Raiz, kecewa saya sepertinya begitu besar, tapi nyatanya masih tidak bisa mengalahkan betapa banyaknya cinta saya! Saya peduli bukan karena Jilly ataupun pernikahan Pak Raiz, saya peduli karena saya tidak mau terjadi sesuatu dengan Pak Raiz, saya yakin Pak Raiz menikah dengan Jilly tentulah berdasarkan suatu alasan, entah itu paksaan ataupun karena cinta, saya tidak ingin mengetahuinya karena mungkin saya pun tidak akan siap untuk me dengar alasannya."


"Tapi, begitupun yang terjadi pada saya, cinta kadang bisa membuat orang menjadi bodoh, bertindak diluar dugaan, bahkan bisa-bisanya peduli pada hal yang menyakitkan sekalipun, seperti apa yang tengah saya lakukan ini. Saya hanya tidak ingin citra Pak Raiz menjadi buruk karena hal ini, jadi saya memutuskan untuk melangkahkan kaki saya menemui Pak Raiz di sini, dan berharap Pak Raiz bisa melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nama Pak Raiz sendiri, karena saya sebagai orang yang mencintai Bapak, hanya bisa melakukan ini!"


Entah apa yang harus Raiz katakan untuk memberikan tanggapan pada Winda yang mungkin secara tidak langsung tengah menyatakan perasaan, dia sudah lama mengetahui kalau Winda menyukainya namun wanita itu juga tidak pernah menyatakan perasaan padanya selama ini, dan ketika ungkapan itu keluar dari mulut wanita itu sayangnya sudah sangat terlambat.


"Terimakasih!" ucap Raiz.


"Meski cinta, tapi saya juga tidak punya nyali untuk menjadi pelakor, entahlah bagi saya semua ini terlalu tiba-tiba!" Winda menggelengkan kepalanya tidak percaya, sungguh... Ini benar-benar menyakitinya!


"Tapi saya bisa dipercaya Pak Raiz, jika berita ini tersebar nantinya percayalah itu bukan karena saya, saya akan sebisa mungkin menjaga rahasia, jadi saya sarankan diantara kalian berdua harus ada yang mengalah, entah Jilly atau pun Pak Raiz yang keluar dari sekolah ini!" ucapnya lagi, mengatakan dengan sangat penuh keyakinan pada Raiz.


"Saya mengerti! Saya akan secepatnya membuat keputusan, sekali lagi terimakasih Bu Winda!" ujar Raiz, hanya sebatas itu yang dirinya bisa lakukan, dalam hati tentunya sangat bersyukur bisa mengenal orang seperti Winda, dan berdoa semoga saja wanita itu diberikan pasangan yang tepat suatu hari nanti.


Bersambung...