
"Ay, kamu beneran?" tanya Jill lagi, untuk kesekian kalinya ia meyakinkan Raiz, dia benar-benar takut suatu hari nanti Raiz menyesali keputusan yang telah mereka ambil.
Raiz mengangguk pasti, dia hanya bisa berharap keputusan yang dirinya ambil bisa menyelesaikan semua masalah.
Keduanya sedang menginap di rumah utama, Raiz baru saja mengatakan keputusan tentang bagaimana menyikapi pernikahan mereka. Besok Raiz akan berhenti dari sekolah itu, begitupun Jill, keduanya berencana untuk menetap di Bandung.
Jason memberikan sebuah tanggung jawab untuk Raiz. Raiz akan mengelola salah satu perusahaannya yang bergerak di bidang fast food, jadi tentunya Jill juga tidak akan tinggal di Pondok, mulai kepindahannya Jill juga akan diikutkan home schooling, Jason harus lebih mengerahkan perhatian, takut saja kalau pernikahan Jill dan Raiz akan ketauan lalu menjadi konsumsi publik.
Dia memang bisa mengatasi semua itu kalau memang nantinya harus terjadi, namun rasanya Jason tidak mau mengotori tangannya lagi dan lagi, perihal keluarga, kadang sulit sekali Jason untuk menahan diri.
Raiz juga sudah memberitahukan kedua orang tuanya tentang kepulangannya ke Bandung, terdengar sambutan yang begitu baik kala Raiz mengatakan akan membawa serta Jill bersamanya. Sayang sekali Raiz harus menolak kala Ummi Hana menanyakan apakah mereka akan tinggal bersama di Pondok. Semua itu Raiz lakukan demi kebaikan Jilly, belum saatnya banyak orang mengetahui kalau mereka sudah menikah.
"Kamu juga, apa nggak keberatan?" tanya balik Raiz, pasalnya istrinya itu mulai akan berjauhan dari orang tua.
Jill menggeleng pelan, "Nggak papa, Bandung Jakarta itu nggak begitu jauh kok, aku malah pernah tiga bulan tinggal di Turki, nggak dijenguk sama sekali!" jawab Jill beralasan.
Sebenarnya terbesit ketakutan saat dirinya nanti harus berjauhan dengan kedua orang tuanya, tapi tak apalah, semua ini demi pernikahannya dan Raiz, untuk sekarang sepertinya Jill tidak bisa untuk berjauhan dengan Raiz ketimbang dengan Papa ganteng.
...***...
Roy baru saja keluar dari ruang kerja Jason, kemudian dia langsung diberondong pertanyaan oleh Shirleen.
"Apa keputusannya? Apa anak itu mau?" sergah Shirleen.
Roy mengangguk, namun hal itu malah membuat Shirleen semakin frustasi.
"Aisshhh, bagaimana bisa dia harus hidup berjauhan seperti ini, lagi, katakan apa lagi rencana suamiku itu?" tanya Shirleen lagi.
"Maaf Nona..."
"Ada yang kau butuhkan By?" tiba-tiba saja suara mengagetkan memecah kekhawatiran Shirleen, wanita itu mendongak, terlihat Jason yang tengah menatapnya dengan penuh arti.
"Tuan..." gagap Roy, yang juga tidak menyadari kehadiran Jason.
"By..." rengek Shirleen.
"Kau bisa menanyakannya langsung padaku, kenapa juga harus menyergap Roy seperti ini?"
"Aku..."
"Ya Tuan!"
"Pulanglah, akan aku jelaskan sedetil-detilnya pada istriku!"
"Baik Tuan!"
Roy segera menjauh dari pasangan tergila menurutnya itu, dia gegas untuk pulang jangan sampai menambah masalah.
"Apa saja yang ingin kau ketahui By?" selidik Jason.
Shirleen memberengut kesal, kalau saja tadi siang Jason tidak seperti merahasiakan apapun padanya tentu saja Shirleen tidak akan bertindak sejauh ini. Sudah tau memiliki suami pencemburu gilak, bukan kah meskipun itu Roy, tetap saja biasanya tidak termaafkan.
Tap!
Jason malah langsung menggendong Shirleen ala bridal, membawa istrinya itu menuju lift, dirinya berniat untuk melakukan sesuatu pada Shirleen di kamar.
"By, lepas!" protes Shirleen.
"Shuutttt!"
"By... Tapi kan cuma Roy!" keluh Shirleen.
"Asshhhh, jadi cuma Roy, beraninya bilang 'cuma'!"
"Tapi By..."
"Diam!" gertak Jason tak mau kalah.
"Huh, dasar cemburuan, aku kan cuma nanya, apa salahnya?" kesal Shirleen.
"Kau bisa menanyakannya padaku By, mengapa harus bertanya pada Roy, jadi... Apa yang ingin kau ketahui, aku akan memberikan berita ekslusif, kalau mau tanya apapun tanya saja padaku!" gerutu Jason. Dia lumayan kesal.
"Dasar gilak!" Shirleen bertambah kesal seraya meronta" di gendongan Jason.
Bersambung...