
Menikahinya saja sudah cukup bagiku, tapi sepertinya keterkejutanku akan betapa istimewanya dirimu tidak cukup hanya sampai betapa bahagianya aku menikahimu!
Kau bukan hanya istimewa, tapi istri luar biasa!
^^^Raiz.^^^
___
"Gimana kabar kamu sayang?" tanya Shakira saat sudah bertemu dengan Jilly dan Raiz. Hari sudah sore, ditambah lagi turun hujan, Shakira agak terlambat datang menemui putrinya itu.
"Baik, aku baik kok Bun!" jawab Jill.
"Raiz gimana?" tanyanya beralih pada pria di samping Jilly.
"Baik juga Bun! Apa Bunda pergi sendiri?" tanyanya karena tidak melihat Shakira di temani siapapun.
"Bunda sudah terbiasa sendiri!"
Mungkin orang mengira Roy adalah lelaki yang tidak pengertian saat mendengar jawaban Shakira yang seperti itu, tapi Shakira memang tidak nyaman jika pergi di temani siapapun kecuali Roy, dan karena Roy tidak bisa menemaninya dia lebih baik pergi sendiri. Lagi pula dari masih gadis sampai saat ini pun tidak ada yang dirinya takutkan.
"Ah ya, langsung saja! Ini yang kamu minta semalam!" Shakira memberikan sebuah flashdisk pada Jill, karena Jill memang memintanya untuk mencarikan info mengenai keberadaan Anisa.
"Sudah ada?" heran Raiz, entah kapan Jill meminta sesuatu pada Bundanya pun Raiz tidak tau.
"Bunda tidak akan menjelaskan, di sana sudah lengkap bahkan Bunda sudah mengurus semuanya, sebentar lagi Anisa akan pulang, tapi maaf Bunda tidak bisa mencegah sesuatu terjadi padanya!"
Pagi tadi, karena putrinya semalam meminta bantuannya, Shakira langsung saja mengubungi Darwin untuk segera bertindak, Darwin sudah mengurus segalanya bersama Ben, Anisa ditemukan di sebuah kos-kosan sederhana bersama seorang pemuda yang menurut Shakira pastilah ayah dari bayi yang dikandung Anisa.
Pemuda itu juga sudah dilaporkan oleh Ben, atas kasus penganiayaan karena terbukti di beberapa bagian tubuh Anisa yang mengalami luka-luka dan lebam. Untuk itu juga rencananya besok Anisa akan melakukan visum untuk semakin menguatkan hukum untuk menjerat pidana pacarnya yang bernama Aryo itu.
Namun sebelum itu, Ben dan orangnya yang menyamar juga sudah memulangkan Anisa, mereka akan menjelaskan pada keluarga Anisa bagaimana tekanan yang dihadapi anak mereka.
"Maksud Bunda?"
"Jilly tetap harus menjadi saksi, mengatakan bahwa Jill yang melihat pertama kalinya Anisa bertengkar dengan Aryo, lalu kalian berikan saja apa yang ada di flashdisk ini, kalau pihak kepolisian bertanya dari mana kalian mendapatkannya katakan saja nama Ayah, mereka bisa mengerti!" jelas Shakira.
Raiz gemetaran, secepat itu? Tidak sampai satu hari, semalam mereka pergi ke rumah Anisa namun hari ini malah sudah selesai urusannya, bahkan dia tidak melakukan apapun.
"Ihhh, Bunda emang terbaik kan, apa aku bilang!" puji Jill.
"Bunda? Apa Bunda seorang agent rahasia?" tanya Raiz, pertanyaan itu meluncur lancar saja keluar dari mulutnya.
Shakira tersenyum ramah, wanita dengan penampilan menolak tua itu tergelitik akan pertanyaan Raiz.
"Anggap saja begitu jika kamu berpikirnya seperti itu!" jawabnya.
"Whoaaa, Bunda saja selama ini tidak pernah mau jujur? Bunda, apa benar begitu?" tanya Jill antusias, karena semenjak ia kecil selalu penasaran apa pekerjaan Bundanya ini. Namun tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Jilly, Bunda hanya diberikan kelebihan yang harus Bunda manfaatkan sebaik mungkin, Bunda tidak bilang begitu!" ujar Shakira.
"Jadi Bunda bukan agent?"
"Tapi Papa tidak pernah melakukan apapun?" heran Jill. Raiz juga, sungguh dia baru mengetahui bahwa keluarga istrinya benar-benar sehebat ini.
"Itu karena Papa bisa menjaga rahasianya, bukan hanya Bunda, Ayah pun juga belajar semua kemampuan khusus semacam ini dengan Papamu."
"Tapi Bundaku juga tak kalah hebat!" puji Jill sekali lagi, karena dari dulu dia selalu meminta bantuan Bundanya, jarang sekali melibatkan Ayah atau bahkan Papanya. Selama ini Jill hanya menganggap Ayah dan Bundanya lah yang hebat, sedang Papanya hanya seseorang yang memiliki kekuasaan, namun ternyata Papanya adalah otak dari semua keanehan ini.
Shakira tersenyum kemudian mengelus puncak kepala Jill, ia ingat betul mengapa anak ini sampai menjadi anak angkatnya, kalau saja Jill mengetahui alasan dibalik semuanya, tentulah menandakan selama ini dirinya bukanlah orang yang baik.
"Semoga anak Bunda selalu sehat..." ujarnya sembari mengelus kepala Jill.
"Ah ya, apa Jill sudah dengar dari Papa atau Mama?" tanya Shakira.
"Belum! Dengar apa?" tanya Jill. Raiz menyimak.
"Jio sebentar lagi juga menikah!" beber Shakira.
"Apa?"
"Hah?"
"Irian banget itu anak, tapi baguslah!" ujar Jill, ia terkejut namun setelah berpikir ulang, bukankah lebih bagus jika Jio juga menikah, tapi dengan siapa kembarannya itu menikah, bukankah Jio tidak pernah dekat dengan gadis manapun selain dirinya.
"Tapi sama siapa Bun?" tanya Jill lagi.
"Sama Celia, anaknya Om Afik!" jawab Shakira.
"Apa?" kali ini Jill benar-benar terkejut, tidak mungkin, Jio dan Celia adalah dua anak manusia yang memiliki sifat bertolak belakang, Celia yang rame, heboh, lumayan gersek namun teguh pada prinsip itu bagaimana bisa disandingkan dengan Jio yang dingin, sadis, jarang ngomong tapi sekalinya ngomong suka nyakitin, dan satu lagi sifat Jio yang tentunya akan sangat disayangkan, Jio itu tukang maksa.
"Iya, kamu pasti terkejut kan? Bahkan nikahnya nanti minggu depan, kalau Papa belum ngasih tau berarti masih nyangkut beritanya!" lanjut Shakira, "Baru juga sih, pertemuan keluarga baru diadakan kemaren, katanya sih Jio emang cinta gitu sama Cel, padahal Bunda nggak pernah liat Abang Jio gandeng cewek lho!" ujar Shakira antusias, dalam sebulan ini bahkan dia akan mendapatkan mantu dua dengan tempo waktu yang berdekatan, tidak menyangka kalau kedua anaknya ini akan mengikuti jejak Tuan mudanya yaitu menikah muda.
Mendengar itu, Jill seperti tidak yakin, bahkan Jio dan Cel adalah sesuatu yang tidak mungkin, bagaimana bisa keduanya bersama.
Mungkinkah ada sesuatu dibalik rencana pernikahan ini, mungkinkah Jio menyembunyikan sesuatu dari semua orang, apa sebenarnya yang Jio rencanakan, Jill benar-benar tidak bisa menebak mengapa Jio harus menikah dengan Celia, bahkan pernikahannya terbilang sama seperti dirinya, begitu cepat.
"Jill kok bengong?" tanya Raiz.
"Eh?"
"Kamu mikirin Jio ya?" tebak Shakira.
"Bukan gitu Bunda, emang benar kata Bunda, aku juga sama nggak pernah liat Jio gandeng cewek, jadi agak terkejut aja gitu Bun!" aku Jill.
"Haaahhh!" Shakira menghela napasnya pelan, "Nanti saja deh, Bunda tanyain sama Ayah ya, kok buru-buru gitu, Bunda belum ada ngomong sama Ayah, Ayah berapa hari ini lumayan sibuk, harus merangkum beberapa data dari anak perusahaan induk, soalnya kan bentar lagi ultahnya ARAD Group, ah iya Raiz..." Shakira beralih pada Raiz, lalu ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Papa kalian titip ini tadi saat tau kalau Bunda bakalan nemuin kalian!" ujarnya memberikan kartu undangan resmi ulang tahun ARAD Group yang ke 20 tahun yang ditujukan untuk keluarga Raiz di Bandung.
Raiz dengan tangan gemetaran menerimanya, seketika hidupnya berubah, bahkan tidak pernah terbayangkan kalau dia dan keluarganya akan bisa menghadiri acara penting seperti ini. ARAD Group! Siapa yang tidak mengenal perusahaan besar yang memiliki anak di mana-mana itu? Dan dia, sekarang menjadi menantu pendiri perusahaan itu, ini gila!
Bersambung...