Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Pak Raiz serius nggak kenal aku?



Saat mataku dan matamu tiba-tiba saja bertemu, dan dengan gilanya aku merasakan reaksi berlebihan dari tubuhku. Itulah alasan aku tidak bisa tidur di malam yang tak terhitung jumlahnya.


^^^Raiz.^^^


___


Malam harinya,


Jilly merasakan kegelisahan yang luar biasa. Malam ini adalah malam pertunangan Raiz dengan seorang wanita yang bernama Aliyah.


Itu artinya dia benar-benar akan kehilangan Raiz, dan benarkah apa yang dikatakan Papanya tadi, bahwa ada baiknya ia melupakan.


Tapi, rasanya Jill tidak bisa semudah itu memutuskan, karena dia benar-benar menyukai guru BK-nya itu, ah bukan... Lebih tepatnya sudah mencintai.


Jill yang saat itu tidak bisa menahan rasa kesalnya, dengan tanpa pikir panjang lagi menghubungi Raiz.


___


Raiz merasakan hidup yang bukan miliknya, tanpa ingin kedua orang tuanya mengetahui kalau hatinya merasa begitu terpaksa, namun sayangnya dia tidak bisa mengatakan tidak, selama dua puluh empat tahun Raiz hidup, sebisa mungkin dirinya menjadi anak yang penurut.


Jadi, malam ini Raiz juga berusaha menahannya sendiri demi yang katanya bisa membahagiakan kedua orang tuanya.


"Kamu udah siap?" tanya Ummi Hana, mereka sudah berkumpul di ruang keluarga rumah Aliyah, tinggal menunggu kedatangan Aliyah yang saat ini sedang dijemput di kamarnya, yang akan diperlihatkan pada Raiz.


"MasyaAllah cantiknya anak Ummi!" puji Ummi Hana.


"Raiz dia cantik banget! Kamu kayaknya benar-benar cocok sama Aliyah!"


Raiz enggan melihat ke arah Aliyah, di saat seperti ini entah kenapa pikirannya malah terus saja tertuju pada Jill. Meski enggan mengakui, namun Raiz juga tak pelak berpikir bahwa mungkinkah dia sudah jatuh cinta pada murid bar-barnya itu.


"Raiz!" tepukan di pundaknya menyadarkan Raiz dari lamunannya tentang Jill. Ia tersenyum ramah pada semua orang.


"Raiz kamu kok gitu? Kayak ada beban? Kau kenapa sih?" bisik Ummi Hana yang merasakan kecurigaan pada Raiz, ia takut saja kalau anak bungsunya itu sebenarnya terpaksa menerima ta'aruf ini.


"Nggak papa Ummi!" jawab Raiz.


Lalu akhirnya Aliyah duduk tidak jauh darinya, sekilas Raiz memandang namun hanya sekilas saja, selain tidak diperbolehkan untuk berlebihan hal lainnya juga karena Raiz sama sekali tidak tertarik.


"Jadi bagaimana Nak Aliyah? Apakah kiranya Nak Aliyah bersedia menjadi istri dari putra bungsu kami, Raiz Hanif Al-Haaqi?" tanya Kyai Ahmad, saat acara sudah berlangsung dan hampir mencapai puncak.


"Aliyah bersedia Kyai!" jawab Aliyah begitu jelas, akhirnya semua yang diinginkannya kini tercapai sudah.


"Baiklah kalau begitu, Raiz juga sudah menyetujui dan Nak Aliyah juga sudah menyetujui, semoga langkah awal ini bisa membawa keluarga kita semua mencapai kebaikan. Amin!


Raiz kemudian mengucapkan doa untuk memantapkan hatinya saat lamarannya sudah selesai berlangsung, Ya Allah, jika Engkau melihat kebaikan antara diriku dan Aliyah untuk agama dan akhiratku, maka takdirkanlah aku bersamanya. batinnya dalam hati.


Keluarga sedang berbincang santai, Aliyah duduk sedikit jauh darinya, tidak... Lebih tepatnya Raiz lah yang menghindar, dia ingin sekali segera pulang ke rumah, namun lagi-lagi sayangnya Raiz merasa tidak bisa jika melakukan itu, bagaimanapun ia harus menghargai keluarga Aliyah dan keluarganya.


Saat sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba saja ponselnya bergetar, Raiz melihat sebuah nomor baru menghubunginya, jadi Raiz mengabaikan panggilan itu.


Namun, sudah berapa kali ia mengabaikan sayangnya siapapun di seberang sana juga sepertinya enggan menyerah, jadi Raiz memutuskan untuk mengangkatnya saja barang kali memang ada sesuatu yang penting.


"Hemmm!"


^^^"Apa sudah selesai acaranya?"^^^


"Hah? Ini siapa?"


^^^"Pak Raiz serius nggak kenal aku?"^^^


Bersambung...