Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Dinner.



"Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Jill heran, dari tadi kalau ditanya Raiz hanya menanggapinya dengan senyum, tidak berniat menjawab.


Jill heran, mereka keluar hanya menggunakan piyama saja, ia pikir Raiz mungkin mengajaknya untuk makan di warung pinggir jalan, namun sudah berapa kali mereka melewati warung pinggiran bahkan Raiz tidak berniat untuk menghentikan mobilnya.


"Mau makan? Kemana? Makan di mana?" tanya Jill lagi.


Tapi, lagi lagi Raiz masih tidak menjawab, yang ada malahan Raiz mengambil satu tangan Jill untuk digenggamnya erat.


"Apaan sih Ay?" heran Jill, menurutnya tingkah Raiz lumayan aneh malam ini.


Sekitar setengah jam berlalu akhirnya Raiz memberhentikan mobilnya di pelataran sebuah hotel, cukup mewah, seketika jantung Jill langsung berdebar karena pemikirannya bahkan langsung saja tertuju pada sesuatu.


Apa dia... Ahhhh, bagaimana ini, kemarin aku begitu penasaran tapi jika seperti ini keadaannya, aku harus apa?


"Kau kenapa? Tidak mau turun, kita sudah sampai!" tanya Raiz, ia gemas sekali saat melihat ekspresi terbengong-bengong Jill, menebak apa yang saat ini tengah istrinya itu pikirkan dan Raiz hanya bisa menggeleng pelan seraya tersenyum penuh arti.


"Ay... Tapi..."


"Ada apa?" tanya Raiz lagi, semakin gencar menggoda.


Raiz turun, kemudian dia membukakan pintu untuk Jill dan membantu istrinya itu turun, sepertinya Jill mulai tegang, Raiz bisa merasakan lain di wajah Jill, tidak begitu bersemangat seperti saat mau keluar rumah tadi.


"Aku menginginkanmu!" bisik Raiz seraya membawa Jill untuk menghimpit tubuhnya, entahlah menggoda Jill adalah hal yang sepertinya begitu dirinya inginkan lagi dan lagi.


"Haahh..." gugup Jill, wajahnya jelas memerah.


Bahkan Jill tidak begitu menyadari saat Raiz menggenggam tangannya dan lalu membawanya berjalan beriringan.


Keduanya masuk ke dalam hotel itu, lalu Raiz dan Jill pergi menemui seseorang.


"Aku ingin kalian melakukan yang terbaik!" ujar Raiz pada beberapa orang yang ditemuinya.


Beberapa orang itu mengangguk dan lalu membawa Jill, Jill langsung saja bertanya pada Raiz mengapa dia harus pergi, namun Raiz hanya menjawab dengan anggukan, mengisyaratkan Jill untuk menurut saja.


...***...


Lima belas menit berlalu, Jill telah selesai dengan balutan gaun muslim yang cukup mewah, wajahnya dirias natural namun berkelas, semakin menambah kadar kecantikan seorang Jilly Almas Putri Adrian. Raiz sudah menunggunya di depan pintu, tersenyum hangat padanya.


"Kenapa nggak bilang sih, cuma mau ngajak makan malam aja pake rahasia-rahasiaan segala!" gerutu Jill, mengatakan itu hanya untuk meminimalisir kecanggungan.


Sebenarnya dia sudah cukup mengerti, mungkin juga malam ini akan menjadi malam bersejarah baginya dan Raiz, tapi Jill tetap saja harus mencoba untuk tenang.


Yah! Tenang Jill, meski ini jantung rasanya sulit banget ngertiin gue, sialan gue baper kan...


"Kamu menyiapkan semua ini Ay?"


Raiz mengangguk, "Kamu suka?" tanya balik Raiz.


Jill mengangguk mantap, "Kamu romantis!" pujinya.


"Masih terus belajar, baguslah kalau kamu suka!"


Raiz menarik kursi dan mempersilahkan Jill duduk, sebenarnya dia cukup canggung, apa lagi malam ini Jill benar-benar hampir sempurna jika ditilik dari penampilan, Raiz bahkan tidak percaya bisa punya istri secantik Jill.


Keduanya kemudian memulai makan malam romantis itu dengan sesekali melempar canda, sebisa mungkin menetralkan rasa canggung meski pada akhirnya tetap tidak bisa. Apa lagi Jill, setiap detik waktu bergulir, dirinya malah lebih tertarik memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah mereka makan malam.


"Kamu kapan mulai suka sama aku Ay?" tanya Jill saat mereka sudah selesai dengan makan malam.


"Aku?"


"Iya, bukannya di awal-awal kamu itu tegaan banget sama aku, kek nggak tersentuh juga!"


Raiz mencoba berpikir ke belakang, dan benar dia juga mengakui itu, rasanya dulu dirinya memang super tega.


"Apa karena seringnya aku gombalin?" goda Jill.


"Hah? Ya nggak lah!" jawab Raiz cepat.


"Jadi kapan?"


"Kamu mau tau?"


Jill mengangguk lagi, dia juga cukup penasaran.


"Hemmm... Aku jatuh cinta sama kamu yang udah berani banget!" jawab Raiz, dia juga tersenyum membayangkan apa yang nanti akan menjadi jawabannya.


"Berani apa?"


"Cium aku!" jawab Raiz, matanya menyipit saat mengatakan itu, sedikit malu tapi juga suka.


Meski dia tidak bisa memastikan sejak kapan tepatnya dia mulai menyukai Jill sebagai seorang wanita, namun saat yang paling membuatnya berdebar adalah saat Jill sudah dengan berani menciumnya, saat wanita itu sedang bersembunyi di bawah mejanya. Meskipun, ciuman itu terjadi karena tidak sengaja, tapi jujur saja ciuman itulah yang bisa memperjelas bagaimana perasaannya terhadap Jill.


"Hah?" bingung Jill, dan yah astagah dia baru sadar kalau ternyata demi Raiz dia bahkan bisa seberani itu.


Bersambung...