
Gimana gue mau menghindar, kalau otak gue malah mikirin dia mulu, denger suara dia mulu di mana-mana, semacam dia lagi dia lagi!
^^^Jill.^^^
___
"Kak Jill, itu yang di belakang Kakak kok nyeremin amat!" sindir Celia kala melihat Jio yang seolah bagai pengawas saja di belakang Jill.
Jio memaksa ingin ikut, meski semalam dirinya sempat marah pada Jill namun tetap saja rasanya ia tidak bisa jika berjauhan dari saudara kembarnya itu.
"Emang iya?"
"Ho'oh! Ngapain di ikut sih Kak?" tanya Celia.
"Dia maksa!" jawab Jill singkat sembari berbisik, ia tidak berani terlalu meledek Jio, takut saja kembarannya itu masih marah padanya.
"Heran deh, dinginnya minta ampun udah kek es batu!" gerutu Celia.
"Jangan gitu Cel, nanti kamu naksir lho!" ledek Jill.
"Gue?" tunjuk Celia pada dirinya sendiri, "Naksir dia? Hiii amit-amit dah punya pacar kek gitu, bisa beku mendadak Kak gue!" keluh Celia.
"Yakin nggak mau?"
"Hiii enggak lah, ngembayanginnya aja gue nggak berani! Nah merinding kan gue Kak, Kak Jill sih!" kesal Celia, karena benar sekali seketika bulu tangannya malah merinding karena merasakan aura menyeramkan dari seorang Jio.
Jill tergelak kecil, di belakangnya ada Jio yang menatap tajam Celia, karena sebenarnya dia pun juga mendengar apa yang dikeluhkan oleh Celia.
Gayanya nggak naksir gue, baru kali ini ada cewek yang bilang terang-terangan nggak suka sama gue!
Mana pake acara merinding segala itu tangannya, emangnya gue hantu apa?
"Kak Jill, itu Oliv!" ucap Celia kala melihat kedatangan Oliv yang baru saja keluar dari taksi. Keduanya pun langsung saja menuju Oliv diikuti Jio yang dari belakang.
"Udah lama ya kalian nunggu?" tanya Oliv.
"Belum kok!"
"Udah jamuran gue!"
Ucap Jill dan Celia bersamaan.
"Canda jamuran!" ucap Celia lagi.
"Maaf yaaa!" sesal Oliv.
"Udah nggak papa, yuk kita langsung aja, cari apa nih?" tanya Jill.
"Nggak papa, aku juga mau cari baju!" setuju Oliv, karena dia memang hanya membawa sedikit baju saat pindah, sebagian barang-barang mereka memang masih ditinggal di Jerman.
"Oh ya udah! Ayok!"
Ketiganya pun memasuki toko baju, Oliv dan Celia tampak antusias karena memang mereka ingin mencari sesuatu, sedang Jill hanya melihat-lihat saja dia sama sekali tidak tertarik untuk belanja.
"Sejak kapan lo doyan hal kek gini?" tanya Jio menarik tangan Jill untuk duduk di kursi tunggu yang telah disediakan toko baju branded yang disambangi mereka.
"Gue nggak doyan, gue cuma ngehargain mereka!" jawab Jill, yang lebih tertarik untuk melihat ke arah ponselnya.
"Udah tinggalin aja mereka, kita langsung nonton aja berdua, biasanya juga lo jalannya sama gue!" ajak Jio.
"Bentaran Jio... Makanya gue kan udah bilang tadi lo nggak perlu ikut!" gerutu Jill.
"Jill!"
"Apa sih Yo?"
"Yuk sama gue aja!"
"Eng..." Baru saja Jill akan menyahut, namun tiba-tiba saja telinganya yang peka akan suara seseorang yang beberapa hari ini mewarnai hidupnya itu mendengar sesuatu.
"Bentar!" ucapnya mengisyaratkan Jio untuk berhenti bicara.
"Apaan sih Jill, ayok!"
"Jio bentar, bisa diem dulu nggak!" bentak Jill.
"Yang kayak gini bagus deh, kayaknya cocok sama Aliyah! Kamu suka?"
"Ummi saja yang pilihkan, Raiz akan pakai apapun yang menurut Ummi cocok!"
"Tapi yang ini kayaknya juga bagus! Kamu cobain lagi yah!"
"Tapi Ummi..."
Jill semakin mendekat, semakin mendekati sumber suara, bahkan saat ini punggung seseorang itu sudah terlihat dan bisa disentuh olehnya.
Hingga kemudian,
"Brakkk!"
Bersambung...