
Jika mencintaimu adalah kesalahan, maka bisakah kita saling melupakan, karena jika kau masih berada di sekitarku, aku tidak akan berhenti begitu mudah!
^^^Jio.^^^
___
Jill sudah sampai di rumah utama, ia langsung saja masuk kamar untuk beristirahat, namun itu sungguh hanya angannya semata karena belum lima menit Jill merebahkan tubuhnya di ranjang, Jio sudah melenggang masuk ke kamarnya.
"Jiooo, bisa nggak sih ketuk pintu dulu, udah sering gue bilangin juga!" gerutu Jill.
"Baby, kamu kenapa nggak pulang kemaren?" tanya Jio yang juga langsung berbaring di ranjang milik Jill.
"Kan cuma telat sehari doang, lagian gue capek kali pulang sekolah sore terus udah langsung mau ke sini aja, buat apa Papa ganteng beliin gue Apart!" jawab Jill beralasan.
Tidak tau saja Jio kemarin sore bahkan Jill juga menyempatkan diri untuk pergi ke rumah Shakira. Awalnya Jill memang ingin langsung pulang ke rumah utama setelah dirinya menemui Bundanya itu sore kemarin, karena rumah utama dan rumah Ayahnya itu memang tidak begitu jauh, tapi karena melihat salinan tentang data pribadi Raiz yang mengatakan bahwa Raiz tinggal tidak jauh dari apartemennya, jadilah Jill memutuskan untuk kembali ke apartemen, jelas saja karena dia ingin segera menemui pujaan hatinya itu.
"Lo nggak bales chat gue, lo nggak ngangkat telpon gue, lo kenapa sih?" selidik Jio.
"Ya kenapa? Gue nggak papa! Kalau yang tadi itu gue belum bangun, gue nggak denger suara hape, lagian ngapain sih kek udah nggak ketemu gue setaon!"
"Baby, gue kan kangen!" manja Jio.
Jill mengusap pipi Jio manja, "Kan udah ketemu!"
"Papa tega banget sih, apa gue nginep di apartemen lo aja yah? Gue rela deh pergi sekolahnya dari sana aja!" ucap Jio yang lebih memilih cara merumitkan hidup.
"Yo!"
"Ahhh, Baby... Hiks hiks, gue kangen pengen peluk!"
"Yo! Apa lo nggak ada niatan mau pacaran?" tanya Jill, ia merasa perlu menanyakan itu.
"Apa? Lo tanya apa?" tanya Jio memastikan. Bukannya mereka sudah berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
"Gue tanya... Apa lo nggak mau pacaran?"
"Kan lo pacar gue!" ucap Jio pasti, selama ini tidak ada gadis lain yang bisa mengambil hatinya selain dari Jill. Saudara kembarnya itu sudah kelewat sempurna baginya, sudah pas sekali untuk dijadikan seorang pacar menurut versinya.
"Dih emangnya siapa yang mau sama lo?" Jill malah mengapit gemas rahang Jio, "Dasar ngaku-ngaku aja lo!"
"Gue serius!" tegas Jio.
"Hah?" Jill terheran, "Paan sih lo? haram tau nggak lo!" ucapnya kemudian, yang saat melihat ekspresi serius Jio. Jill mulai berpikiran mungkinkah Jio memang benar-benar menyukainya, tapi bukankah tidak mungkin, Jio adalah saudara kembarnya.
"Kan cuma pacaran doang, apanya yang haram? Kalau nikah baru deh haram!" ucap Jio ngasal.
"Heh, tapi sayangnya... Gue tetep nggak mau tuh jadi pacar lo!" Jill bangkit kemudian menuju walk in closet, ia ingin mengganti bajunya dengan yang lebih santai untuk dikenakan di rumah.
"Jill!" teriak Jio, "Lo nggak boleh bilang enggak!"
"Seraaahhh!" teriak Jill tak mau kalah.
Jio benar-benar merasakan perubahan Jill, dulu Jill-nya tidak seperti ini, selalu memperhatikannya, mereka sudah seperti orang pacaran saja, kemana-mana bersama, saling bercerita dan mendengarkan, saling memberikan perhatian, hingga Jio merasakan kenyamanan saat bersama Jill. Meski ia menyadari kalau Jill tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.
"Apa yang gue rasain ini emang nggak seharusnya ada... Tapi mengapa rasanya sakit saat dia sepertinya berubah?"
Bersambung...