
"Rasanya aku terlalu berharap banyak atau mungkin serakah jika memaksakan kita harus bersama. Maafkan aku yang pengecut ini!"
^^^Raiz.^^^
___
Raiz masih memikirkan apa yang tadi pagi Abi dan Umminya bicarakan, perihal menikah, rasanya Raiz juga belum mantap saat mengatakan bersedia.
Di tengah lamunannya, seorang anak tetangga datang menghampirinya di teras rumah.
"Ada apa?" tanya Raiz saat anak itu menghampiri.
"Ini untuk Kak Raiz!" ucap anak kecil itu.
"Apa ini?" tanya Raiz.
"Buka aja Kak Raiz! Aku hanya di suruh nganterin itu!" jawab anak itu malu-malu.
"Ya baiklah!"
Anak itu berpamitan, Raiz mengangguk menghargai. Kemudian ia mulai mengamati sebuah amplop yang baru saja anak tetangganya itu berikan.
"Ah gue lupa lagi nanyain dari siapa!" gumam Raiz penasaran.
Lalu tangannya dengan pasti membuka amplop tersebut untuk melihat isinya.
Seketika Raiz bingung dengan isi dari amplop tersebut karena banyaknya huruf yang tidak beraturan, ia mengamati secara detil dan menemukan sebuah tulisan di pojok kanan bawah, "Baca ini di depan cermin!" dikte Raiz.
Raiz tidak pernah diperlakukan begini, namun sepertinya dia bisa menebak siapa yang mengirimkan kertas itu padanya.
Raiz mulai menghadapkan kertas yang ternyata berisikan dua lembar itu menghadap cermin.
Bibir Raiz malah sudah melengkung sempurna kala sudah bisa membaca tulisan di kertas A4 yang dikirimkan untuknya itu yang bertuliskan, 'Untuk yang dari tadi ngelamun aja, aku cuma mau bilang!' lalu Raiz membuka lembar kedua, yang seketika berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat, 'Pak Raiz manis banget kalau lagi senyum gini!" dengan ditambahkan gambar tanda panah menunjuk ke atas, yang tentunya mengarah padanya.
"Sialan itu cewek, masa gue baper?" Raiz meraup wajahnya dengan tangan, ini semua pastinya perbuatan Jilly, ia bagai sudah bisa menebak itu meski belum tentu Jilly yang melakukannya, entah kenapa rasanya Raiz hanya bisa membayangkan Jilly saja yang bisa mengirimkan kertas gombalan itu padanya.
Raiz menetralkan kerja jantungnya, ia bahkan harus latihan pernapasan sebelum keluar kamar, kurang ajar sekali Jilly yang sepertinya sudah berhasil membuat wajahnya memerah bak tomat.
"Gawat gue nggak bisa berhenti senyum, sadar Raiz dia itu murid lo!" gumam Raiz sembari menarik napasnya berulang dan menepuk pelan kedua pipinya.
"Huuuhhh!"
Raiz membuka kembali pintu kamarnya, ia sedikit berlari kecil menuju keluar rumah dan memperbaiki penampilannya.
Benar-benar tanpa Raiz bisa memahami perasaannya yang nyatanya malah sudah berkeinginan untuk mencari keberadaan Jill, ia ingin melihat gadis itu, gadis yang sudah dengan berani mengobrak-abrik perasaannya yang mungkin saja tengah berada di sekitar rumahnya.
Dan sayangnya Raiz harus menelan kecewa, kala tidak bisa menjumpai Jill berkeliaran di sana.
"Udah lah, dia itu palingan cuma main-main doang, lo aja yang baperan!" Raiz mencoba menyadarkan perasaannya. Berharap rasa suka atas apa yang baru saja Jill perbuat padanya itu bisa segera sirna. Raiz mengingatkan lagi dirinya sendiri bahwa Jill tidak akan pernah bisa menjadi miliknya. Jason Ares Adrian, seumur hidup Raiz rasanya tidak pernah membayangkan jika dirinya harus mempunyai hubungan keluarga dengan penguasa itu, bukankah lebih baik jika dia mencari aman saja.
Raiz kembali ke teras rumah, ia duduk dan kemudian lagi-lagi memikirkan perkataan kedua orang tuanya, Menikah!
"Mungkin emang udah saatnya gue nikah, dengan gitu gue bisa ngenghalau perasaan yang gak jelas ini, dan Jill nggak bakalan bisa bilang suka lagi sama gue kalau ntar gue udah punya istri!" gumam Raiz yang memang tengah memikirkan kehidupannya.
"Yah gue bakalan setujuin aja!"
Bersambung...