Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Kamu udah siap Ay?



"Pindah?" kaget Jill, pindah ke mana? Pindah rumah?


"Emm, iya! Emmhh, sebenarnya cukup efektif sih!"


"Apa?"


"Tapi yakin kamu nggak bakalan setuju!"


"Hah? Jangan aneh deh, apaan sih?" selidik Jill.


"Pindah! Ke Bandung! Hehe, itupun kalau kamu mau!"


"Hah? Kok jauh amat, kenapa mikirin itu, kita kan lagi nyari solusi buat gimana nemuin si penyebar, atau nentuin siapa yang bakalan get out dari sekolah, kenapa sampai Bandung?" heran Jill tidak mengerti.


"Yaaa..." Raiz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebenarnya dia tadi hanya memikirkan sih mana tau langsung terucap begitu saja.


"Kamu mau pindah ke Bandung?" tanya Jill lagi.


Raiz menatap Jill, seketika pandangan keduanya bertemu, "Kamu mau?" lalu, pertanyaan itu juga meluncur begitu saja tanpa pertimbangan terlebih dahulu.


"Hah! Serius?"


"Eh!"


"Ay! Serius? Beneran?"


"Ya nggak tau juga sih, kalau kamu mau pindah sekolah, aku juga berhenti dari situ, gimana kalau kita pindah ke Bandung?" tanya Raiz mulai mengutarakan keinginannya.


"Ay, kok gitu? Jauh banget ngelencengnya, sejak kapan coba kamu ada niatan mau pindah ke Bandung segala?"


Masalah terbesar Jilly, yah bahkan lebih dari berpisahnya ia dari Raiz di sekolah itu, jika salah satu dari mereka harus mundur mungkin Jill masih bisa berpikir jernih, walaupun kalau dirinya yang pindah rasa cemburu terhadap Winda juga tidak yakin bisa dirinya tahan, namun Bandung! Itu adalah masalah terbesar Jilly, sejak memutuskan menikah Jilly benar-benar tidak bisa jika harus hidup dengan mertua. Apa lagi keluarga Raiz, bagaimana nanti dirinya menjadi mantu seorang Kyai, yang mengurus satu pondok pesantren, tinggal di sana, menjadi bagian dari sana, ngaji aja males?


Itu sama saja memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya diperlihatkan, bangkai busuk dibalik wajah cantiknya ini, tentunya akan sangat memalukan.


"Kamu keberatan Ay?" tanya Raiz.


"Eh, enggak! Eh iya!"


"Enggak apa iya?" tanya Raiz lagi.


"Iya!" Jill memutuskan untuk jujur saja, dari pada dirinya buruk di hadapan mertua, lebih baik buruk di hadapan suami, selesaikan saja semuanya hari ini, akui saja keburukan itu.


"Kenapa? Jauh dari Papa Mama?"


"Emmm, kayaknya kalau sampai pindah ke Bandung, aku lebih ke nggak siap deh Ay!" ujar Jill.


"Lho kenapa?"


"Keluarga kamu terlalu sempurna!" akunya.


"Hah?" Raiz menerbitkan seulas senyum, mulai mengerti apa yang ada di pikiran Jill.


"Tapi mereka baik kok!"


"Baik aja nggak cukup Ay, aku aja bahkan baru mau minta ajarin soal agama sama kamu, belajar ngaji!"


"Hah, masa?"


"Kamu udah ada kemauan, kek gini aja udah cukup kok, seenggaknya kan kamu mau berubah!" Raiz lagi-lagi tersenyum manis untuk sang istri.


"Emangnya kamu udah selesai merah?"


Jill mengangguk, dengan wajah sumringah dan senyum malu-malunya.


Sementara Raiz, mendengar itu ia langsung saja memeluk Jill dan kemudian mencium lembut bibir itu. Hingga membuat sang empunya gelagapan karena Jill yang memang tidak siap.


"Hah hah hah!" Jill mencoba meraup oksigen di sekitar untuk menstabilkan napasnya, "Kamu ngagetin aku!" gerutu Jill, padahal dalam hati sungguh puas.


"Kamu terlalu gemesin Ay!"


"Ya tapi kan nggak usah tiba-tiba juga!" dumelnya.


"Hemmm, jadi aku harus bilang dulu nih kalau mau cium kamu?" tanya Raiz tanpa menghiraukan pipi Jill yang sudah memerah.


"Ya nggak gitu juga konsepnya!"


"Jadi kek gimana?" tanya Raiz lagi, dia semakin gencar saja menggoda Jill.


"Ya seenggaknya ada apa kek..."


"Bilang? Katanya tadi bukan gitu konsepnya, atau kek gini, aku harus monyong-monyong dulu biar kamu siap?" gemas Raiz.


"Iiihhh apaan sih!"


"Lah kenapa? Anggap aja tanda peringatan!" Raiz langsung saja memonyongkan mulutnya kemudian siap untuk mencium Jill, dia semakin gemas kala Jill mulai menghindarinya, jelas saja siapa yang tidak geli coba melihat ekspresinya yang monyong begitu.


"Ay, kamu!" bentak Jill seraya menghindar.


"Kenapa Ay, sini sini..." Raiz juga tak mau kalah, ia semakin gencar mendekat.


"Ay, aku geli banget sumpah!"


"Apa Ay, sini..."


"Ay... Sana!"


Tap, Raiz berhasil mengambil tangan Jill kemudian langsung membawa istrinya itu ke dalam dekapan, ia kembali memonyongkan bibirnya mendekat ke arah wajah Jill.


"Ay, aku geli, Ay..." berontak Jill.


Dan, "Cup!" bibir itu sudah mendarat di pipi Jill, memberikan ciuman bertubi-tubi, bahkan Raiz dengan gilanya mengecupi seluruh wajah Jill gemas.


"Hahahaha!" Jill tertawa kegelian, ia meminta Raiz untuk melepaskannya, namun ia juga rasanya tidak berdaya, seperti menikmati absen ciuman dari sang suami. "Udah Ay, udah..." ujarnya meminta.


Namun, Raiz bagai tak menghiraukan permintaan Jill, hingga tubuh istrinya itu terjatuh tepat di bawah kungkungannya.


"Hah hah hah!" napas keduanya memburu, kini wajah Raiz berada tepat di hadapan Jill, mata mereka bertemu dan mulai saling menatap dalam, entah kapan Jill mulai merasakan bibir yang tadinya monyong itu dilihatnya begitu menggairahkan.


"Kamu udah siap Ay?"


Bersambung...