
Ramond menemukan sesuatu yang aneh dari Raiz si guru BK di sekolahnya, dari tadi dia terus aja mengikuti mobil Raiz dan berhentilah di sini, di sebuah studio foto yang cukup terkenal. Beberapa minggu yang lalu, dia juga menemani sepupunya untuk foto di sini.
Dia harus nunggu Raiz keluar, tadi juga dia sudah melihat Raiz yang merangkul seorang wanita, sekilas mirip Jilly jika dilihat dari belakang, tapi entahlah Ramond masih enggan untuk percaya.
Tidak lama, hal yang paling tidak dirinya lihat malah sudah membuktikan semuanya, yah semua kecurigaannya.
"Jilly, sama Pak Raiz?" gumamnya tidak bisa mempercayai, Jilly yang dilihatnya begitu senang keluar dari studio foto itu dirangkul oleh Raiz.
"Apa hubungan mereka sebenarnya?" tanyanya lagi seraya mengambil beberapa foto sebagai bukti kedekatan Jilly dan Raiz, entahlah dirinya harus melaporkan ini atau tidak tapi yang penting dirinya sudah menyimpan bukti kuat ini.
Tidak cukup sampai di situ, Ramond merasa dirinya tetap harus mengikuti ke mana perginya mobil Raiz, jika benar keduanya memiliki hubungan dirinya pun tetap harus tau, apa yang terjadi sebenarnya.
Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba saja mobilnya di cegat, dua orang berpakaian preman mengetuk kaca mobilnya.
Ramond sungguh malas meladeni, karena jika ia keluar maka jejak Jilly dan Raiz tentunya akan hilang.
Ramond terpaksa membuka pintu mobilnya dan seketika langsung saja diserang oleh kedua preman itu.
Sebenarnya Ramond cukup pandai berkelahi, tapi entah mengapa kali ini sepertinya lawannya cukup kuat, bahkan sepertinya dia harus menyerah jika tidak ingin mati.
Kedua preman itu mengambil beberapa barang berharga darinya, termasuk ponsel yang berisikan foto yang baru saja dirinya ambil tentang Jilly dan Raiz.
Karena sudah tidak berdaya dirinya hanya bisa terkapar di jalan, sungguh sial nasibnya hari ini.
...***...
"Udah siap?" tanya Raiz.
"Udah dong!"
Keduanya langsung menuju Bandung, betapa senangnya Jilly hari ini, sayang sekali Papa dan Mamanya tidak bisa mengantarkan kepergiannya.
"Kita bakalan balik lagi pas acara ulang tahunnya perusahaan Papa!" ujar Raiz di perjalanan.
"Iya, kita nginepnya satu minggu ya Ay!" pinta Jill.
"Insyaallah!" sahut Raiz.
"Hamil?" Jilly tampak berpikir.
"Iya, kamu mau nggak?"
Jilly menoleh ke arah Raiz kemudian tersenyum canggung, "Kamu udah mau punya anak?" tanya balik Jilly.
Raiz mengangguk, kemudian ia menggenggam erat tangan Jilly, "Serahkan sama Allah, tapi kalau kamu udah mau itu lebih bagus, bukankah itu artinya kita udah sama-sama siap, dan aku nggak bakalan ada rasa bersalah kalau tiba-tiba kamu mengandung!"
"Seenggaknya kalau hamil kamu udah bisa terima, maklum lah kamu masih muda, kali aja kan kamu masih mikirnya mau main dulu, mau seneng-seneng dulu!"
"Kemaren kamu minum pil kan?"
Jill mengangguk, yah dia mengerti Raiz begitu menghargainya, Raiz menanyakan itu bukan semata-mata suaminya itu menginginkan anak darinya, tapi kali ini Raiz juga sedang meminta pendapatnya.
Dan seketika Jill merasa bersalah jika sampai ia harus mengatakan tidak, baiklah ia juga akan membahagiakan suaminya ini.
"Aku sih oke aja Ay!" sahut Jilly, seolah memberikan semangat baru untuk Raiz. Hamil, kenapa enggak?
"Beneran?" tanya Raiz lagi memastikan.
"He'em!" angguk Jill.
"Yeee, makasih ya sayang!" ujar Raiz lagi, dia begitu senang saat Jill juga menginginkan hal yang sama sepertinya.
Kadang ada kala sesuatu yang tak pernah kita duga, harus datang pada kita.
Raiz Hanif Al-Haaqi, laki-laki itu sama sekali belum ada niatan untuk menikah sebelum dirinya bertemu dengan Jilly, Jilly yang sudah merubahnya, seolah tidak bisa pergi ke mana-mana lagi, jantungnya selalu saja berdegup tidak biasa jika berdekatan dengan gadis itu, hatinya juga merasakan hal lain, Jilly mampu menggetarkan hatinya.
Aku sudah bertaut padamu, tempatku pulang, tempatku membagi suka dan duka. Aku harap kamu bisa menemaniku hingga akhir hayat, jodohku, kekasih halalku, aku sangat beruntung memilikimu.
Aku mencintaimu, Jilly Almas!
...-TAMAT-...