
Aku sungguh menyukaimu! Wajahku yang merah dan matang membuktikan itu.
^^^Jill.^^^
___
Raiz semakin gugup kala Jill mendekatkan wajahnya, mata mereka benar-benar bertemu, "Aku cuma mau tau, apa bener Bapak nggak ada perasaan sama sekali buat aku!" ujar Jill pada Raiz dengan berbisik.
"Kamu, jangan macam-macam! Saya akan menikah!" gertak Raiz.
"Tidak peduli siapapun yang akan Bapak nikahi, bagiku yang terpenting pada siapa Bapak menaruh perasaan ini!"
"Bapak juga... Menyukaiku?"
"Jilly!"
"Mengapa Bapak tidak menolak?" tanya Jill.
Brakkk!
Raiz segera mendorong tubuh Jill hingga Jill terduduk di sofa. Ia bagai orang yang baru saja dilecehkan, namun bukankah kebalik.
Raiz tersadar, tak seharusnya dia seperti itu, benar apa yang dikatakan Jill, mengapa dia tidak menolak saat Jill memperlakukan begitu, benarkah hanya takut karena Jill adalah anak dari Jason Ares Adrian, seseorang yang tau akan agama sepertinya tentunya tidak akan mudah terpengaruh hanya karena satu nama penguasa di negaranya itu.
"Jilly saya harap kamu tau batasan!"
"Ayo nikah?" ajak Jill langsung.
Mata Raiz sampai membulat sempurna kala mendengar itu, apa muridnya ini sudah gila, semacam terobsesi padanya.
"Jilly!"
"Kalau Bapak cintanya sama aku, ayo kita nikah!" ajak Jill sekali lagi.
"Jangan gila kamu!" Raiz menatap Jill remeh, lalu Raiz mengambil tangan Jill kemudian memaksanya keluar.
Namun saat ia ingin membuka pintu, tiba-tiba saja dia melihat Winda dan salah satu siswa menuju ke arahnya.
Dengan cepat Raiz menarik tangan Jill lagi, ia menyuruh Jill untuk kembali bersembunyi di kolong meja.
Tok tok tok,
Benar saja dugaan Raiz, Winda pasti akan mengunjunginya karena tadi ia sempat bertemu guru bahasa Indonesia itu, Winda mengatakan salah satu anak didiknya mengalami masalah dalam pergaulan, sering menyendiri, untuk itulah Winda meminta Raiz untuk membantunya.
Ceklek, Raiz membukakan pintu, mempersilahkannya Winda masuk dan duduk.
"Ini lho Pak Raiz yang aku ceritakan itu, aku harap Bapak bisa menanyakan padanya apa ada masalah mungkin atau hal lainnya yang mengganjal!" jelas Winda yang sudah mengakrabkan diri, bahkan dia santai saja berbicara dengan Raiz menggunakan aku kamu.
Winda menoleh ke arah anak muridnya, sepertinya ia harus berterimakasih, semakin banyak murid yang bermasalah maka semakin banyak juga peluang untuknya berinteraksi dengan Raiz.
Winda adalah wali kelas XI IPA 3, sekaligus guru bahasa Indonesia khusus kelas XII.
Raiz mengangguk, "Baiklah, saya akan menanganinya, dan Bu Winda... Jika Ibu masih ada pekerjaan lain, tidak apa jika anak muridnya ditinggal." sahut Raiz sopan.
"Aaah, aku sebenarnya juga merasa bertanggung jawab atas muridku, mungkin aku akan menemaninya sebentar!" usul Winda beralasan, padahal mulutnya berusaha untuk tidak histeris saking senangnya.
Raiz duduk kembali di kursinya, menunduk dan mendapati Jill yang tersenyum manis ke arahnya, tanpa sadar Raiz tersenyum samar dalam hatinya malah menginginkan hal itu, Jilly yang selalu berada di dekatnya, sudah seharian ini dia mencari biang masalah itu, tanpa dia ketahui ternyata biang masalahnya sudah berada di ruangannya.
"Ada apa Pak Raiz?" tanya Winda karena melihat Raiz yang menunduk.
"Ah..." gugup Raiz, "Bukan apa-apa!" jawabnya.
Bersambung...