Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Pagi yang berat.



Gue mau lupain dia! Jadi wahai otak dan hati... Mohon untuk kerjasamanya!


^^^Jill.^^^


___


Pagi ini adalah pagi yang berat, Jill merasakan sulit untuk bangun, tubuhnya benar-benar malas untuk diajak beraktifitas.


"Gue patah hati sumpah!" gumamnya sembari tangannya meraba sembarang nakas, mencari keberadaan ponsel yang seingat Jill diletakkan di sana semalam.


Jill melihat apakah ada sesuatu yang menarik di sosial medianya, berharap bisa mengalahkan rasa malasnya hari ini.


Namun baru saja Jill membuka ponselnya, satu pesan dari Celia sudah menunggu untuk dirinya baca. Yah semalam ia memang sudah bertukar nomor ponsel dengan Oliv dan Celia, supaya mereka bisa lebih akrab.


📩 Kak Jill, ngemall yuk nanti siang, sekalian nonton!


Jill membalas, pesan itu, ia menanyakan siapa saja yang akan ikut dengan mereka nantinya.


📩 Nggak ada, cuma gue sama Oliv doang, yuk!


Jill tampak berpikir, sebenarnya ada baiknya juga ia menerima ajakan Celia, hitung-hitung untuk menghilangkan gundah gulana yang saat ini tengah melanda hatinya.


📨 Ok deh!


Terkirim, Jill segera bangun dan akan langsung menuju dapur untuk memulai sarapannya, meski jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, namun tetap saja Jill merasa perutnya harus segera di isi dengan menu sarapan.


"Pagi Pa! Pagi Ayah!" sapanya saat melewati ruang keluarga, dilihat Papanya itu sedang berbincang santai dengan Ayahnya, entah ada urusan apa di hari minggu seperti ini. Namun, itu adalah urusan orang dewasa dan karena Jill merasa belum saatnya ia memikirkannya jadi ia memutuskan untuk berlalu saja.


"Pagi sayang!"


"Pagi Jilly!"


Sahut Jason dan Roy bersamaan.


"Jilly! Kamu ini cuci muka nggak sih?" tanya Shirleen, ia sudah hapal, melihat wajah kusut Jill tentu saja ia bisa membedakan dengan mudah wajah mana yang sudah terkontaminasi oleh air dan wajah mana yang belum.


"Mama..."


"Ck, kebiasaan kamu Jill, cuci dulu sana!" pinta Shirleen. Jill memang suka semaunya, anak gadisnya itu sudahlah bangun siang kalau hari libur gini, bangun tidur bukannya mandi malah langsung aja nuju dapur, katanya sih laper. Jangankan mandi, masa cuci muka aja nggak sempat.


"Bunda..." Jill memanggil Shakira berharap akan mendapatkan pembelaan. Namun Bundanya itu, dengan senyum ramahnya juga malah menggeleng.


"Aahhh..." Jill menghentakkan kakinya, berjalan menuju wastafel untuk mencuci muka.


"Jilly, ambil sikat gigi di rak dekat kamar mandi dapur, sikat gigi kamu, jangan cuma cuci muka! Anak gadis kok jorok amat!" gerutu Shirleen.


"Sudahlah Nona, kasihan Jill!" ujar Shakira, ia memerhatikan Jill dari kejauhan, anak gadisnya itu sebenarnya meski tanpa cuci muka pun tetap saja cantik.


"Kamu itu selalu aja belain dia, aku berasa kek jadi Mak tiri tau nggak!" canda Shirleen.


"Maaf Nona, saya tidak bermaksud!" sesal Shakira, ia takut sekali rasanya menyinggung perasaan Shirleen.


"Sudahlah Shakira, delapan belas tahun kamu jadi Bundanya dia, tapi masih aja suka salah ngartiin ucapan aku, aku becanda..." ujar Shirleen, walaupun memang iya sih, kadang Shirleen sering kali merasa bagai ibu tiri yang cerewet sedang Shakira bagai ibu kandung yang lemah lembut.


Shakira mengangguk, lalu kembali menikmati kue buatan Shirleen yang disuguhkan untuknya.


"Jadi kapan prosesnya? Rencananya kapan?" tanya Shirleen perihal rencana bayi tabung yang akan dipilih Shakira dan Roy nantinya.


"Besok Nona!" jawab Shakira.


"Oh ya? Bagus dong, kalian tinggal prosesnya aja kan, konsultasinya kan udah kemaren, eh gitu nggak sih?" tanya Shirleen yang masih mencoba menjadi asik.


"Iya Nona!" jawab Shakira seadanya, nyatanya Shakira juga belum berubah. Shirleen malah kebingungan lagi, pembahasan apa lagi yang akan dirinya bahas dengan Shakira selanjutnya, karena dari tadi Shakira selalu saja menjawab seadanya.


Bersambung...