
Apa cuma gue yang selalu mikirin dia, tapi dia enggak? Cinta kok gini amat ya, kerasa banget berjuang sendiri! Untung sayang!
^^^Jill.^^^
___
Saat sudah selesai menonton, Jill terlihat begitu lesu, ia sungguh tidak bersemangat.
Celia dan Oliv sudah pulang ke rumah masing-masing, hilang sudah penghibur hatinya, Jill mulai mengeluh lagi.
"Ada apa?" tanya Jason saat melewati anak gadisnya itu, dilihatnya Jill yang menampilkan wajah yang tidak bersemangat.
"Papa!" sapa Jill.
"Ada apa, hemmm pasti lagi mikirin dia!" tebak Jason.
"Haaahh!" Jill menghempaskan napasnya kasar, benar dia benar-benar memikirkannya Raiz tiada habisnya.
"Anak Papa udah besar yaaa, udah tau cinta-cintaan!" goda Jason.
"Dia serius ingin nikah Pa!" ucap Jill, mencoba berbagi keluh kesahnya pada Jason, karena dibandingkan Shirleen, Jill memang lebih terbuka pada Papanya itu.
"Terus?"
"Ya dia udah beli apa gitu buat coupelan sama calonnya!" lanjut Jill.
"Hemm, terus?"
"Jangan terus dong Pa, ntar nabrak!" kesal Jill, "Gimana kek tanggapannya, nggak variatif banget!" gerutunya.
"Ya terus maksud Papa itu kamu maunya apa? Nikah juga?"
"Emang Papa bolehin?"
"Dih siapa bilang?"
"Aahhh Papa!"
"Emang udah siap nikah muda?" tanya Jason mencoba serius.
"Papa kan juga nikah muda!" jawab Jill enteng.
"Tapi Mamamu waktu itu nggak lagi muda, dia udah siap ngurusin Papa, makan, pakaian, semuanya Mama yang urusin!" ungkap Jason.
"Kalau kamu? Udah bisa apa? Masak air aja nggak pernah!"
"Papa ih, jangan ledekin aku napa sih!" sewot Jill, ia tidak terima walaupun memang kenyataan sih kalau dia memang tidak pandai melakukan apapun jika diminta menjadi seorang istri yang bertanggung jawab.
"Raiz itu orang tuanya taat banget kalau urusan agama, lah kamu... Di suruh sholat aja malasnya minta ampun!"
"Kemaren Papa suruh kamu ke pesantrennya Uncle Darren tapi kamu nggak mau, makanya Papa pindahin kamu ke sekolah itu, tapi taunya malah ketemu gebetan, nakal banget ih!" Jason menatap Jill yang sebenarnya adalah gambaran dirinya, wajah maupun sifatnya mengapa juga harus mirip sekali dengannya. Sedikit banyaknya Jason bisa memahami apa yang tengah Jill rasakan saat ini.
"Terus ledek aku mulu..." Jill bertambah kesal.
"Dah, lupain aja!" enteng Jason.
"Papaaaa..." manja Jill, ia mendusel-duselkan kepalanya di lengan Jason.
"Siapa yang mau nikah muda By?" tanya Shirleen yang entah kapan sudah berada tak jauh dari keduanya. Sontak saja pertanyaan itu membuat keduanya menegang, baik Jason maupun Jill sudah menegakkan posisi duduknya, Sling bertatapan kemudian memutus karena takut akan menyulut kecurigaan.
"Ada apa?" heran Shirleen.
"Nggak ada apa-apa By!"
"Nggak kenapa-kenapa Ma!"
Sahut Jason dan Jill bersamaan. Bukannya mengerti hal itu malah membuat Shirleen menjadi semakin bertanya-tanya.
"Kok aneh sih!" protesnya.
"Aneh apa sih?" tanya Jason.
"Ya kalian aneh aja!"
"Enggak aneh kok Ma!" sahut Jill.
"Beneran?" selidik Shirleen.
"Aku denger-denger ada yang bahas nikah, apa aku salah denger ya?"
"Eh!"
"Iya, salah denger itu Ma!" Jill langsung bangkit dan meninggalkan kedua orang tuanya itu, mengerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada Papanya.
"Jill kamu mau ke mana?" tanya Jason panik, aduhai bagaimana ceritanya dia bisa menghadapi Shirleen sendirian, Jill ini memang tidak bertanggung jawab.
"Aku mules Pa!" sahut Jill cepat.
"Lho Jill, hei sini dulu!"
"Duh Papa udah dibilangin mules juga!"
"Kenapa sih By? Kok kayak nggak rela gitu Jill pergi!" tanya Shirleen heran.
"Bukan gitu By, tapi kan... Tapi..."
"Apa? Tapi apa?"
"Papa!" seru Jill.
Jason menoleh, dilihatnya Jill yang tengah mengkode padanya dengan tangan yang memperagakan gerakan menggorok leher! Mengisyaratkan awas saja jika sampai Papanya buka mulut tentang Raiz.
"Apa sih Jill? Katanya mules!" tanya Shirleen yang saat ini juga sudah menoleh.
"Eng... Enggak Ma, itu juga mau ke kamar akunya!" jawab Jill.
Sementara Jason saat Shirleen berbicara pada Jill, dengan secepat kilat dan sebelum Shirleen menyadari ia sudah ngacir duluan, lebih baik kabur saja dari pada nantinya dia diberondong pertanyaan terus terusan. Bukan apa, karena jika sudah berhadapan dengan Shirleen, kadang Jason benar-benar tidak bisa berbohong, jadi lebih baik diam dan kalau bisa menghindar dari pada nanti malah akan menimbulkan masalah yang lebih lebih berat lagi, cukup Dilan saja yang kuat kalau urusan yang berat-berat.
"Lho By!" ucap Shirleen saat menyadari Jason yang sudah tidak berada di dekatnya.
Bersambung...