
Jika aku gagal membimbingnya ke jalan yang benar, maka dosa yang dikenakan padanya tentunya juga akan ditanggung olehku. Aku akan mengubahnya, pelan namun pasti.
^^^Raiz. ^^^
___
"Ini buat calon istriku!" ujar Raiz memberikan sebuah paper bag yang cukup besar pada Jill, Jill menyergit heran, apa isinya.
Matanya membulat kala mendapati gaun yang dirinya idam-idamkan tadi kini sudah berada di tangannya. Apa Raiz membelinya, mengizinkannya untuk memakai gaun itu?
"Kenapa dibeli?" tanya Jill.
"Karena kamu mau!" jawab Raiz.
"Tapi kan..."
"Gaun ini emang nggak bisa dipake pas waktu acara kita, tapi setelahnya kan bisa?" jawab Raiz lagi.
"Setelahnya?" tanya Jill tidak mengerti, entah mengapa otaknya tiba-tiba menjadi lemot seketika.
"Iya, nanti kita bisa jadi pengantin lagi, yah itung-itung prewedding lah, meski lebih tepatnya pasca wedding. Aku liat kamu keknya mau banget sama baju itu, maafin aku yaaa yang nggak bisa wujudkan apa yang kamu mau, kita bisa foto nanti pake baju itu, kalau kamu mau aku bisa kok cetak dalam ukuran yang paling gede, buat dipajang di kamar." lanjut Raiz.
Jill terharu, ternyata Raiz memikirkannya, padahal tadinya dia memang sempat kesal tadi karena apa yang dirinya inginkan tidak akan bisa terwujud.
"Nggak perlu ya, aku nggak sebucin itu!" elak Jill.
"Hilih, bucin juga nggak papa Ay, sama suami sendiri! Ya udah, pokoknya kalau nanti kita udah nikah, baru deh kamu pake gaun itu, kita abadikan!" usul Raiz.
Jill hanya bisa mengangguk, sesenang itu! Yah meski dirinya memang tidak bisa mewujudkan pesta pernikahan sesuai impiannya tapi tidak apa lah, toh benar juga apa kata Raiz, seharusnya dia itu memang memakai hijab, namun Raiz sudah cukup mengerti saat dia mengatakan tidak mau, pemuda itu tidak pernah memaksanya.
Gaun panjang menjuntai berwarna putih gading yang adalah pilihan Raiz itu adalah gaun yang cukup sopan, Raiz melakukan itu tentu saja untuk menghargai keluarganya, dan Jill merasa dirinya tidak boleh egois.
Jill tersenyum, "Makasih yaaa!" ucapnya tulus.
"Iya... Jangan marah lagi yaaa..."
"Ihhh, siapa yang marah coba?" Jill tidak terima, dia malu untuk mengakui kalau tadi dirinya benar-benar pernah merasa kesal.
"Dih ngelak!" goda Raiz.
"Ay! Kamu tuh..."
"Apa?"
"Hemmm, baru tau yaaa!"
"Emang, awalnya aja sok-sokan jadi cowok kul, taunya malah ngeselin, nyebelin!" keluh Jill.
"Tapi kamu suka biar nyebelin!" ucap pede Raiz.
"Sayangnya sih..." acuh Jill, namun tetap saja dia mengakui kalau memang benar-benar menyukai Raiz. Dia sudah menyukai guru BK-nya itu sejak pandangan pertama. Dan tanpa ragu pula Jill terang-terangan mengungkapkannya.
"Kita kemana nih?" tanya Raiz lagi, tidak mau membuat Jill semakin kesal, takut juga nanti kalau sudah kelewatan bakalan sulit.
Jill mengangkat kedua bahunya, Jill memang berencana untuk pulang ke rumah utama, namun jam di tangannya juga baru menunjukkan pukul tujuh malam, jadi tidak ada salahnya jika dia menikmati waktu yang tersisanya dengan Raiz.
Raiz mengemudikan mobilnya menuju masjid, dia berencana untuk sholat isya sebentar karena memang sudah waktunya.
"Lho kenapa ke sini?" tanya Jill, dia heran karena Raiz sudah memarkirkan mobil di area parkiran Masjid.
"Aku mau sholat dulu, yuk!" ajak Raiz, tentunya ia akan mengajak calon istrinya itu, Papa Jason mengatakan kalau Jilly agak sedikit sulit diajak beribadah, jadinya Raiz harus ekstrak sabar.
"Apa?"
"Ikut sholat!"
"Emmm, kamu aja deh!" ujar Jill beralasan.
"Lah kenapa? Ayok, cuma sebentar, temenin aku Ay!"
"Aku... Aku di rumah aja!" elak Jill lagi.
"Kenapa di rumah sih, di sini aja."
"Enggak deh, aku di rumah aja, nggak bawa mukena... Iya, benar aku nggak bawa mukena!" ucap Jill lagi seolah mendapatkan jawaban yang tepat untuk beralasan.
"Hemmm, di sini banyak kok mukenanya, aku pernah beberapa kali sholat di masjid ini." ujar Raiz tak kalah tangkis.
"Tapi..."
Raiz membuka pintu mobil, dia mengambil tangan Jill dan mengajaknya ke masjid, "Udah santai aja, kenapa sih?" godanya.
Sedikit demi sedikit tentunya Raiz akan membawa Jill untuk lebih dekat pada-Nya.
Bersambung...