Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Siapa yang duyung By?



Sampai kapanpun, aku tidak akan mampu melihat air matamu jatuh karena rasa sedihmu.


Sungguh, aku lemah untuk itu!


^^^Jason.^^^


___


"Ekhmmm!" Jason berdehem untuk menghentikan drama toyor menoyor yang dilakukan ketiga sahabatnya itu.


"Nah, coba lo tanya Junedi, mana tau dia bisa jelasin?" ucap Afik yang nyatanya masih belum puas untuk membahas tentang anak gadis yang harus mirip Bapaknya.


"Apa?" heran Jason, dirinya saja baru datang, mengapa sudah harus diberikan pertanyaan. Jason menatap curiga pada duo A, karena kadang pertanyaan mereka suka nyeleneh.


"Junedi, itu si Jill jadi sampe mirip lo itu pasti lo yang usaha kan?" tanya Angga, pertanyaan konyol macam apa itu.


"Hah? Maksudnya?" tanya Jason tidak mengerti.


"Iya, noh liat si Oliv gada mirip-miripnya sama Cebong, kalau kata gue... Dia mah kurang usaha pas percetakannya." ucap santai Afik menjelaskan.


"T*i lo! Bangs*t emang!" dengus kesal Yudha.


"Jadi apa hubungannya sama gue?" Jason duduk si samping Yudha, mengambil satu minuman jeruk yang sudah tersaji di meja.


"Gini, Jill kan mirip banget sama lo, persis banget lo versi cewek, bilangin... Usaha lo dalam percetakan Jill itu membuahkan hasil!"


"Oohh, iya dong!" jawab Jason setuju.


"Sialan lo!" umpat Yudha sembari melemparkan potongan keripik kentang ke arah Jason.


"Tapi gue sama Shirleen sama-sama usaha, noh liat si Jio, dia mirip Shirleen, jadi kalo gue mah satu sama!" bangga Jason merasa nggak ada saingan.


"Hemmm, mulai bangga! Over bangga!" dengus Angga kesal. Jason keknya emang serba sempurna dari mereka berempat, anak aja kembar gitu nggak ada iri-irinya, muka emak sama bapaknya kebagian semua.


"Si Celia jadi masuk ke Guna Bhakti?" tanya Jason memutus perdebatan mereka, karena untuk masalah anak, tetap saja dirinya yang menang, fix no debat!


"Lho kenapa? Nyantai aja kali!"


"Katanya Jio menyeramkan!" lanjut Afik lagi.


Persis kek Bapaknya, gue aja udah terlanjur temenan kalau belum mah ogah!


"Menyeramkan gimana, orang anak gue ganteng gitu!" protes Jason tidak setuju.


"Ya, mana gue tau, itu kan pendapat Cel!" ucap Afik yang memang berkata sebenarnya, minggu lalu bahkan Afik pernah bertanya pada Cel, begitu anak pertamanya dan Zalin di panggil. Bertanya tentang Jio, dan jawaban Celia persis seperti apa yang dirinya katakan ini. Celia memang bilang Jio itu menyeramkan.


"Mungkin Jio orangnya kayak lo kali manusia es, makanya Cel takut!" kali ini Angga, dia senang sekali bisa mengatai Jason.


"Hemm, nanti deh gue suruh si Jio buat nyapa Cel, itukan temen Bapaknya masa dia juga bersikap gitu, harus ada pengecualian lah!" ujar Jason seperti membenarkan ucapan Angga tentang dirinya.


"Heh, si Jill betah keknya di sekolah baru!" kali ini Afik lagi, dari kemaren dia masih penasaran tentang Jill si tukang bully itu.


Jason mengangguk, "Semoga aja, soalnya kalau dia macem-macem lagi bakalan gue oper balik ke Turki lagi, biar sama Omanya!" jawab Jason.


"Lo emangnya tahan jauhan sama anak?"


"Gue sih tahan aja, tapi Ilen yang enggak, bayangin aja dia ngancem gue waktu itu, seharian nggak berenti nangis, kalau dia bangsa duyung beh udah koleksi mutiara gue karena dianya nangis mulu!" ucap Jason sembari membayangkan wajah tersedih Shirleen saat berjauhan dengan Jill, waktu itu karena saking sudah tidak tahannya Shirleen memang nangis hampir seharian, merengek meminta Jason untuk menyudahi hukuman Jill yang mereka oper ke Turki, padahal konon kabarnya Jill malah baik-baik aja dan menikmati waktu hukuman versi liburan di Turki sana bareng Oma dan Opanya.


"Sayang banget ya bukan duyung!" sesal Afik bercanda.


"Iya, padahal gue baru aja mau minta!" sambung Angga.


"Emang, sayang banget bukan duyung itu bini!" dengus Jason.


"Siapa yang duyung By?" tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang amat Jason kenali berbicara tepat di belakangnya.


Bersambung...