
Salah apa aku, hingga Kau menghukumku seperti ini, inikah balasan atas perbuatanku dulu?
^^^Jason.^^^
___
"Plaakkk!" sudut bibir Jio berdarah, di hadapannya sang Papa tengah menatapnya nyalang.
"Kapan Papa ngajarin kamu kayak gitu Jio?" tanya Jason.
Saat ini, dia sedang berada di ruang bawah tanah yang berada di villa keluarga Adrian, menculik anaknya itu untuk diintrogasi.
"Maafin Jio Pa, Jio kelepasan!" lirih Jio.
"Papa benar-benar nggak nyangka sama kamu, kamu mau rusak persahabatan Papa sana Om Afik hah?"
"Jio gimana kalau..."
"Jio bakalan tanggung jawab!" potong Jio langsung, cukup gentle untuk ukuran remaja 17 tahun.
"Semudah itu? Kamu pikir menikah itu gampang?" tanyanya.
"Udah punya apa kamu buat ngidupin Cel? Kamu tau, Papa bahkan udah nganggep Cel seperti anak Papa sendiri, kamu benar-benar tega Jio, benar-benar udah rusak!"
Jio diam saja, dia tau dia salah, tidak seharusnya merusak anak gadis orang, terlebih Celia adalah anak dari Afik, sahabat kental Papanya.
"Besok pagi kita ke rumah Celia, kamu harus tanggung jawab, apa kamu nggak mikir gimana nasib Celia setelah kamu rusak kayak gitu hah?"
"Dia bahkan nggak mau kalau aku bertanggung jawab Pa, aku bahkan udah nyoba ngomong sama dia!" jawab Jio.
"Berani kamu jawab Papa? Yang kamu lakukan malah lagi-lagi nyakitin dia, kamu bentak dia, kamu menganggap dia yang paling butuhin kamu, benar? Apa benar yang Papa bilang ini? Di gudang sekolah?"
"Jangankan kamu yang masih ada di Jakarta ini, Bang Jack aja yang udah jauh nggak bakalan semudah itu Papa lepasin!" aku Jason.
Ini juga adalah kesalahannya, lebih tepatnya salah karena malam itu Ben yang memergoki hanya sekedar memantau dari jauh, dia pikir Jio tidak akan melakukan apapun pada Celia, jadi Ben yang berpikir positif tentunya tidak menampakkan diri menganggap kedua remaja itu hanya bertemu dan lalu berbincang. Tanpa di sangka setelah Celia keluar dari mobil itu, tubuh wanita itu sudah berantakan, tentunya Ben langsung mencari tahu itu, penyadap di mobil yang ditumpangi Jio segera diperiksa olehnya, dan ditemukanlah bukti perbuatan bejat Jio.
Ben langsung melaporkan hal itu pada Jason pagi ini, Jason sebisa mungkin untuk tidak murka saat mengetahui itu, dia harus menjaga sikap di hadapan istrinya, meski perasaannya kian hancur remuk redam.
"Jio sialan..." umpatnya sembari mengepalkan tangan, dan "Aarrgghh!"
Tinju itu hampir saja mendarat di wajah Jio kalau saja Jason tidak menahannya, bahkan jarak tinjunya itu hanya sekitar lima centi dari pipi Jio. Jason memejamkan matanya untuk meredam emosi yang menguasai jiwa.
"Papa memang brandal nak, Papa memang Papa yang paling buruk, bahkan Papa mengakui seumur kalian dulu Papa lebih banyak melakukan kesalahan dari pada yang kalian lakukan, tapi Nak... Papa mohon, jangan ikuti jejak Papamu, menjadi bajingan itu memilukan Nak, sama sekali tidak keren, sama sekali tidak berkelas!" ucap Jason sembari memukul-mukul dadanya, berharap rasa sesak itu bisa berkurang, yah meski nyatanya tidak lagi mampu merubah kenyataan.
"Papa sakit Nak, Papa sakit liat kamu kayak gini, kalau bisa ditukar waktu itu, biarlah Papa yang menderita!" Jason semakin kuat memukul dadanya, hingga aksinya itu harus dihentikan oleh Roy yang masih setia berada di sampingnya.
"Tuan Muda, sudah Tuan Muda hentikan, Tuan Muda jangan seperti ini, sudah... Sudah... Jio sudah mengakuinya, dia sudah mengaku melakukan kesalahan, sudah Tuan Muda!" ucap Roy, sebabnya seluruh kemampuannya ia menghentikan aksi gila Jason.
"Biar Roy, biar dia tau kalau aku sudah banyak berkorban untuknya, biar dia tau aku selalu memberikan apapun yang dia minta, biar anak ini tau diri, sedikit... Sedikit tau diri..." racau Jason. Ia berteriak keras.
"Sudah Tuan, Sudah Tuan Muda!"
Roy memeluk Jason dengan sayang, ada dua hal yang paling membuat Jason bersedih, yang pertama karena dia tidak terima Jio membalas pengorbanannya yang sepenuh hati seperti itu, dengan gilanya menghamili anak gadis orang, Jason merasa dia selalu memberikan kasih sayang dan ajaran yang baik untuk Jio selama ini, Jason menangisi kegagalannya, ia marah pada dirinya sendiri yang dianggapnya sudah gagal dalam mendidik Jio, dan yang kedua... Bagaimana Jason bisa menghadapi Afik nantinya, bagaimana bisa? Roy tau Afik adalah salah satu orang yang sangat berjasa di masa lalu Jason, Jason tidak bisa begitu saja membuat masalah dengan sahabat kentalnya itu, apa lagi ini menyangkut Celia, bagaimana bisa Jason menghadapinya nanti.
"Sudah Tuan Muda! Sudah!" Roy terus mengusap lembut punggung Tuan Muda yang sudah bagai adiknya itu.
Sementara Jio, dia benar-benar menyesal, seumur hidupnya papanya itu selalu bersikap lembut dan sangat nyaman, bahkan ia dan Jill setuju kalau Jason adalah tempat ternyaman untuk mereka berbagi keluh dan kesah. Tapi melihat Papanya yang beraksi seperti itu, dia sungguh tidak mengerti, sebesar apa kesalahannya hingga mampu membuat Papanya seolah menyesal telah memberikan kasih sayang padanya selama ini.
Bersambung...