
Mungkin ini terakhir kalinya, atau... Kisah kita mungkin juga baru saja dimulai!
^^^Jill.^^^
___
Jio tengah mencari keberadaan Jill, tadinya ia berpikir Jill akan menyusul dua gadis yang sedang asik memilih beberapa pakaian itu makanya ia tidak ikut, namun nyatanya tidak, Jill tidak dilihatnya bersama Oliv dan Celia.
"Ekhm!" Jio berdehem untuk menyapa Oliv, dia sudah mendekat bermaksud ingin menanyakan keberadaan Jill.
Oliv menoleh dan sedikit gugup kala Jio sudah berada tepat di sebelahnya.
"Kaaak Jio!" ucapnya terbata.
"Apa Jill pernah bilang mau pergi ke mana?" tanya Jio langsung.
"Eh!" Oliv semakin gugup. Sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Indonesia tujuh tahun yang lalu, sebenarnya dia sudah menyukai pemuda tampan itu. Jadi wajar saja saat Jio berjarak dekat dengannya kali ini ia merasakan gugup luar biasa.
"Gue tanya! Lo liat Jill nggak?" tegas Jio, sembari ponselnya terus saja menghubungi nomor Jill.
Tidak ada sahutan, Oliv hanya mampu menggeleng cepat, lidahnya seolah sudah kelu duluan saat melihat wajah tampan Jio.
"Enggak? Bilang kek dari tadi!" gerutu Jio.
Lalu Jio beralih ke Celia yang berada sedikit jauh dari Oliv, gadis itu sedang memegangi sepatu sneaker berwarna pink bagai meneliti.
"Lo!" sapa Jio ketus, sebenarnya ia malas menyapa Celia ini, karena kesal perihal Celia yang mengatakan dirinya menyeramkan.
"Hemmm!" cuek Celia, matanya melirik Jio sekilas, namun hanya sedetik kemudian mengalihkan lagi pada sepatu sneaker berwarna baby pink yang hendak dibelinya itu.
"Lo liat Jill?" tanya Jio langsung.
"Kak Jill? Enggak, bukannya sama lo!" sahut Celia, ia bahkan tidak memakai embel-embel kakak saat memanggil Jio, karena menurutnya Jio juga bukan orang yang harus dihormati. Lain halnya dengan Jill, Celia ini akan baik pada orang yang baik padanya juga.
"Ya kalau gue tanya berarti dia nggak sama gue!" kesal Jio.
"Gue nggak tau! Mungkin lagi milih baju atau apa kali, cari dong situ kan abangnya!"
Pelayan itu pun mengangguk dan segera mengambilkan sepatu dengan ukuran yang diminta Celia.
Jio semakin kesal, Celia mengabaikannya? Ini pertama kalinya bagi Jio diabaikan wanita.
"Lo ada masalah apa sih sama gue? Gue tanya baik-baik ya!" Jio semakin mendekati Celia, sungguh dikatai menyeramkan oleh Celia tadi benar-benar membuatnya membenci gadis itu.
Celia? Bukannya takut, justru ia semakin mengejek Jio, "Lo ede meseleh epe sih seme gue, gue tenye bei bei ye!" tanggap Jill menirukan perkataan Jio.
Jio melotot tidak percaya, bagaimana bisa ada gadis yang sangat menyebalkan seperti Celia.
"Mana ada tanya baik-baik tapi yang ditanya aja malah dibentak, bentar lagi mungkin dimaki!" gerutu Jill tak kalah kesal.
Lah memang iya sih sebenarnya, Jio mengatakan bertanya dengan baik-baik, namun nadanya sungguh tidak baik-baik saja, dengan bentakan dan sungguh ketus.
"Lo!"
"Nyante aja bang!" Celia mengedipkan sebelah matanya genit pada Jio, lalu ia menarik turunkan alisnya bermaksud untuk meredam emosi Jio yang sebentar lagi mungkin memang akan memakinya.
"Tunggu gue bayar dulu, baru deh kita cari!" lanjutnya kemudian sembari mengambil satu pasang sepatu yang dikehendakinya dari tangan pelayan.
Jio meraup wajahnya kasar, bisa-bisanya gadis di hadapannya ini malah bercanda kala ia merasakan kekhawatiran tentang Jill.
Celia melongos berjalan menuju kasir begitu saja, ia menyenggol sedikit tubuh Oliv, "Gue duluan ya, jan lama-lama lo, Kak Jill ilang katanya!" ucap Celia.
"Hah ilang?" panik Oliv, ia segera mengambil beberapa step pakaian yang memang menarik minatnya tadi, lalu juga ikut menyetorkan barangnya di kasir.
"Ilang gimana? Bukannya tadi sama Kak Jio?" tanya Oliv saat sudah berada dekat dengan Celia.
"Ya mana gue tau! Nyari laki kali!" sahut Celia asal.
Yang padahal memang benar, saat ini Jill memang tengah mencari calon suaminya.
Bersambung...