
"Jio mana Ma?" tanya Jill, seraya mengambilkan Raiz nasi goreng untuk sarapan. Hari memang masih lumayan pagi, mereka sarapan sedikit lebih awal karena Raiz dan Jill yang harus pergi ke sekolah lumayan jauh.
Sedang Jill, sama sekali tidak melihat kembarannya itu sedari tadi, dibandingkan dirinya Jio bukanlah termasuk kaum bangun siang, kembarannya itu malah terbiasa bangun pagi-pagi sekali.
"Jio udah berangkat, katanya mau ke rumah Celia dulu, berangkat bareng!" jawab Shirleen.
Dahi Jill menyergit, benarkah? Seantusias itu? Sama sekali bukan seperti Jio.
"Biasalah, nggak mau kalah kan, kalian berangkat bareng pasti si Jio juga harus berangkat sama calonnya dong!" sambung Jason mencairkan suasana.
Raiz terlihat tidak nyaman, di sinilah perannya sebagai seorang suami harus benar-benar andil, meyakinkan Jill untuk selalu berpikiran positif, apa lagi ini menyangkut hidup kembarannya, pesan Jason semalam masih terngiang jelas di telinganya.
Yah nanti saja akan dirinya diskusikan lagi pada Jill, tidak seharusnya berpikiran buruk pada suatu hal yang belum terjadi.
...***...
"Masih marah?" selidik Jio, tatapannya lumayan manis untuk Celia, namun sayang sekali bahkan Celia tidak melihat ke arahnya.
"Cel..."
"Gue bisa berangkat sendiri!" ketusnya.
"Nggak bisa!" sahut Jio tak kalah tegas, tidak bisa seperti itu, kalau Celia menghindarinya terus-terusan seperti ini, bagaimana bisa membuat gadis itu jatuh cinta padanya.
"Nggak usah pura-pura baik deh Yo, kalau jahat kenapa nggak jahat aja sih sekalian!" Celia sudah selesai dengan sepatunya, bersiap ingin naik ke mobil, namun sayang sekali supirnya bahkan tidak tau berada di mana.
"Pak Diman..." teriaknya keras.
Namun, bukannya si supir yang keluar malah teriakannya disahuti oleh Zalin.
"Kamu berangkat sama Jio kan? Pak Diman udah Mama suruh ke pasar anterin Bi Jum." jawab Zalin, yang percayalah malah berhasil membuat Celia semakin gondok.
"Mama..."
Celia enggan melihat ke arah Jio, dia masuk lagi ke dalam bersiap untuk mogok sekolah, tidak apa kata anak-anak Guna Bhakti nantinya jika dia sampai berangkat bareng Jio. Bisa heboh itu satu Guna Bhakti.
"Eh mau ke mana kamu?" sergah Zalin.
"Celia!" berang Zalin, dia menahan tangan Celia cepat. "Kamu jangan kekanak-kanakan deh!" keluhnya.
"Ihhh apaan sih Ma!"
"Itu Jio udah nungguin dari tadi, berangkat sekolah sana!" Zalin berbisik namun dengan nada ancaman.
Dan tak ayal, Celia hanya bisa mendumel dalam hati, dilihatnya Jio yang tampak tak terusik atas penolakannya, benar-benar sudah putus urat malu, makinya.
Mau tak mau Celia harus berangkat bareng Jio hari ini, padahal itu adalah hal yang sangat dihindarinya beberapa hari ini. Dia rasa dia terlalu GeEr kalau saja Jio akan mengajaknya untuk berangkat bareng, namun nyatanya tidak hal itu bahkan menjadi kenyataan lebih cepat dari dugaannya.
"Lo kenapa sih nggak mau berangkat bareng gue?" tanya Jio, saat mereka sudah diperjalanan. Mengusap lembut tangan yang baru saja berhasil dirinya paksa melingkar di pinggangnya.
Celia hanya diam, sama sekali tidak berniat menanggapi.
"Cel..."
"..."
"Celia..."
"..."
"Calon istri..."
"Apaan sih Yo!" sahut Celia cepat, dia spontan menyahut karena Jio yang memanggilnya begitu dengan cukup keras, maklum lah mereka sedang berada di jalan dan Jio terlihat santai saja tidak tau malu memanggilnya begitu.
"Lo mau dipanggil calon istri nih baru nyahut?"
"Bisa diem nggak sih! Nggak ada malunya!" gerutu Celia.
"Cup!" Jio bahkan bertindak lebih-lebih di luar dugaan Celia, pemuda itu bahkan tanpa basa-basi mengecup singkat tangannya. Menggenggam erat dan sayangnya berhasil membuat Celia menjadi salah tingkah, entahlah kadang Celia sejurus bingung mengenai sikap Jio yang belakangan ini memang benar-benar berubah lembut memperlakukannya, menjelma menjadi sosok yang paling sabar menghadapinya, mengatakan mencintainya, dan jujur saja berhasil membuat Celia terdiam sembari berpikir, mungkinkah menerima Jio adalah hal yang paling baik untuk hidupnya saat ini.
Bersambung...