
Untuk saat ini tidak ada yang menggemaskan selain kamu!
^^^Raiz.^^^
___
Selasa, hari membahagiakan karena lagi dan lagi Jill dipanggil oleh Raiz untuk makan siang bersama.
Seperti kali ini, gadis itu tengah menatap suka pada orang yang membuatkan makan siangnya, mengapa jika di lihat dari dekat seperti ini, Raiz terasa semakin ganteng.
"Jadi nggak makannya? Orangnya diliatin mulu!" goda Raiz yang menangkap arah mata Jill lekat memandanginya.
"Eh!" Jill gelagapan, Raiz tau saja kalau dia sedang memandangi yang indah-indah.
"Dari tadi diliatin mulu, kamu itu pernah pacaran nggak sih? Atau jangan-jangan aku ini yang pertama ya?" tanya Raiz menebak, karena melihat Jill yang selalu gelagapan saat menghadapinya ia jadi ingin tau.
"Resek banget!" acuh Jill, "Siapa juga yang liatin!" gumamnya.
"Udah ngaku aja!" Raiz semakin gencar menggoda Jill, sembari tangannya mulai menyuapkan makanan untuk Jill. "A'..."
Jill menerima suapan itu, ia dengan senang hati diperlakukan manis begini.
"Kamu pernah pacaran sebelumnya?" tanya Raiz lembut.
Jill menggeleng, dia jujur saja.
"Kenapa? Nggak mungkin nggak ada yang mau kan?"
"Aku nggak sempet pacaran, nggak tau kenapa kalau sekolah bawaannya ngantuk, jadinya bikin masalah mulu." ujar Jill.
"Ya sekolah emang untuk belajar, kamu ini gimana sih?" heran Raiz.
"Kenapa? Aku bandel ya?"
Raiz mengangguk, "Bukan lagi!" jujurnya sembari menggeleng pelan, kemudian memberikan suapan lagi untuk Jill, dia bahkan senantiasa menyuapi calon istrinya itu, memang sudah ada sinyal kebucinan sepertinya.
Jill tersenyum menang, "Aku ini cuma males belajar yaaa, bukannya bodoh!" sahurnya.
"Masa?" ledek Raiz.
"Yeee nggak percayaan!"
Jill memang hanya malas belajar, namun dia tidak bodoh, bahkan selama ini nilai akhirnya masih bisa masuk sepuluh besar di setiap semester. Dia memang mewarisi sifat Jason, wajah dan sifatnya benar-benar duplikatan Jason.
"Betewe ini enak, kamu pandai banget keknya masak!" puji Jill pada makan siang yang dibuatkan Raiz untuknya. Sambal goreng kentang ati, makanan sederhana rumahan, Raiz memang lebih sering memasak menu simpel saja, karena dia yang hidup sendiri jadi sudah terbiasa.
"Cuma ala kadarnya, lumayan lah buat ngisi perut dari pada kelaparan!" ujar Raiz apa adanya.
"Hilih gayanya!"
"Kalau kamu emang suka aku bisa kok tiap hari masakin kamu, kalau malem biasanya kamu makan apa di apartemen, nanti aku kirimin makan malam lagi, mau?" tanya Raiz. ia membelai lembut pipi itu, ingin sekali rasanya ia mengecup yang merah merona itu, namun tentu saja tidak berani ia lakukan. Mengingat ini di sekolah dan juga menjaga imagenya yang adalah anak ustadz, sebentar lagi Jill juga akan halal baginya, setelah itu barulah dia bisa lebih bebas menghukum pipi dan wajah yang selalu menggemaskan itu.
Aarrgghh, itu pipi gemesin banget sih, pengen gue kunciin di kamar seharian yang kek gini mah, serasa mimpi bentar lagi mau nikah sama anaknya Tuan Jason.
"Kamu nggak keberatan?" tanya Jill, dia mau sekali, apa lagi sampai Raiz yang mengantarkan sendiri makan malamnya nanti. Bisa terus berdekatan dengan calon suaminya ini, memang itu yang dirinya mau.
Raiz menggeleng, "Enggak! Yodah, nanti malam aku kirimin makan malam ya!"
Keduanya melanjutkan makan siang, namun romantisme itu harus terhenti kala keduanya mendengar ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok.
Bersambung...
Lagi nggak? Lagi nggak?
Koment dong kalau mau lanjut!