
Apapun akan gue lakuin buat bahagiain lo, termasuk jika pada akhirnya, lo milih dia!
^^^Jio.^^^
___
Jio keluar dari kamar Jilly dengan marah, berapa kali ia mengatur napasnya diiringi emosi yang memuncak.
Rasanya ia ingin sekali menghujani Jilly dengan ciuman, namun hal itu tetap saja rasanya tidak bisa ia lakukan, saat hendak melakukannya tadi tiba-tiba saja Jio teringat akan kenangan-kenangan yang telah dirinya dan Jill buat. Ia tidak sanggup menghancurkannya.
"Maafin gue Jill!" gumamnya.
Jio pernah ingin pacaran, namun entah mengapa ia rasanya tidak menemukan kenyamanan yang diciptakan Jill untuknya pada gadis lain. Untuk itulah Jio meminta Jill membereskan siapapun gadis yang mendekatinya, dan Jill pun mau-mau saja karena juga merasakan risih saat Jio didekati gadis lain.
Braakkk!
Punggung Jio tertabrak oleh seseorang, Jio bahkan sampai terjatuh di lantai sedang orang yang menabraknya jatuh dengan arah yang berlawanan.
"Punya mata nggak sih?" bentak Jio saat bangun, ia sungguh emosi, belum kelar ia meredakan emosinya yang hampir meledak karena Jill, kini sudah ada yang berani membuat masalah padanya.
"Maaf Kak, maaf!" ucap seseorang itu penuh sesal.
"Oliv!" panggil seseorang lagi mulai mendekatinya.
Jio melihat ke sumber suara, dia menyangka pasti kedua gadis di dekatnya ini adalah anak-anak dari sahabat Papanya.
"Kak Jio!" seru Celia, ia merasa tidak nyaman hati karena dilihatnya Oliv yang sepertinya membuat masalah, dengan memberanikan diri ia mengajak Jio bicara, padahal di sekolah Celia benar-benar menghindari Jio karena menurutnya Jio adalah orang yang menyeramkan.
"Maafin kita kak, kita yang salah karena udah jalan buru-buru!" ucap Celia.
Jio mendelik tajam, kemudian tanpa basa-basi lagi dan mengabaikan permintaan maaf Celia, Jio meninggalkan Oliv dan Celia.
Celia hanya bisa menggerutu kesal dalam hatinya karena Jio mengabaikan permintaan maafnya, "Dasar es batu!" gumamnya namun masih bisa didengar oleh Jio.
"Lo nggak papa Liv?" tanya Celia peduli, dia memang baru saja mengenal Oliv, namun karena Celia adalah orang yang supel dan mudah bergaul jadi dia cepat saja akrab dengan anak dari sahabat Ayahnya itu.
"Astagah kaki lo berdarah Liv!" pekik Celia saat melihat luka di jempol kaki Oliv, seketika ia panik.
"Udah, udah gue nggak papa Cel!" ucap Oliv menenangkan, meski sembari menahan perih.
"Ada apa?" tanya Jill tiba-tiba, ia baru saja keluar kamar, namun menjumpai dua orang gadis sebaya dengannya saling memapah maka ia pun bertanya.
"Eh, Kak Jill!" sapa Celia, meski ia tidak akrab dengan Jill namun dia masih saja mencoba menyapa dan bersikap baik.
"Ada apa ini? Kenapa kakinya?" tanya Jill.
"Anu Kak, tadi Oliv jatuh!" jawab Celia, Oliv tidak menjawab, anak dari Yudha dan Weni itu memang sedikit pemalu.
"Oh, luka ya? Sebentar, aku ambil P3K dulu di kamar!" ucap Jill ramah dan kemudian kembali ke kamar meninggalkan Celia dan Oliv.
Celia saja bahkan tidak percaya dengan sikap Jill yang menurutnya begitu ramah dan peduli sesama, mengingat rumor yang beredar mengatakan bahwa anak bungsu Jason Ares Adrian itu begitu arogan dan yang paling berbahaya adalah tukang bully, semua orang yang mengenal namanya bahkan tau itu.
"Beda banget sama kembarannya yang es batu!" gerutu Celia.
"Hussh, nanti di denger orangnya!" ucap Oliv mengingatkan sembari tersenyum.
"Biarin, biar dia tau kalau dia itu batu berjalan!" ucap Celia bodo amat. Sepertinya Celia memang benar-benar mewarisi sifat Ayahnya.
"Duduk dulu biar diobatin, ini P3K-nya!" ucap Jilly sembari menaruh kotak P3K miliknya di meja.
"Eh iya Kak!"
"Iya Kak!"
Ucap Oliv dan Celia hampir bersamaan.
Bersambung...