
Gue kadang suka mikir, ngapain juga gue mau aja temenan sama mereka? Bayangin aja, yang jelek-jelek malah diborong mereka semua! Suka malu-maluin, kerjaan ribut mulu, belum lagi ghibahnya, kadang bikin gue nyesel kalau udah ikut nimbrung.
Dan pada malam yang mulai dingin ini, gue terpaksa harus ambil cuti dinas malam karena ayang beb gue yang asli lagi marahan! Puas kan lo pada?
^^^Jason.^^^
___
"Anak-anak kita udah besar aja ya!" ucap Angga saat melihat anak-anak mereka tampak asik berbincang santai.
"Udah ada yang ngenal pacaran belum ya?" tanya Yudha.
"Keknya si Kai deh, Bapaknya aja dulunya playboy!" ledek Afik.
"Ngaco Lo! Anak gue masih SMP woy!" protes Angga tidak terima, yah anak tertuanya itu bahkan masih SMP, yah meskipun tidak menutup kemungkinan tapi kayaknya tetap nggak mungkin deh menurutnya.
"Jio gimana?" tanya Yudha lagi, tertarik karena melihat Jio yang memang menjaga jarak dari rombongan para keturunan mereka.
Di sana ada, Kairavh anak tertua Angga yang saat ini masih kelas tiga SMP, di sebelahnya ada Kanesh anak kedua Angga masih juga SMP kelas 1, dan yang paling heboh di sana ada Celia, anak Afik dan Zalin, juga ada Oliv anaknya Yudha dan Weni yang tidak banyak bicara namun tetap ingin nimbrung. Jill juga mencoba menghangat perbincangan mereka, hanya Jio saja yang nampak memisahkan diri.
"Nggak bakalan ada yang mau deketin, orang dingin gitu!" sambar Angga langsung.
"Persis kek Bokapnya!" setuju Afik.
"Keknya Jio juga enggak!" ujar Jason.
"Celia kali..." kali ini Angga membalas Afik.
"Nggak ada yang mau sama si cerewet gue satu ntu!" sahut Afik.
"Yeee, lo mah malah doain anak sekate-kate!" protes Angga.
"Lah emang bener!"
"Udah udah!" lerai Yudha.
"Keknya mereka belum pernah ngebolang deh!" lanjutnya.
"Gue takutnya si Jio nurunin Bapaknya!" ledek Afik lagi yang belum puas.
"Kali aja kan!"
"Husshh! Lo pada, hobi banget keknya ngomongin bini gue!" sambung Jason.
"Kenapa Junedi? Lo takut?"
"Gue? Hemmm..."
"Noh orangnya, lihatlah tatapan matanya yang tajam menusuk dalam itu, sungguh mengena tepat di dadaku, seolah mengoyak-oyak jantungku dengan beringasnya! Ah ah aahhh! Oh... Apakah itu yang saat ini sedang kau rasakan Junedi?" ledek Afik tak habis-habis dengan dramanya.
"Hahahaha!" Angga malah tergelak tak terhindarkan, mendengar Afik mengatakan itu, ia jadi kembali teringat bagaimana Jason memohon pada Shirleen untuk memaafkannya karena telah mengatai Shirleen duyung tadi, "Sumpah ya, gue pikir-pikir nih ya, seumur-umur yang bisa ngalahin si Juned ya kayaknya cuma Shirleen, emang kena banget lo dapet bini!" lanjut Angga.
"Sialan lo pada, mau mati hah?" bentak Jason.
"Gue nggak takut lagi sama Lo sekarang, kalo Lo macem-macem tinggal panggil aja pawangnya!" ucap Angga mulai sok-sokan.
"Fik lo udah bikin nomor Shirleen sebagai panggilan tercepat belum?" lanjut Angga bertanya pada Afik.
"Udah dong... Tinggal klik, nyambung deh buat bikin pengaduan!" jawab Afik dengan semangat.
Yudha hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, kala melihat Angga dan Afik yang tampak bahagia meledek Jason habis-habisan dan juga Jason yang tampak datar seolah tiada terganggu. Untung teman pikirnya.
"Anak Lo gimana Yud?" tanya Jason mencoba mengalihkan perbincangan, dasar duo A laknat, gini nih kalau udah ketemu, Angga dan Afik memang harus diberikan jarak kayaknya.
"Oliv pemalu!" jawab Yudha.
"Beh, cocok banget itu sama Cel, Cel malah nggak tau malu!" sambung Afik sembari matanya melirik Cel yang dilihatnya juga tak berhenti mengoceh di sana.
"Hemmm, udah keciri dari Bapaknya!" telak Angga.
"Sialan lo!" dengus Afik, "Sesama suka bikin malu nggak boleh gitu dong, harus sehati, sejalan dan seirama! Heeee, gue pecat juga Lo jadi ayang beb!"
"Hahahaha, gue jadi ingat si Rara kalau lo ingetin lagi ayang beb!" sahut Afik.
"Dasar nggak normal!" decak Jason dan Yudha, berbicara dengan dihadiri Angga dan Afik memang selalu saja seperti ini, nggak pernah bisa diajak ngomong serius.
Bersambung...