
Cinta kadang memang aneh, dia bisa datang dan pergi saat bukan waktunya, dan dia bisa membuat sang hati menerima begitu saja sekaligus dengan rasa yang ingin sekali menolak, atau pergi dari sebuah kenyataan namun sayangnya tidak bisa.
^^^Jio. ^^^
___
"Jadi lo suka sama Jio?" tanya Celia, namun karena terkejut dia jadi berbicara setengah berteriak. Oliv langsung saja membekap mulutnya karena saat ini Jio berada tidak jauh dari mereka.
"Cel bisa pelan nggak?"
"Iya iya maaf, kan gue kaget!"
"Kaget? Kaget kenapa? Wajar dong cowok sekeren Kak Jio bikin orang klepek-klepek!" ujar Oliv.
"Gue enggak tuh!" Celia tetap pada pendiriannya, meski hatinya juga mulai meragu.
Enggak, udah Cel! Lo nggak boleh suka sama tuh es batu, Oliv udah suka sama dia, lo nggak niat jadi pelakor kan?
"Yeee, lo mah nggak normal kali, mata lo kebalik, coba deh lo liatin tuh bentuk wajahnya, kalo sampe lima detik Lo bisa nggak ngedip berarti lo juga termasuk pengagumnya!" ucap Oliv.
"Gue? Kagum sama dia? Behhh dosa besar Memunah! Hadas besar itu namanya!" sahut Celia percaya diri.
"Ihhh tuh kan lo nggak normal!" ledek Oliv.
...🍓🍓🍓...
"Ini Rania, anak sulung kami, Kakaknya Raiz, kamu bisa panggil Kak Nia!" ujar Ummi Hana pada Jill, mereka para Ibu-Ibu sedang berbincang, ada dirinya, Shirleen, Sri, Shakira, Rara, Zalin, Weni, dan ketiga Kakak Raiz ditambah Jilly tentunya sebagai seseorang yang harus siap menerima satu persatu wejangan.
Sementara para laki-laki sedang berbincang ditempat lain, terlihat tiga sahabat Jason yang minim akhlak juga turut hadir di sana, entah apakah akan nyambung jika digabungkan dengan kedua ustadz di sana. Shirleen bahkan juga tidak yakin akan suaminya itu.
Mereka memang tidak mengundang banyak orang, bahkan Mama Mila dan Pak Adrian juga tidak sempat datang karena Pak Adrian harus berobat di Singapura, sementara Oma Nena dan Opa Haris selama ini memang menetap di Turki.
"Dan ini, Rabia Kakak kedua Raiz, panggilannya Kak Bia!"
"Ini yang paling dekat dengan Raiz karena jarak umurnya cuma dua tahun, namanya Rahma, Raiz biasanya manggil dia Kak Ama!"
"Raiz putra satu-satunya di keluarga kami, padahal Abinya sudah menyerahkan pesantren itu padanya, tapi Raiz malah ingin menjadi guru BK, katanya dia senang mencari pengalaman!"
"Yaaa anak-anak memang seperti itu Ummi, tapi kalau kami sebagai orang tua tentunya hanya bisa mendukung apa yang dikehendaki oleh anak-anak, terus terang saya setuju jika Raiz ingin mencari pengalaman, jadi guru itu tidak mudah lho apa lagi guru BK, berbagai sifat murid harus dirinya tangani!"
Termasuk harus menghadapi anakku yang istimewa itu!
Semua orang terlibat perbincangan, Ummi Hana juga baru mengetahui kalau Shirleen adalah keturunan Turki, pantas saja mata coklat yang indah dimiliki Jill nyatanya diwariskan oleh Shirleen dan itu semakin membuat ketiga kakak Raiz begitu histeris sayang saja mereka tidak bisa berteriak keras karena mengingat rasa malu, aaahh bagi mereka semua Raiz benar-benar beruntung mendapatkan Jilly, sementara bagi keluarga dari pihak Jilly, Jilly lah yang beruntung mendapatkan Raiz.
Bersambung...