Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Sesuatu yang memuakkan.



Apa kau menyukai hidup ini?


Tidak peduli seberapa jauh jalan yang akan kita tuju, aku hanya ingin melewatinya bersamamu!


^^^Jill.^^^


___


Raiz merasa seperti ada yang hilang, sudah beberapa hari ini Jill tidak terlihat dari pandangannya, bahkan ia sampai mencari tau apa saja kegiatan anak itu.


Dilihatnya Jill yang memang tidak pernah keluar kelas. Ada rasa bersalah saat Raiz melihat itu, mungkinkah Jill sedang menghindarinya.


Tapi setidaknya itu lebih baik, mau bagaimanapun rasanya ia juga tidak bisa menolak Winda, sakit kangker darah yang diderita calonnya itu tentunya juga harus dirinya perhitungkan.


Maafin gue, andai aja gue sadar lebih awal, gue pastinya nggak bakalan nyakitin lo kayak gini!


Raiz bergumam dalam hatinya kala matanya menangkap sosok yang paling dirinya rindukan beberapa hari ini, ia rindu Jill yang selalu membuat masalah, selalu mengering genit padanya, Jill yang kadang selalu bertingkah konyol.


Satu alasan terbesarnya dulu dia tidak mengindahkan ajakan Jill untuk berpacaran adalah karena status mereka yang Raiz anggap berbeda, meski memiliki ilmu agama yang lumayan, namun Raiz masih saja khawatir tidak bisa membahagiakan Jill nanti, sungguh demi apapun ia tidak akan mau berurusan dengan Jason Ares Adrian.


"Pak Raiz!" sapa Bu Winda, wanita itu menaruh tepian rambutnya di daun telinga, tersenyum malu-malu sembari menatap suka padanya.


"Bu Winda, ada apa?" tanya Raiz.


"Lho, bukannya aku yang harus nanya, Pak Raiz kenapa? Ada perlu sama murid di kelas ini?" heran Winda.


Raiz tersenyum untuk menghindari canggung, "Tadinya hanya kebetulan lewat, saya berhenti untuk membaca pesan sebentar!" dusta Raiz.


"Ohh, begitu!" angguk Winda, "Mati Pak, aku harus mengajar!" pamit Winda, karena jadwalnya kali ini memang mengajar di kelas Jill.


Raiz mengangguk lalu meninggalkan Winda duluan, bagus sekali! Setiap kali berhubungan dengan Jill, pasti ada saja yang membuat Raiz harus berbohong. Raiz memejamkan matanya menyayangkan itu, sepertinya ia harus pulang lebih awal hari ini untuk menyegarkan pikirannya yang mulai tidak beres.


...***...


Jason sedang memantau perkembangan Jill, dia tersenyum miris saat melihat Raiz lagi-lagi menolak putrinya, sedikit tidak terima melihat pemuda itu karena telah dengan beraninya membuat Jill-nya menangis.


"Lihat ini!" pinta Roy.


Jason mengambil sebuah MacBook yang diberikan Roy, lalu dilihatnya sebuah kenyataan yang benar-benar memuakkan.


"Apa dia secinta itu?" tanyanya pada Roy.


Aku mana tau Tuan Muda, memangnya aku pengamat cinta?


Satu hal yang belum berubah dari diri Roy adalah dia masih saja sering mengumpat dalam hati tentang Tuan Mudanya itu.


"Kapan nikahannya?" tanya Jason lagi.


"Hari minggu ini Tuan Muda!" jawab Roy.


"Hemmm, masih ada waktu, sepulang dari sini nanti kita mampir ke apartemen Jill sebentar!" pintanya.


"Baik Tuan Muda!" angguk Roy.


Jason tidak habis pikir, mengapa banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta, sudah tau kalau hubungan yang tercipta dari kebohongan itu tentulah tidak akan bertahan lama karena tidak direstui Tuhan. Benar-benar memuakkan menurutnya.


"Kalau begini aku jadi ingin bermain-main lagi kan! Tapi aku ini sudah tua, sudah saatnya mendekatkan diri untuk pembekalan di akhirat!" gumamnya.


"Shirleen juga pasti akan marah padaku! Jadi aku harus bagaimana?"


"Roy, apa kau punya solusi?" tanyanya pada Roy.


"Aku? Solusi apa Tuan Muda?" heran Roy, dia masih mengerjakan sesuatu di laptopnya saat Jason bertanya, jadi tentu saja tidak fokus.


"Ah dasar bodoh!" umpat Jason lagi.


Bersambung...