Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Kedatangan Jason ke rumah Afik.



Pagi ini entah mengapa Afik mendapatkan telepon dari sahabat kentalnya itu untuk tidak kemana-mana, Celia juga dipastikan harus tetap tinggal di rumah, katanya mereka akan segera datang.


Afik benar-benar tidak mengerti mengapa tiba-tiba Jason bertindak begitu, apakah akan ada serangan di sekitar rumahnya nanti? Ah, Afik sepertinya terlalu sering menonton film action belakangan ini.


Beberapa menit kemudian mobil Jason sudah terparkir di pekarangan rumahnya, Afik yang saat itu hanya memakai celana kolor dan baju kaos babe babe pun menyergit heran kala Shirleen juga turut hadir di sana.


"Ngapa sih Junedi?" tanya Afik.


"Udah masuk dulu, gue ada mau ngomong sama lo!" jawab Jason.


"Wuidiihh nakutin gue juga lo!" santai Afik.


Ia juga mempersilakan Jio dan Shirleen untuk duduk, dia terheran karena Jio yang menampilkan sorot mata redup saat memandangnya.


"Ada apa?" tanya Afik, "Bik, tolong dong kopi sama cemilannya, kalau Ilen mau apa? Teh aja ya! Oh ya Bik, sekalian dong panggilin Zalin juga!" suruhnya pada pekerja di rumahnya.


"Baik Tuan!"


Setelah dihidangkan cemilan untuk menemani kopi mereka, Afik lanjut membuka suara, ia bertanya ada apa Jason bertandang ke rumahnya sepagi ini, apakah sahabatnya itu nggak ngantor, tumben-tumbenan tanyanya.


"Gue mau lamar Cel buat Jio!" ujar Jason.


"Puuffttt!" kopi itu memang panas, namun sungguh Afik masih bisa menahannya jika saja Jason tidak mengajaknya bercanda.


"Lo gila apa gimana? Doyan banget koleksi mantu? Baru juga kemaren dapet mantu udah main lamar aja!" gerutu Afik, ia masih kesal karena kopinya yang tumpah.


"Gue serius!" kata Jason lagi.


"Iye gue tau, lagian siapa yang ngajakin becanda sih, tapi sayangnya anak gue nggak mau nikah muda!" jawab Afik.


"Haaahhh!" Jason menghela napas berat, kalau sudah begitu Afik benar-benar tidak bisa menganggap Jason main-main lagi.


"Lo kayaknya berat banget, ada apa sih?" tanya Afik.


Jason mengambil alih tangan Afik lalu membawanya menuju halaman belakang, "Eh lepasin kali gue bisa jalan sendiri, orang ini rumah gue, lo kira gue nggak tau arah jalan!" protes Afik lagi.


"Diem bisa nggak sih, gue beneran serius ini Fik, Lo mah becanda mulu, susah emang ngomong sama lo!"


"Iye iye, paan sih?"


"Fik!" Jason mulai ingin menjelaskan, namun sepertinya dia tidak tega menyakiti hati Afik.


"Hehhh..."


"Gue mau ngomong!" ujar Jason.


"Iye apaan!"


"Gue mau lamar anak lo buat Jio!"


"Kenapa? Kembar ngiri kembarannya nikah?"


"Anak gue harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada anak lo!"


"Anak gue? Kenapa anak gue?"


"Oh..." jawab Afik masih santai, lalu seperdetik kemudian, "Eh buset, kira-kira dong, maksud Lo anak gue udah nggak perawan? Apa gimana, itu maksudnya Jio yang ngambil perawan anak gue?" tanya Afik panik.


Dengan berat hati Jason mengangguk.


"Gimana ceritanya, lo jangan main-main lo, gue gini-gini juara taekwondo!" Afik mengepalkan tangannya, dia sudah siap untuk melampiaskan amarahnya jika sampai yang didengarnya itu benar.


"Maafin gue, gue nggak bisa didik anak gue dengan benar!" jujur Jason.


"Gue nggak butuh itu, gue tanya yang bener lo... Lo jangan main-main Junedi, gue kecil-kecil gini masih bisa marahin itu rahang Jio!"


"Gue nggak main-main Fik, dan kalau Lo emang mau ngelampiasin semuanya ke Jio, gue udah pasrah dah, Jio katanya udah pernah bilang ke Cel kalau dia mau tanggung jawab, tapi Cel sayangnya nggak mau!" ujar Jason.


"Heh, Brengsek banget itu anak lo, baru juga belajar negang udah beraninya nerobos perawan anak orang!"


"Jadi itu terserah Lo, gue sih maunya anak gue tanggung jawab, kita nggak tau apa yang terjadi ntar, Celia bisa aja hamil..."


"Bugghh!"


"Brengsek bener lo jadi orang, jangan bilang gitu woy, gue besarin dia sepenuh hati, anak lo malah dengan nggak ada atinya ngerusak dia, pantesan mata anak gue sembab dari kemaren, ya Tuhan Cel... " Afik terduduk, ia memegangi kepalanya, tidak dia tidak bisa menerima ini dengan mudah.


"Fik... maafin gue ya!" mohon Jason.


"Fik..."


"Apa salah anak gue Son, anak gue bahkan bilang dia takut kalau sama Jio, kenapa pula bisa... Arrgghhh!"


"Bugh!"


"Bugh!"


Afik meninju dinding, darah segar mengalir di tangannya, Jason segera menghentikan itu, "Fik, kota bisa bicarakan ini baik-baik Fik, kita cari solusinya sama-sama!"


"Lo jangan nyakitin diri lo sendiri, gue mohon!"


Afik lalu berdiri, dia melangkah menuju ruang tamu lagi, menatap Jio dengan garangnya, "Jio Adshkan, aku benar-benar akan membunuhmu!" teriaknya


Afik menemui Jio, dia mengambil kerah baju Jio dan mengangkatnya, Jio tau dia pantas menerimanya, jadi dia sama sekali tidak melawan.


"Bugh!"


"Bugh!"


"Bang*at, maju lo, gue mau liat gimana jagoan ini bisa ngadepin gue, maju lo!" tantang Afik, yang lalu ditenangkan oleh Jason, Zalin juga berusaha menenangkan suaminya, dia tidak mengerti namun tetap saja membaurkan Afik memukuli orang tentunya tidak benar.


Bersamaan dengan itu, Celia yang baru saja keluar dari kamar sedang menuruni tangga terkejut akibat kemarahan Papanya, "Papa..." teriaknya saat mengetahui siapa yang tengah dihajar oleh Papanya itu.


"Papa stop! Udah jangan gini, aku mohon!"


"Cel, bilang sama dia, tanya sama dia, apa salah kamu? Apa salah anak Papa ini? Sehingga bajingan ini bisa merebut segalanya?" teriak Afik keras.


"Papa udah, Papa udah... Please Cel mohon, udah..."


"Gue tanya, apa salah anak gue?" tanya Afik.


"GUE TANYA! LO DENGER NGGAK? APA SALAH ANAK GUE HAH?"


"Cel nggak salah apa-apa kok Om, Jio emang suka sama Cel, tapi Cel selalu nolak Jio!" ujar Jio, berbohong untuk menutupi apa yang dirinya rasakan sebenarnya.


"Suka? Jadi gitu cara kamu suka sama orang? Apa menurut kamu tanda suka kamu itu keren?" tanya Afik lagi.


"Maafin Jio Om!"


"Maaf? Maaf kamu bilang? Apa maaf kamu bisa mengembalikan apa yang udah kamu rampas dari anak aku? Hah aku tanya?"


"Sakit jiwa kamu yaaa, dengerin yaaa, kalau bukan kamu anaknya Jason, kamu udah mati di tangan aku hari ini, bener! Kamu liat wajah saya, liat? Wajah ini wajah kecewa, wajah yang nggak bisa menggambarkan betapa kesakitan saya, bertapa saya tidak bisa menerimanya!"


"Cel, bilang sama Papa, kamu nggak mau kan sama dia, kamu nggak pasrah gitu aja kan?"


Celia hanya bisa menggeleng, karena itulah kenyataannya, dia bagai di perk*sa oleh bajingan tampan malam itu.


"Kamu nangis ya, pasti kamu sedih ya, kamu pasti bingung ya, maafin Papa Nak, maafin Papa yang nggak peka, maafin Papa!"


Rasa haru itu benar-benar membuat hati Jason teriris, sungguh dia tidak pernah menginginkan hal semacam ini mewarnai persahabatannya dengan Afik.


Zalin juga menangis, kini dia merangkul suami dan anaknya itu, tidak percaya anak Jason yang menjadi kebanggaannya juga adalah orang yang merampas kesucian putrinya.


"Maafin Mama sayang, maafin Mama!"


"Papa minta maaf Cel, Papa minta maaf!"


"Aaarrggghhh, hah hah hah..."


Hati Afik benar-benar hancur saat ini, kesayangannya kini telah tersakiti dan dia tidak bisa menerima dengan mudah.


"Papa tanya sama kamu, kali ini benar-benar serius? Kamu mau nikah sama Jio sayang?" tanya Afik.


Celia dilanda kebingungan, bagaimana bisa dirinya menikah dengan Jio, sedang ada seseorang yang sungguh tergila-gila dengan pemuda itu, bagaimana bisa rasanya dia mengkhianati Oliv. Apa yang akan dikatakannya pada Oliv nanti.


...***...


Pagi ini entah mengapa Afik mendapatkan telepon dari sahabat kentalnya itu untuk tidak kemana-mana, Celia juga dipastikan harus tetap tinggal di rumah, katanya mereka akan segera datang.


Afik benar-benar tidak mengerti mengapa tiba-tiba Jason bertindak begitu, apakah akan ada serangan di sekitar rumahnya nanti? Ah, Afik sepertinya terlalu sering menonton film action belakangan ini.


Beberapa menit kemudian mobil Jason sudah terparkir di pekarangan rumahnya, Afik yang saat itu hanya memakai celana kolor dan baju kaos babe babe pun menyergit heran kala Shirleen juga turut hadir di sana.


"Ngapa sih Junedi?" tanya Afik.


"Udah masuk dulu, gue ada mau ngomong sama lo!" jawab Jason.


"Wuidiihh nakutin gue juga lo!" santai Afik.


Ia juga mempersilakan Jio dan Shirleen untuk duduk, dia terheran karena Jio yang menampilkan sorot mata redup saat memandangnya.


"Ada apa?" tanya Afik, "Bik, tolong dong kopi sama cemilannya, kalau Ilen mau apa? Teh aja ya! Oh ya Bik, sekalian dong panggilin Zalin juga!" suruhnya pada pekerja di rumahnya.


"Baik Tuan!"


Setelah dihidangkan cemilan untuk menemani kopi mereka, Afik lanjut membuka suara, ia bertanya ada apa Jason bertandang ke rumahnya sepagi ini, apakah sahabatnya itu nggak ngantor, tumben-tumbenan tanyanya.


"Gue mau lamar Cel buat Jio!" ujar Jason.


"Puuffttt!" kopi itu memang panas, namun sungguh Afik masih bisa menahannya jika saja Jason tidak mengajaknya bercanda.


"Lo gila apa gimana? Doyan banget koleksi mantu? Baru juga kemaren dapet mantu udah main lamar aja!" gerutu Afik, ia masih kesal karena kopinya yang tumpah.


"Gue serius!" kata Jason lagi.


"Iye gue tau, lagian siapa yang ngajakin becanda sih, tapi sayangnya anak gue nggak mau nikah muda!" jawab Afik.


"Haaahhh!" Jason menghela napas berat, kalau sudah begitu Afik benar-benar tidak bisa menganggap Jason main-main lagi.


"Lo kayaknya berat banget, ada apa sih?" tanya Afik.


Jason mengambil alih tangan Afik lalu membawanya menuju halaman belakang, "Eh lepasin kali gue bisa jalan sendiri, orang ini rumah gue, lo kira gue nggak tau arah jalan!" protes Afik lagi.


"Diem bisa nggak sih, gue beneran serius ini Fik, Lo mah becanda mulu, susah emang ngomong sama lo!"


"Iye iye, paan sih?"


"Fik!" Jason mulai ingin menjelaskan, namun sepertinya dia tidak tega menyakiti hati Afik.


"Hehhh..."


"Gue mau ngomong!" ujar Jason.


"Iye apaan!"


"Gue mau lamar anak lo buat Jio!"


"Kenapa? Kembar ngiri kembarannya nikah?"


"Anak gue harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada anak lo!"


"Anak gue? Kenapa anak gue?"


"Oh..." jawab Afik masih santai, lalu seperdetik kemudian, "Eh buset, kira-kira dong, maksud Lo anak gue udah nggak perawan? Apa gimana, itu maksudnya Jio yang ngambil perawan anak gue?" tanya Afik panik.


Dengan berat hati Jason mengangguk.


"Gimana ceritanya, lo jangan main-main lo, gue gini-gini juara taekwondo!" Afik mengepalkan tangannya, dia sudah siap untuk melampiaskan amarahnya jika sampai yang didengarnya itu benar.


"Maafin gue, gue nggak bisa didik anak gue dengan benar!" jujur Jason.


"Gue nggak butuh itu, gue tanya yang bener lo... Lo jangan main-main Junedi, gue kecil-kecil gini masih bisa marahin itu rahang Jio!"


"Gue nggak main-main Fik, dan kalau Lo emang mau ngelampiasin semuanya ke Jio, gue udah pasrah dah, Jio katanya udah pernah bilang ke Cel kalau dia mau tanggung jawab, tapi Cel sayangnya nggak mau!" ujar Jason.


"Heh, Brengsek banget itu anak lo, baru juga belajar negang udah beraninya nerobos perawan anak orang!"


"Jadi itu terserah Lo, gue sih maunya anak gue tanggung jawab, kita nggak tau apa yang terjadi ntar, Celia bisa aja hamil..."


"Bugghh!"


"Brengsek bener lo jadi orang, jangan bilang gitu woy, gue besarin dia sepenuh hati, anak lo malah dengan nggak ada atinya ngerusak dia, pantesan mata anak gue sembab dari kemaren, ya Tuhan Cel... " Afik terduduk, ia memegangi kepalanya, tidak dia tidak bisa menerima ini dengan mudah.


"Fik... maafin gue ya!" mohon Jason.


"Fik..."


"Apa salah anak gue Son, anak gue bahkan bilang dia takut kalau sama Jio, kenapa pula bisa... Arrgghhh!"


"Bugh!"


"Bugh!"


Afik meninju dinding, darah segar mengalir di tangannya, Jason segera menghentikan itu, "Fik, kota bisa bicarakan ini baik-baik Fik, kita cari solusinya sama-sama!"


"Lo jangan nyakitin diri lo sendiri, gue mohon!"


Afik lalu berdiri, dia melangkah menuju ruang tamu lagi, menatap Jio dengan garangnya, "Jio Adshkan, aku benar-benar akan membunuhmu!" teriaknya


Afik menemui Jio, dia mengambil kerah baju Jio dan mengangkatnya, Jio tau dia pantas menerimanya, jadi dia sama sekali tidak melawan.


"Bugh!"


"Bugh!"


"Bang*at, maju lo, gue mau liat gimana jagoan ini bisa ngadepin gue, maju lo!" tantang Afik, yang lalu ditenangkan oleh Jason, Zalin juga berusaha menenangkan suaminya, dia tidak mengerti namun tetap saja membaurkan Afik memukuli orang tentunya tidak benar.


Bersamaan dengan itu, Celia yang baru saja keluar dari kamar sedang menuruni tangga terkejut akibat kemarahan Papanya, "Papa..." teriaknya saat mengetahui siapa yang tengah dihajar oleh Papanya itu.


"Papa stop! Udah jangan gini, aku mohon!"


"Cel, bilang sama dia, tanya sama dia, apa salah kamu? Apa salah anak Papa ini? Sehingga bajingan ini bisa merebut segalanya?" teriak Afik keras.


"Papa udah, Papa udah... Please Cel mohon, udah..."


"Gue tanya, apa salah anak gue?" tanya Afik.


"GUE TANYA! LO DENGER NGGAK? APA SALAH ANAK GUE HAH?"


"Cel nggak salah apa-apa kok Om, Jio emang suka sama Cel, tapi Cel selalu nolak Jio!" ujar Jio, berbohong untuk menutupi apa yang dirinya rasakan sebenarnya.


"Suka? Jadi gitu cara kamu suka sama orang? Apa menurut kamu tanda suka kamu itu keren?" tanya Afik lagi.


"Maafin Jio Om!"


"Maaf? Maaf kamu bilang? Apa maaf kamu bisa mengembalikan apa yang udah kamu rampas dari anak aku? Hah aku tanya?"


"Sakit jiwa kamu yaaa, dengerin yaaa, kalau bukan kamu anaknya Jason, kamu udah mati di tangan aku hari ini, bener! Kamu liat wajah saya, liat? Wajah ini wajah kecewa, wajah yang nggak bisa menggambarkan betapa kesakitan saya, bertapa saya tidak bisa menerimanya!"


"Cel, bilang sama Papa, kamu nggak mau kan sama dia, kamu nggak pasrah gitu aja kan?"


Celia hanya bisa menggeleng, karena itulah kenyataannya, dia bagai di peek*sa oleh bajingan tampan malam itu.


"Kamu nangis ya, pasti kamu sedih ya, kamu pasti bingung ya, maafin Papa Nak, maafin Papa yang nggak peka, maafin Papa!"


Rasa haru itu benar-benar membuat hati Jason teriris, sungguh dia tidak pernah menginginkan hal semacam ini mewarnai persahabatannya dengan Afik.


Zalin juga menangis, kini dia merangkul suami dan anaknya itu, tidak percaya anak Jason yang menjadi kebanggaannya juga adalah orang yang merampas kesucian putrinya.


"Maafin Mama sayang, maafin Mama!"


"Papa minta maaf Cel, Papa minta maaf!"


"Aaarrggghhh, hah hah hah..."


Hati Afik benar-benar hancur saat ini, kesayangannya kini telah tersakiti dan dia tidak bisa menerima dengan mudah.


"Papa tanya sama kamu, kali ini benar-benar serius? Kamu mau nikah sama Jio sayang?" tanya Afik.


Celia dilanda kebingungan, bagaimana bisa dirinya menikah dengan Jio, sedang ada seseorang yang sungguh tergila-gila dengan pemuda itu, bagaimana bisa rasanya dia mengkhianati Oliv. Apa yang akan dikatakannya pada Oliv nanti.


...***...


Pagi ini entah mengapa Afik mendapatkan telepon dari sahabat kentalnya itu untuk tidak kemana-mana, Celia juga dipastikan harus tetap tinggal di rumah, katanya mereka akan segera datang.


Afik benar-benar tidak mengerti mengapa tiba-tiba Jason bertindak begitu, apakah akan ada serangan di sekitar rumahnya nanti? Ah, Afik sepertinya terlalu sering menonton film action belakangan ini.


Beberapa menit kemudian mobil Jason sudah terparkir di pekarangan rumahnya, Afik yang saat itu hanya memakai celana kolor dan baju kaos babe babe pun menyergit heran kala Shirleen juga turut hadir di sana.


"Ngapa sih Junedi?" tanya Afik.


"Udah masuk dulu, gue ada mau ngomong sama lo!" jawab Jason.


"Wuidiihh nakutin gue juga lo!" santai Afik.


Ia juga mempersilakan Jio dan Shirleen untuk duduk, dia terheran karena Jio yang menampilkan sorot mata redup saat memandangnya.


"Ada apa?" tanya Afik, "Bik, tolong dong kopi sama cemilannya, kalau Ilen mau apa? Teh aja ya! Oh ya Bik, sekalian dong panggilin Zalin juga!" suruhnya pada pekerja di rumahnya.


"Baik Tuan!"


Setelah dihidangkan cemilan untuk menemani kopi mereka, Afik lanjut membuka suara, ia bertanya ada apa Jason bertandang ke rumahnya sepagi ini, apakah sahabatnya itu nggak ngantor, tumben-tumbenan tanyanya.


"Gue mau lamar Cel buat Jio!" ujar Jason.


"Puuffttt!" kopi itu memang panas, namun sungguh Afik masih bisa menahannya jika saja Jason tidak mengajaknya bercanda.


"Lo gila apa gimana? Doyan banget koleksi mantu? Baru juga kemaren dapet mantu udah main lamar aja!" gerutu Afik, ia masih kesal karena kopinya yang tumpah.


"Gue serius!" kata Jason lagi.


"Iye gue tau, lagian siapa yang ngajakin becanda sih, tapi sayangnya anak gue nggak mau nikah muda!" jawab Afik.


"Haaahhh!" Jason menghela napas berat, kalau sudah begitu Afik benar-benar tidak bisa menganggap Jason main-main lagi.


"Lo kayaknya berat banget, ada apa sih?" tanya Afik.


Jason mengambil alih tangan Afik lalu membawanya menuju halaman belakang, "Eh lepasin kali gue bisa jalan sendiri, orang ini rumah gue, lo kira gue nggak tau arah jalan!" protes Afik lagi.


"Diem bisa nggak sih, gue beneran serius ini Fik, Lo mah becanda mulu, susah emang ngomong sama lo!"


"Iye iye, paan sih?"


"Fik!" Jason mulai ingin menjelaskan, namun sepertinya dia tidak tega menyakiti hati Afik.


"Hehhh..."


"Gue mau ngomong!" ujar Jason.


"Iye apaan!"


"Gue mau lamar anak lo buat Jio!"


"Kenapa? Kembar ngiri kembarannya nikah?"


"Anak gue harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada anak lo!"


"Anak gue? Kenapa anak gue?"


"Oh..." jawab Afik masih santai, lalu seperdetik kemudian, "Eh buset, kira-kira dong, maksud Lo anak gue udah nggak perawan? Apa gimana, itu maksudnya Jio yang ngambil perawan anak gue?" tanya Afik panik.


Dengan berat hati Jason mengangguk.


"Gimana ceritanya, lo jangan main-main lo, gue gini-gini juara taekwondo!" Afik mengepalkan tangannya, dia sudah siap untuk melampiaskan amarahnya jika sampai yang didengarnya itu benar.


"Maafin gue, gue nggak bisa didik anak gue dengan benar!" jujur Jason.


"Gue nggak butuh itu, gue tanya yang bener lo... Lo jangan main-main Junedi, gue kecil-kecil gini masih bisa marahin itu rahang Jio!"


"Gue nggak main-main Fik, dan kalau Lo emang mau ngelampiasin semuanya ke Jio, gue udah pasrah dah, Jio katanya udah pernah bilang ke Cel kalau dia mau tanggung jawab, tapi Cel sayangnya nggak mau!" ujar Jason.


"Heh, Brengsek banget itu anak lo, baru juga belajar negang udah beraninya nerobos perawan anak orang!"


"Jadi itu terserah Lo, gue sih maunya anak gue tanggung jawab, kita nggak tau apa yang terjadi ntar, Celia bisa aja hamil..."


"Bugghh!"


"Brengsek bener lo jadi orang, jangan bilang gitu woy, gue besarin dia sepenuh hati, anak lo malah dengan nggak ada atinya ngerusak dia, pantesan mata anak gue sembab dari kemaren, ya Tuhan Cel... " Afik terduduk, ia memegangi kepalanya, tidak dia tidak bisa menerima ini dengan mudah.


"Fik... maafin gue ya!" mohon Jason.


"Fik..."


"Apa salah anak gue Son, anak gue bahkan bilang dia takut kalau sama Jio, kenapa pula bisa... Arrgghhh!"


"Bugh!"


"Bugh!"


Afik meninju dinding, darah segar mengalir di tangannya, Jason segera menghentikan itu, "Fik, kota bisa bicarakan ini baik-baik Fik, kita cari solusinya sama-sama!"


"Lo jangan nyakitin diri lo sendiri, gue mohon!"


Afik lalu berdiri, dia melangkah menuju ruang tamu lagi, menatap Jio dengan garangnya, "Jio Adshkan, aku benar-benar akan membunuhmu!" teriaknya


Afik menemui Jio, dia mengambil kerah baju Jio dan mengangkatnya, Jio tau dia pantas menerimanya, jadi dia sama sekali tidak melawan.


"Bugh!"


"Bugh!"


"Bang*at, maju lo, gue mau liat gimana jagoan ini bisa ngadepin gue, maju lo!" tantang Afik, yang lalu ditenangkan oleh Jason, Zalin juga berusaha menenangkan suaminya, dia tidak mengerti namun tetap saja membaurkan Afik memukuli orang tentunya tidak benar.


Bersamaan dengan itu, Celia yang baru saja keluar dari kamar sedang menuruni tangga terkejut akibat kemarahan Papanya, "Papa..." teriaknya saat mengetahui siapa yang tengah dihajar oleh Papanya itu.