
Bahkan jika aku harus berjuang, tetap saja aku akan mencobanya!
^^^Jill.^^^
___
"Papa kenapa sih pake bilang-bilang nama Raiz? Aku masih ngantuk berat tau!" keluh Jill, saat ini dirinya dan Jason sedang menuju sekolah, Jilly berangkat memang diantar Jason langsung, meski terhitung jauh namun Jason tetap menyempatkan diri untuk mengantar putrinya itu.
"Ya abis kamu nggak bakalan bangun kalau nggak dibilangin nama pawangnya!" sahut Jason dengan masih fokus mengemudi.
"Tapi kan bisa biarin aku tidur aja, sholat kalau kepaksa juga nggak bagus Pa! Nggak bakalan dapet pahala!" tangkis Jill lagi beralasan, entah dapat pemahaman dari mana dia tentang pernyataan semacam itu.
"Kamu ini Jill, nggak mau kalah banget kalau debat! Pernyataan konyol macam apa itu? Sholat lima waktu itu wajib Jill, ibadah wajib itu memang harus dipaksa, kita harus senantiasa memaksakan diri untuk selalu mengerjakannya, urusan ikhlasnya kamu melakukan kewajiban beribadah itu nggak ada hubungannya sama kepaksa atau enggak, tapi ditujukan untuk siapa!" jelas Jason.
"Selama kamu ngelakuinnya semata-mata untuk Allah, kamu ikhlas atau enggak tetep bakalan dapet pahala, kecuali yaaa kalau kamu sholat untuk Raiz Raiz kamu itu!" goda Jason melanjutkan.
Semenjak menikah dengan Shirleen dan melalui banyak tragedi, Jason memang sudah lebih dekat dengan sang pencipta, apa lagi berkawankan Roy dan Darren, Jason bersyukur dirinya masih diberikan kesempatan untuk berubah lebih mendekatkan diri.
"Iiihh Papa!" dengus Jill kesal.
"Harusnya gini, kamu itu niat sholat untuk memperbaiki diri, buat memantapkan diri kamu, ya itu tujuannya bagus!"
"Ihh Papa udah ah!" keluh Jill. Ia paling malas mendengar wejangan tentang agama, karena menurutnya seperti dirinya ini terlihat begitu laknat penuh dosa.
"Gimana mau jadi istrinya Raiz, denger Papa ganteng ceramah aja kamu males, apa lagi sama calon mertuamu yang Kyai itu!" balas Jason telak.
"Papa, aku tuh sebenernya masih ragu tau!" adu Jill.
"Ya kalau ragu tinggalin aja!" enteng Jason.
"Enak aja!"
"Lah, terus?"
"Gimana caranya biar Raiz batal nikah?" spontan Jill mengutarakan keinginannya.
"Papa, emangnya Papa nggak mau punya mantu kayak Raiz?"
"Papa sih mau aja Jill, cuma Papa nggak tega sama Raiz!" jawab Jason.
"Lah kenapa? Nggak tega apanya?"
"Masa dia harus dapet yang modelan kek kamu!"
"Papaaaa!" Jill mencubit gemas lengan Papanya, "Aku ini beneran anak kandung bukan sih? Apa aku ketuker pas masih bayi?" Jill kesal sekali dengan Papanya itu.
"Udah udah Jill, Papa lagi nyetir ini ntar nabrak!"
"Pengen aku giveaway aja tau nggak punya Papa kok gini amat, nggak ada mendukung anaknya sama sekali!" gerutu Jill.
"Ya abis kamu, standarnya ketinggian! Benerin diri dulu seenggaknya baru bisa cinta-cintaan!"
"Tapi kan nggak bisa juga disalahin kalau aku jatuh cintanya sekarang!" sahut Jill nggak mau kalah.
Jason hanya bisa menggeleng pelan, berbicara dengan Jill kadang memang harus ekstra sabar, mengapa yang buruk-buruk dari dirinya dulu selalu saja menurun pada Jill, termasuk nggak suka dibantah!
"Timenya emang nggak salah, kan udah dibilang kamunya yang harus memperbaiki diri!" gumam Jason hampir tidak terdengar.
"Papa, kalau misal aku nikah muda nih ya, kira-kira Papa setuju nggak!" tanya Jill.
"Enggak!" jawab Jason cepat.
'Kok gitu? Nggak adil banget situ, dulunya boleh-boleh aja nikah muda!" protes Jill.
"Haaahhh!" Jason menghela napasnya berat, semenjak bertemu dengan Raiz sudah berapa kali Jill mengatakan ingin menikah muda, Jason sebenarnya bukan tidak ingin menyetujui, namun ia lebih seperti takut saja. Takut kalau Jilly tidak bisa memperbaiki diri nantinya, takut Jilly akan bermasalah dengan orang lain, sementara dia... Jason tidak bisa berjanji jika tidak akan melayangkan tindakan jika ada orang yang menyakiti putrinya itu.
"Jilly, Papa nggak akan larang kamu ngelakuin apapun selama itu untuk kebaikan, tapi Nak... Papa harap kamu mengatakan ini benar-benar melewati pemikiran yang matang, jika hanya ucapan spontan yang kamu tanyakan dengan tujuan cuma mau liat gimana tanggapan Papa tentang kamu yang mau nikah, kalau kamu nikah muda gimana? Jawabannya tetap enggak!" jelas Jason lembut namun tegas.
Bersambung...