
Tolong jelasin, kenapa nama dan wajah lo mulai memenuhi kuping gue, mata gue, otak gue, bahkan jantung gue aja jadi sulit dikondisiin tiap gue denger nama lo? Lo nggak sedang melet gue kan!"
^^^Celia.^^^
___
"Lo masih mau bungkam?" tanya Lita, teman sekelas Celia, mereka masih penasaran tentang kedekatan Jio dan sahabatnya itu.
"Ya emang gue nggak ada apa-apa kok sama tuh es batu!" jawab Celia apa adanya.
Malam ini, dia nginep di rumah Eveline, mengerjakan tugas kelompok yang padahal sudah mereka kerjakan di sekolah tadi, sementara malam ini jadwal mereka nonton Drakor bareng, Celia berbohong perihal itu dengan Zalin Bundanya.
"Nggak percaya gue..."
"Dasar munafik!"
"Ngakunya nggak suka sama es batu, heh malah udah digebet duluan."
"Ja*ang!"
"Tapi gue suka!"
"Aisshhh, dasar lo!"
Ketiga sahabat Celia, Lita, Eve, dan Chanda tampak mengumpati Celia, tapi sekaligus juga mendukung hubungannya dengan Jio.
"Gaess, keknya kalian pada salah paham deh!" ucap Celia.
"Salah paham gimana Cel, jelas-jelas dia rangkul lo kek kemaren, mesra abis gitu!" kekeh Eve.
"Gue aja yang biasa nganan malah ngiri!" Lita nggak mau kalah.
"Bener!" dukungan suara dari Chanda.
"Nggak percaya..."
"Itu aja lo udah bisa manggil nama, biasanya kan lo panggil Kak Jio ya es batu!" koreksi Eve.
Jill cemberut, percuma juga dirinya berkilah seperti apa, tidak akan ada yang percaya karena memang benar Jio bahkan memegang tangannya mesra kemarin, seolah mereka benar-benar terlibat hubungan khusus. Tapi sayangnya tentu tidak, Celia tentunya sudah pasti menganggap itu tidak mungkin, Jio bahkan tidak mungkin menyukainya, yang dilakukan Jio kemarin tentunya cuma untuk memanas-manasi Ariana, tidak lebih dan jangan coba-coba menganggap serius.
"Atau sebenernya selama ini lo itu nyembunyiin sesuatu dari kita?" terka Lita.
Dahi Celia mengkerut, tuduhan apa lagi ini pikirnya, dia sudah bagai tersangka yang sedang disidak.
"Lo udah lama pacaran sama Kak Jio, tapi kalian berdua sengaja backstreet? Karena... Karena apa yaaa?"
"Karena... Ya karena suatu hal mungkin, kayak di novel-novel online gitu, udah dijodohin!" kali ini Chanda, dia makin ngaco.
"Kayaknya otak kalian emang udah terkontaminasi novel online deh, lo pikir gue mau nikah muda, cuma di novel online aja kali ada pasangan yang udah nikah diam-diam sama ketos, sama most wanted, sama kakel tampan, dingin tapi bucin, ini real woy, real! Ya kali!" dengus Celia kesal, semenjak perlakukan Jio yang tiba-tiba itu, tiap hari bahkan di setiap saat bersama, ketiga sahabatnya itu selalu saja membahas Jio sebagai topik terhangat.
"Lah terus apa dong?"
"Gue nggak ada hubungan sama si es batu, oke! Lo lo lo pada harusnya bisa dikasih paham dan nggak ada lagi yang bahas dia, pengang kuping gue denger kalian ngoceh Jio Jio Jio mulu!" sewot Celia.
"Tapi masih jadi misteri, dan gue nggak suka penasaran!" keluh Lita.
"Ya kalau lo nggak puas, lo bisa tanya langsung sama tuh orang, gue nggak yakin dia masih bersikap sama kek kemaren, dia itu jelas banget cuma mau manas-manasin si Ariana." ujar Celia, dia mengambil guling dan kemudian menutup matanya, bersiap tidur.
"Cel, Cel... Ah lo nggak asik, padahal gue ngarepnya lo emang beneran pacaran sama Kak Jio!"
"Iya, kalau gue jadi lo, udah deh nggak bakalan gue biarin kesempatan langka kayak kemaren, udah gue cium itu wajah gantengnya, bodo amat kalau dia marah dan seisi Guna Bhakti heboh!"
"Isshhh diem, bodo amat!" gerutu Celia. Dia merasa aneh karena sekarang jantungnya malah berdetak tidak karuan kala ketiga sahabatnya ini membicarakan Jio. Yah hanya membicarakannya saja mampu membuatnya salah tingkah.
Bersambung...