Little Queen

Little Queen
#85



Anggota Ara langsung memeriksa Steve yang terjatuh.


"Bagaimana " ucap Ara.


Tapi saat melihat tembakan yang adiknya berikan , Ara sudah tau jawabannya nya jika dua persen peluang untuk selamat.


Jelas saja karna Vanya menembak Steve mengenali jantung nya.


Anggota Ara langsung menggeleng saat detak jantung dan urat nadi Steve berhenti .


"Dia mati " ucap Vanya.


"Tidak, putra ku " teriak arson.


"Tidak mungkin " ucap Marni.


"Sorry oom jelek , habis kau sudah melukai kakak ku " bisik Vanya.


Walau percuma tapi tidak apa-apa, siapa tau matinya bisa mendengar bisikan maut nya.


Bukan nya takut sudah menembak, malah Vanya tersenyum lebar, tidak sia-sia belajar menembak jika musuhnya mati.


Vanya langsung membalikan badan nya menghadap dua orang yang akan menjadi penghuni kuburan, ya anggap saja begitu .


"Bagaimana jika giliran mu " ucap Vanya menatap tajam arson .


"Aku akan pastikan hidup mu tidak akan tenang " ucap arson.


"Iiiii,,,, seram ,,,, aku takut " ucap Vanya sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Kau sayang putra mu bukan " ucap Vanya.


dengan bod*hnya arson mengangguk kepala.


"Jika kau sayang pada nya, bagaimana jika kau ikut bersama nya " ucap Vanya.


"Tapi sebelum ikut kau harus menerima hadiah dari ku " ucap Vanya lagi.


"Tenang, nenek Peyot kua pasti dapat giliran " ucap Vanya .


Dia memikirkan hadiah apa yang cocok untuk tua Bangka ini.


"Mungkin jarum kecil " ucap Ara.


Wajah Vanya langsung tersenyum bahagia, lumayan belajar menjahit pikir nya.


"Iya benar, jarum kecil " ucap Vanya.


"Jangan lupa kasik benang nya juga " ucap Vanya.


Tentu saja pria penjaga markas langsung mengambilkan apa yang Vanya inginkan.


"Nona " ucap pria berbaju hitam.


"Terima kasih " ucap Vanya.


Kira-kira apa yang akan di lakukan nona muda dengan jarum kecil itu.


"Tolong pegang kepala nya " ucap Vanya.


Dan benar saja Vanya langsung menjahit mulut arson , di saksi kan oleh semua orang yang ada di sana.


"Selesai " ucap Vanya.


"Kalian memang jelmaan iblis " ucap Marni.


"Dan kau induk jelmaan iblis " ucap Vanya.


Ara bahkan sampai tersenyum mendengar ucapan adiknya, jawaban yang tepat.


"Sudah saat nya " ucap Vanya langsung menekan tombol kecil yang menghubungkan membuka lubang kecil yang di bawahnya berisi buaya yang mengangak kelaparan.


"Kalian lapar ya , oom buaya " tanya Vanya lada buaya yang di bawah sana.


"Tapi maaf ya oom buaya, kali ini makanan mu buaya darat berbisa tapi tidak apa ya kan lumayan kenyang " ucap Vanya.


"Buang mereka " ucap Vanya.


"Aaaarrrrggggg " teriak Marni saat dia menyaksikan buaya mencabik cabik tubuh arson dan Steve dengan mata kepala nya sendiri.


"upzzzzz ,,,,, sorry " ucap Vanya.


"Ku mohon jangan sakiti aku " ucap Marni saat Vanya tersenyum menatap Marni.


"Kau pasti akan mendapatkan giliran tapi bukan sekarang, nanti aku tidak ada mainan lagi " ucap Vanya.


"Sudah puas " ucap Ara.


"Sudah , ayo kita pulang " ucap Vanya.


"Kau selamat kali ini nenek Peyot, karna aku sudah sedikit puas tapi tenang saja aku akan datang kembali , siap kan mental mu" ucap Vanya.


"Jaga dia " ucap Ara .


"By,,,, nenek Peyot " ucap Vanya .


Mereka memutuskan untuk pulang ke mansion Jeni, sebelum Dinda khawatir jika mereka tidak ada di mansion.


"Senang " ucap Ara sambil menyetir mobil nya.


"Sangat, nanti Vanya mau datang lagi " ucap Vanya.


"Siapa yang izinkan " ucap Ara.


"Kakak " rengek Vanya.


"Sudah lah, tidur saja biar kau tidak ngantuk saat sekolah nanti " ucap Ara


"Tapi Vanya mau datang lagi nanti " ucap Vanya.


"Emmmm" ucap Ara.


"Horeeee " bahagia Vanya.


Next part selanjutnya KK dan jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain dan mohon masukan dan saran nya πŸ™