Little Queen

Little Queen
#74



"Devan " ucap Devan memperkenalkan diri.


"Kau sudah lama mengenal nak Ara " ucap Michel penasaran.


"Saya dosen di kampus tempat Ara kuliah" ucap Devan .


"Dosen " ulang Michel.


"Iya, saya pusing melihat berkas yang tiada habis nya, jadi saya mencoba menjadi dosen pengganti " ucap Devan jujur.


"Astaga, jujur sekali kau nak " ucap Michel.


"Ara " ucap seseorang.


Semua yang ada di sana langsung memandang siapa yang datang .


"Dinda "


"Kakak ipar, di mana Ara " ucap Dinda.


"Ara sedang di dalam " ucap Michel.


"Kakak " teriak Vanya.


Astaga, kenapa si bar-bar satu ini tidak pernah melihat di mana dia berada.


"Vanya pelan kan suara mu, bisa bisa semua orang di mansion ini akan jantungan " ucap Domani.


"Blueeeekkk " Vanya malah menjulurkan lidahnya.


"Kakak bagaimana keadaan Ara " ucap Dinda cemas.


"Sekarang masih di tangan oleh Jeni, kita tunggu saja dan berdoa semoga Ara baik-baik saja " ucap Michel.


"Siapa yang membawa nya kemari " ucap Dominic.


"Dia " ucap Marvel.


"Devan " ucap Dinda.


"Sayang mengenal nya " ucap Dominic.


Ya, saat Devan berkunjung di mansion nya dia sedang masa pemulihan jadi dia tidak ikut menyambut kedatangan Devan dan Sena di mansion mereka.


"Itu, Devan cucu Tante Sena , mas mengingat Tante sena " ucap Dinda.


"Tante Sena yang memberi kita hadiah itu " ucap Dominic.


"Ya benar sekali " ucap Dinda.


"Tuan, nyonya " ucap Devan.


"Terima kasih nak, kau sudah menyelamatkan putri kami " ucap Dinda.


"Ini hanya kebetulan saja nyonya, tapi maaf saya datang terlambat " sesal Devan.


Belum sempat Dinda mengucapkan kata nya, sudah terpotong oleh seseorang.


"Di mana cucu ku " ucap indah.


"Mom " ucap mereka.


"Bagaimana keadaan Ara " ucap indah.


Dinda menggeleng kepala dia juga menantu kabar dari orang yang ada di ruang operasi.


"Siapa yang melakukan ini " ucap indah.


"Tidak sayang, kau tau putri mu dia tidak ingin orang kesayangan nya terluka itu sebabnya dia melakukan itu " ucap indah, tapi tanpa Sengahja matanya menangkap sosok yang tidak sing bagi nya .


"Kau " ucap indah.


"Grandma " ucap Devan.


"Jangan bilang jika kau yang membatu cucu ku " tebak indah.


"Benar mom, dia yang membawa Ara ke sini " ucap Michel.


"Bearti dia masih sadar saat sampai kemari " ucap indah.


"Benar, dia wanita yang hebat " ucap Devan.


Ceklek....


"Kakak Bagaimana keadaan Ara " ucap Dinda langsung menghampiri Jeni yang baru melepas masker nya.


"Operasi nya berjalan dengan lancar, dan untung saja peluru nya bisa di keluarkan, tapi ... " Jeni menjeda ucapan nya.


"Tapi apa kakak " ucap Dinda .


"Ara kritis " ucap Jeni dengan berat hati.


"Tidak " ucap Dinda langsung menggapai dinding biar tubuhnya tidak ambruk.


"Bunda " teriak Vanya dan Domani.


"Sayang " ucap Dominic.


"Tidak, kau wanita kuat , ku mohon " Devan membatin.


"Kurang ajar, aku akan membunuh nya " ucap indah.


Tapi tunggu tanpa Sengahja dia melihat Devan yang meringis menahan sakit.


"Sepertinya kau terluka " ucap indah.


Semua anggota keluarga BENATA langsung memandang Devan yang sekarang pucat.


"Astaga, itu darah grandma " pekik Vanya


"Dad , tolong bawa dia ke ruang sini " ucap Jeni menuju ruang lain.


Karena kondisi Devan yang mulai lemah, saat Devan sudah di baringkan di kasur Jeni langsung menyingkap baju Devan.


"Maaf " ucap Jeni.


"Sepertinya ini bukan luka pisau " ucap Jeni saat melihat luka yang sekarang semangkin mengangak membesar.


"Keris " ucap indah.


"Benar ini luka keris " ucap Jeni.


Jeni langsung membius Devan dan membersihkan Setelah itu baru dia menjahit luka yang ada di Perut sisi kiri nya.


Pelan-pelan mata Devan mulai menggelap saat sudah di beri obat bius oleh Jeni.


"Tuhan ku mohon, saat mata ini terbuka kembali izinkan aku untuk melihat mata indah nya " doa Devan.


Next part selanjutnya KK dan jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain πŸ™πŸ˜


bagaimana puas dengan part kali ini ?


Maaf ya guys karna sinyal yang susah jadi gak bisa double up πŸ™