
"Devan " ucap Devan memperkenalkan diri.
"Kau sudah lama mengenal nak Ara " ucap Michel penasaran.
"Saya dosen di kampus tempat Ara kuliah" ucap Devan .
"Dosen " ulang Michel.
"Iya, saya pusing melihat berkas yang tiada habis nya, jadi saya mencoba menjadi dosen pengganti " ucap Devan jujur.
"Astaga, jujur sekali kau nak " ucap Michel.
"Ara " ucap seseorang.
Semua yang ada di sana langsung memandang siapa yang datang .
"Dinda "
"Kakak ipar, di mana Ara " ucap Dinda.
"Ara sedang di dalam " ucap Michel.
"Kakak " teriak Vanya.
Astaga, kenapa si bar-bar satu ini tidak pernah melihat di mana dia berada.
"Vanya pelan kan suara mu, bisa bisa semua orang di mansion ini akan jantungan " ucap Domani.
"Blueeeekkk " Vanya malah menjulurkan lidahnya.
"Kakak bagaimana keadaan Ara " ucap Dinda cemas.
"Sekarang masih di tangan oleh Jeni, kita tunggu saja dan berdoa semoga Ara baik-baik saja " ucap Michel.
"Siapa yang membawa nya kemari " ucap Dominic.
"Dia " ucap Marvel.
"Devan " ucap Dinda.
"Sayang mengenal nya " ucap Dominic.
Ya, saat Devan berkunjung di mansion nya dia sedang masa pemulihan jadi dia tidak ikut menyambut kedatangan Devan dan Sena di mansion mereka.
"Itu, Devan cucu Tante Sena , mas mengingat Tante sena " ucap Dinda.
"Tante Sena yang memberi kita hadiah itu " ucap Dominic.
"Ya benar sekali " ucap Dinda.
"Tuan, nyonya " ucap Devan.
"Terima kasih nak, kau sudah menyelamatkan putri kami " ucap Dinda.
"Ini hanya kebetulan saja nyonya, tapi maaf saya datang terlambat " sesal Devan.
Belum sempat Dinda mengucapkan kata nya, sudah terpotong oleh seseorang.
"Di mana cucu ku " ucap indah.
"Mom " ucap mereka.
"Bagaimana keadaan Ara " ucap indah.
Dinda menggeleng kepala dia juga menantu kabar dari orang yang ada di ruang operasi.
"Siapa yang melakukan ini " ucap indah.
"Tidak sayang, kau tau putri mu dia tidak ingin orang kesayangan nya terluka itu sebabnya dia melakukan itu " ucap indah, tapi tanpa Sengahja matanya menangkap sosok yang tidak sing bagi nya .
"Kau " ucap indah.
"Grandma " ucap Devan.
"Jangan bilang jika kau yang membatu cucu ku " tebak indah.
"Benar mom, dia yang membawa Ara ke sini " ucap Michel.
"Bearti dia masih sadar saat sampai kemari " ucap indah.
"Benar, dia wanita yang hebat " ucap Devan.
Ceklek....
"Kakak Bagaimana keadaan Ara " ucap Dinda langsung menghampiri Jeni yang baru melepas masker nya.
"Operasi nya berjalan dengan lancar, dan untung saja peluru nya bisa di keluarkan, tapi ... " Jeni menjeda ucapan nya.
"Tapi apa kakak " ucap Dinda .
"Ara kritis " ucap Jeni dengan berat hati.
"Tidak " ucap Dinda langsung menggapai dinding biar tubuhnya tidak ambruk.
"Bunda " teriak Vanya dan Domani.
"Sayang " ucap Dominic.
"Tidak, kau wanita kuat , ku mohon " Devan membatin.
"Kurang ajar, aku akan membunuh nya " ucap indah.
Tapi tunggu tanpa Sengahja dia melihat Devan yang meringis menahan sakit.
"Sepertinya kau terluka " ucap indah.
Semua anggota keluarga BENATA langsung memandang Devan yang sekarang pucat.
"Astaga, itu darah grandma " pekik Vanya
"Dad , tolong bawa dia ke ruang sini " ucap Jeni menuju ruang lain.
Karena kondisi Devan yang mulai lemah, saat Devan sudah di baringkan di kasur Jeni langsung menyingkap baju Devan.
"Maaf " ucap Jeni.
"Sepertinya ini bukan luka pisau " ucap Jeni saat melihat luka yang sekarang semangkin mengangak membesar.
"Keris " ucap indah.
"Benar ini luka keris " ucap Jeni.
Jeni langsung membius Devan dan membersihkan Setelah itu baru dia menjahit luka yang ada di Perut sisi kiri nya.
Pelan-pelan mata Devan mulai menggelap saat sudah di beri obat bius oleh Jeni.
"Tuhan ku mohon, saat mata ini terbuka kembali izinkan aku untuk melihat mata indah nya " doa Devan.
Next part selanjutnya KK dan jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain ππ
bagaimana puas dengan part kali ini ?
Maaf ya guys karna sinyal yang susah jadi gak bisa double up π