
Saat semua sudah terungkap, kebenaran demi kebenaran mereka semua bubar akan istirahat sing setelah selesai makan siang bersama .
Dan di sinilah di ruang Ara , dengan Vanya yang dan Ica yang selalu menempel pada nya.
"Kakak, apa ini sakit " ucap Vanya
"Vanya tentu saja sakit, tidak ada luka yang tidak sakit " ucap Ica
"Tapi ajak Ara kan kuat " ucap Vanya lagi.
"Vanya , Ica tidur lah " ucap Ara yang sudah memejamkan matanya ingin tidur sebelum nanti malam dia akan pergi ke markas nya .
"Akak nanti Vanya ikut ya, jika Vanya tidur " bisik Vanya.
"Ica juga ingin ikut " ucap Ica
"Tidur lah " ucap Ara.
"Ih,,,,, akak tidak seru " kesal Vanya.
Sedangkan Ica langsung memejamkan mata, sebelum mereka akan pulang, setidaknya dia pernah tidur bersama dengan putri Daddy nya.
Ah,,, mengingat itu kenapa dia jadi sedih padahal di sini yang tersakiti Ara dan Sasa.
Tapi lihatlah mereka, tidak pernah melihatkan kesedihan dan kecemburuan saat dia mendapat kan kasih sayang dari salah satu orang tua nya.
Sedangkan Devan yang berada die ruangan sebelah, masih memikirkan Ara , sedangkan anggota keluarga lain sedang membahas tentang pernikahan Sasa yang sekarang sudah mulai mendapat , dan sekarang malah mereka akan meminta izin dengan para petinggi abdi negara .
"Bagaimana bisa aku tidak menyadari jika dia seorang Queen " ucap Devan.
"Pantas saja tidak semua orang bisa mendekati nya " ucap Devan lagi.
Saat dia tidak bisa tidur dia berniat ingin duduk tapi .
"Auuu " pekik nya.
"Astaga, kenapa luka ini sakit sekali " kesal Devan.
Oh tuan muda, luka mu tidak salah yang salah diri mu yang terlalu tergesa-gesa tanpa berhati-hati .
***
Saat hari sudah mulai gelap, dan saat Ara membuka mata, adik bar-bar nya masih terlelap dengan menghisap jari nya, dan tak jauh berbeda dengan Ica yang juga sama seperti adik nya.
"Kenapa mereka memiliki kebiasaan yang sama " ucap Ara.
Dengan pelan-pelan dia bangun dari tidur nya, untung saja infus nya sudah di lepas oleh Jeni .
"Akak " ucap Vanya saat kasur nya bergoyang.
"Tidur lah, kakak hanya ingin ke toilet " ucap ara.
Dan benar saja, saat Ara masuk kedalam toilet Vanya menunggu di depan pintu toilet, anggap saja kali ini dia menjadi penjaga toilet .
"Vanya " ucap Ica, yang juga terbangun dari tidurnya.
"Eh,,kak Ica " ucap Vanya yang sekarang sudah mulai tidak ngantuk lagi.
"Kenapa kau di sana " ucap Ica.
"Hehehe, tidak itu tunggu akak Ara " ucap Vanya.
"Memangnya Ara kenapa " ucap Ica.
"Buang air kecil " ucap Vanya.
Ceklek ...
"Vanya, kau masih di sini " ucap Ara.
"Hehe, iya nanti akak tinggal Vanya " ucap Vanya cengengesan.
"Ayo, mungkin bunda dan dad sudah menunggu kita di atas " ucap Ara.
Karena mereka sedang berada di ruang bawah tanah.
"Astaga, aku lupa mom dan dad ingin pulang hari ini " ucap Ica, langsung bangun dari tidur nya.
"Mau kemana " ucap Ara, saat Ica menuju pintu keluar.
"Ingin naik ke atas " ucap Ica polos.
"Kakak tidak akan bisa keluar jika tidak punya kartu " ucap Vanya.
Dan benar saja, Ica langsung kembali mendekati Vanya.
"Tunggu sebentar " ucap Ara, saat dia juga ingin keluar dari ruang rahasia .
"Ara kau yakin ingin ke atas kau kan masih terluka " ucap Ica.
"Ini tidak terlalu sakit, ayo " ucap Ara.
Ceklek ....
Saat dia membuka pintu seseorang sudah ada di depan ruangan nya, yang entah sejak kapan di sana.
"Itu, lift nya tidak bisa terbuka "
Next part selanjutnya KK dan jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain biar author tambah semangat lagi update π