Little Queen

Little Queen
#51



Masih di posisi yang sama, di taman belakang mansion Pratama.


"Nak jika kami beritahu kebenaran nya, mom harap kau tidak akan merah pada mom dan Daddy " ucap missya.


"Ica janji tidak akan marah pada mom, dan Daddy " ucap Ica yakin, walau hatinya sudah mulai tak tenang tapi dia harus meyakinkan kedua orang tua nya.


"Nak sebenarnya kau bukan putri kandung kami " ucap missya.


Deg ...


Dunia Ica seakan berhenti saat mengetahui kebenaran ini.


"Maksud mommy " ucap Ica.


"Mom tidak bisa memiliki keturunan, mom dan dad sepakat untuk mengadopsi seorang anak dan itu kau " ucap missya.


"Lalu siapa orang tua Ica " ucap Ica.


"Kedua orang tua mu sudah meninggal, karena kecelakaan yang mereka alami " ucap missya.


"Tapi percaya lah, kami sudah menganggap mu seperti putri kami sendiri " ucap missya.


"Mom, dad " Ica langsung berhambur ke dalam pelukan missya .


Mommy yang selalu menyayangi nya sepenuh hati, tidak pernah berkata kasar padanya.


"Maaf kami baru bisa jujur sekarang sayang, mom harap kau tidak meninggalkan mom dan Daddy " ucap missya.


"Terima kasih mom, dad sudah menyayangi Ica seperti putri mom dan Daddy " ucap Ica.


"Tapi tak hanya itu " ucap missya.


"Mas " ucap missya.


"Sebenarnya Ara, sahabat mu putri Daddy " ucap Ardian.


"Ma-maksud Daddy "ucap Ica bingung.


"kebenaran apa lagi ini tuhan " Ica membatin.


"Dulu dad pernah menikah dengan ibu Ara, dan karna keluarga Daddy tidak menginginkan keturunan perempuan jadi dad di paksa harus menceraikan Dinda, ibu Ara sahabat mu " Ardian menjeda ucapannya.


Ya Tuhan, hatinya seakan di tusuk oleh sesuatu , sakit tuhan lalu bagaimana dengan Dinda pasti lebih sakit dari ini.


Missya langsung mendekat dan mengusap bahwa suaminya, dan tersenyum .


"Dad, sudah melantarkan mereka hidup di luar sana " ucap Ardian .


"Dad memang orang tua yang jahat, dengan teganya menelantarkan putri Daddy " ucap Ardian menyesal.


"Apa Ara mengetahui jika dia putri Daddy " ucap Ica.


"pasti tau, da dia pasti mengingat jelas " ucap Ardian.


"Lalu jika Ara putri Daddy kenapa dia bersikap seperti itu " ucap Ica.


"Dia ingin menjaga perasaan mu nak, Ara berbeda dengan yang lain " ucap missya.


"Kenapa Ara harus menjaga perasaan Ica, lalu bagaimana dengan perasaannya " ucap Ica.


"Ara berbeda nak, dia memiliki hati yang baik " ucap missya.


"Lalu bagaimana dengan ibunya " ucap Ica.


"Dad akan meminta maaf padanya, sebelum dad akan menyesal seumur hidup apa kau ingin membatu Daddy nak " ucap ardian berharap.


"Tolong bantu dad bertemu dengan keluarga Ara " mohon Ardian .


"Ica tidak bisa janji dad, tapi Ica akan berusaha melakukan apa yang mom dan dad inginkan " ucap Ica.


"Terima kasih sayang, jangan pernah tinggalkan kami " ucap missya memeluk tubuh putri nya dan di ikuti oleh Ardian.


"Terima kasih sudah menyayangi Ica seperti putri kandung mom dan dad sendiri " ucap Ica.


****


Sedangkan seorang pria yang sedang berkutik dengan berkas yang tiada henti.


"Kenapa berkas ini membosankan sekali " kesal Devan.


"Lebih baik aku menjadi dosen, hati ku akan tenang " ucap Devan tersenyum membayangkan seseorang .


Bahkan dia Sampai tidak menyadari seseorang yang memperhatikan entah sejak kapan.


"Sepertinya aku harus membawa mu ke rumah sakit jiwa " ucap wanita paruh baya yang berada di ambang pintu.


"Grandma, sejak kapan di sana " ucap Devan.


"Sejak kau ngomel tidak jelas, dan ah sudahlah lupakan saja " ucap Sena.


"Grandma ke sini untuk bilang pada mu jika nanti malam grandma akan kembali ke Australia " ucap Sena.


"Apa, kenapa secepat itu " ucap Devan


"Mana mungkin grandma meninggalkan grandpa seorang diri di sana dan lagian grandma sudah bertemu dengan sahabat grandma " ucap Sena .


"Tapi kenapa tidak besok saja " ucap Devan.


"Jadwal penerbangan nya nanti malam, bagaimana lagi " ucap Sena


"Baiklah, Devan akan menyelesaikan berkas ini biar Devan antar " ucap Devan.


"Emmmm " Sena hanya berdehem saja.


****


Sedangkan di mansion utama BENATA, seorang wanita yang sedang membaca buku yang dia pegang tiba-tiba ponselnya bergetar.


"Ica " ucap Ara .


"Hello " ucap Ara, saat sudah menekan tombol hijau.


"Ara, apa kau sibuk " ucap Ica di sebrang sana.


"Tidak kenapa " ucap Ara


"Sekarang kita sedang libur semester, bagaimana jika kita jalan jalan " ucap Ica.


"Sepertinya kau sedikit aneh hari ini, aku tau kau bukan tipe wanita yang suka keluar tidak jelas, bisa kau katakan apa yang kau inginkan " ucap Ara


"Kau memang hebat bisa membaca pikiran orang, apa kau cenayang " ucap Ica .


"Tentu saja bukan, aku mengenal jelas diri mu " ucap Ara.


"Katakan "


Next part selanjutnya KK dan semoga masih dapat feel nya, mohon maaf karna sinyal yang susah menyebabkan susah setor bab πŸ™πŸ»