Little Queen

Little Queen
#144



Setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya mereka sampai di mansion dengan tepat 1 jam perjanjian mereka izin.


"Yuhuuuu,,, kami datang dengan Vanya yang paling cantik sejagat raya " teriak Vanya.


"Astaga, kuping ku kalau ingin teriak bilang dulu kenapa " ucap Demian.


"Sorry " ucap Vanya.


"Good tempat waktu " ucap indah.


"Eh,, grandma Vanya yang cantik jelita " ucap Vanya langsung duduk di samping indah.


"Ih,,, bau amis sana mandi dulu " ucap indah.


"Kan Vanya tidak potong ikan masa bau amis sih " ucap Vanya mendengus ketiak nya.


"Kalau itu bau asam sayang " ucap Alaric.


''Gak bau kok grandpa " ucap Vanya


"Sudah sana mandi sebelum bunda mu lihat ada noda darah di pakaian mu " ucap indah.


Vanya langsung cek pakaian dan benar saja jika ada noda darah di pakaian tapi itu hanya sedikit tapi masih terlihat.


Mungkin ini lah salah satu yang tidak bisa di ragukan oleh seorang Queen, sekecil apa pun musuh dia pasti terlihat.


"Jika ingin jadi seorang penerus mata mu harus jeli " ucap indah lagi.


"Siap Queen " ucap Vanya .


"Sudah mandi sana " ucap indah lagi.


"Siap " ucap Vanya langsung menuju lantai atas dan bertepatan dengan Dinda yang juga turun ke lantai bawah.


"Bunda " sapa Vanya.


"Dari mana " ucap Dinda.


"Main " ucap Vanya.


"Main darah maksud nya " ucap Dinda.


"Emmm,, dikit kok bunda jangan marah " ucap Vanya dan sebelum berlari.


Cup


"Jangan lari nanti jatuh " teriak Dinda


"Siap ibu negara " ucap Vanya.


Dinda hanya menggeleng saja, apa putri bungsunya juga akan mengikuti jejak Ara yang menurut nya berbahaya.


"Jangan pikirin hal yang aneh-aneh putri kita sudah dewasa " ucap Dominic.


"Tapi mas " ucap Dinda.


"Itu benar sayang " ucap indah.


"Baiklah " pasrah Dinda.


***


Sedangkan di dalam pesawat sepasang pengantin yang sedang dalam perjalanan menuju Jepang, tiba-tiba ponsel salah slah satu dari mereka bergetar.


Drrr Drrrr


"Siapa sayang " ucap Devan


"Markas " ucap Ara saat sudah melihat siapa yang mengirim pesan pada nya.


"Apa ada masalah " ucap Devan.


"Tidak, hanya video saja " ucap Ara langsung memutar Vidio nya.


Dimana Vanya yang sedang menggoreskan pisau pada pria yang dia tahan.


"Itu sungguh Vanya " ucap Devan shock.


"Benar " ucap Ara sambil melihat apa saja yang di lakukan adiknya.


"Dia akan mengikuti jejak mu sayang " ucap Devan.


"Iya, kami hanya menunggu waktu yang tepat " ucap Ara.


"Oh my God, dia memanah nya " ucap Devan shock.


"Itu hanya membuatnya cedera tidak akan mati " ucap Ara lagi.


Setelah selesai melihat video yang di putar Ara menyimpan kembali ponsel nya.


"Apa ini masih jauh " ucap Ara melihat ke arah luar.


"Sangat jauh, tidur lah biar sayang tidak terlalu bosan " ucap Devan


"Mas tidak ingin tidur " ucap Ara


"Mas harus cek email sebentar " ucap Devan


"Baiklah jika begitu Ara ingin lanjut tidur " ucap Ara.


Dengan sigap Devan mengubah kuris Ara menjadi posisi untuk berbaring biar Ara tidur dengan nyaman.


Cup


"Selamat tidur sayang " ucap Devan .


Ara hanya mengangguk saja yang kebetulan mata nya masih ngantuk karna tidur nya tidak nyenyak semalam karna apa lagi jika bukan karna Vanya yang tidur seperti jam dinding.


Next part selanjutnya KK dan jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain mohon dukungan dan support nya KK