Little Queen

Little Queen
#78



"Apa-apaan ini " ucap indah saat melihat Ardian dan Dominic putra nya merebutkan semangkuk bubur.


"Mom " ucap Dominic.


"Sayang, kau sudah sadar " ucap indah saat sadar melihat cucu nya yang duduk dengan Vanya dan Ica di samping nya


"Kenapa tidak tidak ad yang beritahu grandma " ucap indah.


"Lupa " ucap mereka semua.


"Dasar " kesal indah.


"Bagaimana keadaan Ara " ucap indah .


"Baik, aku bahkan tidak menyangka jika Ara akan sadar secepat ini, karna biasanya seseorang yang mengalami cedera seperti ini pasti memerlukan waktu yang cukup lama, tapi lihat lah keponakan cantik ku " kagum Jeni.


"Queen memang harus tahan banting " ucap indah.


"Vanya geser dikit " ucap indah.


"Grandma, ini kan kakak Vanya karena Vanya yang jaga kakak cepat sadar " ucap Vanya.


"Iya, benar grandma bahkan Ara susah gerak di peluk seperti guling " ucap Ara.


"Bearti kalian kebo, sampai yang di jaga tidak sadar jika sudah sadarkan diri " ucap indah.


"Sudahlah, lalu siapa yang ingin memberi makan Ara " ucap alaric.


"Biar aku saja " ucap Dominic.


"Aku ayah biologis nya " ucap Ardian.


"Tapi aku ikut andil membesarkan nya " ucap Dominic.


"Biar bunda saja " ucap Ara.


Merek yang memperebutkan mangkuk berisi bubur langsung memandang Ara.


"Ara ingin di suap kan oleh bunda, boleh kan dad, ayah " ucap Ara.


"Tentu saja ,ini " ucap mereka.


"Terima kasih " ucap Dinda setelah menerima semangkuk bubur.


"Ada seseorang titik rindu pada bunda, dan aunty " ucap Ara .


"Siapa " ucap Dinda , sambil menyuapkan Ara bubur.


"Kau bertemu siapa " ucap Jeni.


"Nenek, dia sangat mirip dengan bunda " ucap Ara


"Sayang kau pasti bercanda " ucap Dinda.


"Tentu saja tidak, bahkan nenek yang menyuruh Ara kembali, di sana sangat tenang, Ara suka " ucap Ara mengingat tempat yang entah dia tidak tau di mana itu.


"Ibu " ucap Dinda dan Jeni bersama.


"Ibu, Terima kasih sudah mengembalikan putri Dinda " ucap Dinda .


"Nenek juga titip rindu pada putri nya " ucap Ara lagi.


Dan tak terasa, semangkuk bubur habis di lahap Ara .


Sedangkan Vanya terus melihat perut Kaka nya yang di perban, apa ini tidak sakit pikir nya.


"Vanya kenapa dari tadi kau menyingkap baju kakak mu " tegur Dominic.


"Vanya ingin liat dad, apa luka nya tidak sakit " ucap Vanya polos.


"Tentu saja sakit sayang, tapi apa perlu kesakitan mu di katakan pada semua orang , tidak bukan " ucap Ara.


"Ah,,,, akak jika sakit kan biar aunty obati " ucap Vanya lagi.


"Tidak semua penyakit bisa di sembuhkan oleh aunty, terutama hati, tunjuk Ara pada hati Vanya, dia merasakan sakit tapi apa bisa dokter mengobati nya, tidak bukan ,yang bisa mengobati nya orang yang melukai atau pun diri kita sendiri " ucap Ara.


"Begitu ya kak " ucap Vanya .


"Tuhan apa aku membuat luka sebesar itu pada putri nya, setiap kata yang dia ucap kan seakan tusukan yang menancap di hati nya " Ardian membatin.


"Oh iya, bukan nya Ara ke sini di antar seseorang apa dia sudah pulang, dan ala luka nya sudah di obati " ucap Ara.


Oh ternyata kau menyadari nya Ara, tapi kau diam saat menahan luka cedera yang kau dapat.


"Kau menyadari nya " ucap Jeni.


"Queen " rengek Jeni malu.


"Hahahaha " mereka malah tertawa .


***


Sedangkan di kamar sebelah, sudah menunggu berapa menit yang lalu tapi pria yang di tunggu masih belum juga membuka mata nya.


"Astaga, apa cucu ku mati " ucap Sena.


"Mom, mendoakan cucu kita mati " ucap Alexander.


"Tidak dad, masa dari tadi tidak bangun-bangun aku curiga juga indah suntik mati cucu kita " ucap Sena.


"Astaga, Sahabat macam apa kau memfitnah ku seperti itu " Ucap indah yang mendorong kursi roda dengan Ara yang duduk di kursi roda.


"Hehehehe, kau mendengar nya ya " ucap Sena cengengesan.


"Kau pikir aku tuli, untung kau sahabat ku jika bukan sudah ku suntik mati kau " ucap indah bercanda


"Uhhhh,,, seram, teman ku memang tidak pernah berubah dari dulu " ucap Sena


Brayen hanya menggeleng kepala, kenapa mommy nya tidak pernah berubah, dia bertingkah seperti anak remaja padahal sudah punya cucu tua Bangka.


"Brayen, astaga lama sekaki kita tidak bertemu " ucap Dominic memeluk sahabatnya kecilnya.


"Aku pikir kau sudah tidak mengenali ku " ucap Brayen.


"Bagaimana bisa aku melupakan ta*k lalat mu ini " ucap Dominic.


"Oh my good, aku banci dengan ucapan mu ini " ucap Brayen.


"Aku becanda kawan " ucap Dominic.


"Oh iya perkenalkan dia istri cantik ku, dan mereka putra dan putri ku " ucap Dominic.


"Putri mu cantik-cantik sekali " ucap Brayen.


"Terima kasih om, Vanya memang cantik kok " ucap Vanya dengan pede nya.


Dinda langsung menepuk kening nya, putrinya sangat pede sekali.


"Sama-sama sayang " ucap Brayen .


"Jadi kami tidak tampan begitu uncle " ucap Demian tidak mau kalah.


"Tentu saja, bahkan sangat tampan dari Daddy mu " ucap Brayen.


"Ya ya ya, untung mereka putra ku jadi tentu saja mereka tampan " ucap Dominic.


"Dan iya, mereka anggota keluarga kami dan pria yang di samping putri ku calon suaminya " ucap Dominic.


"Salam kenal semua " ucap Brayen.


"Putra nya belum sadar mba " ucap Dinda.


"Panggil Mila saja " ucap Mila.


"Hehe,, belum padahal hanya luka dikit saja tapi sampai sekarang tidak sadar, memalukan sekali " ucap Mila.


"Nama nya juga luka Mila " ucap Dinda maklum.


"Vanya, kenapa ada dosen kami di sini " bisik Ica .


"Entah lah, tapi kata uncle Michel dia yang membawa kak Ara ke mari " bisik Vanya .


"Percuma kau berbisik, tapi masih bisa kami dengar Vanya " ucap Sasa.


"Ah,,, akak padahal Vanya sudah berusaha mengecilkan suara Vanya " ucap Vanya.


"Dasar toa " ucap Demian.


"Kulkas, lihat si playboy itu " adu Vanya.


"Sudah lah Demian kau Diam saja tidak baik bicara di saat orang dewasa dengan bicara " ucap Domani.


"Sepertinya kita akan menonton pria tertidur "


Next part selanjutnya KK dan jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain πŸ™


jika masih banyak kata yang salah mohon koreksiannya KK πŸ’ž


yang selalu koreksi typo nya author, author ucapkan terima kasih semoga tidak bisa untuk mengoreksi part selanjutnya πŸ₯°πŸ€—