
"Kak Sasa " ucap Ara
Suasana mansion BENATA semangkin tegang saat mendengar ucapan Ara.
"Iya benar, saya sudah banyak salah terutama Natasya yang hidupnya sudah saya hancurkan " ucap Ardian.
"Kenapa kau melakukan itu pada mommy, karna mu mommy pergi meninggalkan ku " ucap Sasa, akhirnya Sasa membuka suara.
"Maaf " ucap Ardian bahkan dia langsung turun dari duduk nya dan ingin bersujud di kaki putri yang tidak dia ketahui kehadiran nya.
"Jangan lakukan itu om " ucap Ara, dia mencegah Ardian yang ingin mencium kaki Sasa.
"Maaf mu tidak akan bisa mengembalikan mommy ke dunia ini, kenapa kau begitu jahat aku benci diri mu " ucap Sasa langsung pergi meninggalkan ruang tamu .
"Beri kakak waktu om " ucap Ara, langsung menyusul Sasa yang pergi menuju kamar nya.
"Sayang " ucap Dinda.
"Sasa " ucap dominic.
"Ardian bangun lah, jangan seperti ini " ucap Dominic.
Bukan nya bangun, Ardin malah menggeser posisi nya menunduk di hadapan dinda, wanita yang dia sakiti .
"Dinda, maafkan aku sungguh aku menyesal aku tau aku tidak pantas menerima maaf mu karna apa yang sudah aku lakukan memang tidak pantas untuk di maafkan " Ardian menjeda ucapan nya.
"Dan aku juga mohon maaf atas kesalahan yang di lakukan mom dan Daddy ku " ucap Ardian.
"Walau itu mustahil untuk kami di maafkan, setidak nya aku bisa meminta maaf secara langsung pada mu " ucap Ardian lagi.
"Tuan, jangan seperti ini bangun lah " ucap Dinda.
"Jauh sebelum tuan minta maaf, Dinda sudah memaafkan semua yang tuan dan keluarga tuan lakukan, Dinda anggap semua nya jalan Tuhan untuk menguji Dinda dan Alhamdulillah dinda kuat karna Dinda masih punya Ara dan yang lain nya " ucap dinda.
Tuhan bagaimana bisa di menyia-nyiakan wanita berhati malaikat di hadapan nya ini .
"Ardian bangun lah, istri ku sudah memaafkan mu bukan kita semua sama tidak ada yang sempurna tanpa melakukan kesalahan, hanya saja mungkin Allah menutupi kesalahan kami " ucap Dominic.
"Mas Dominic benar, tuan, bangun lah mari kita buka lembaran baru " ucap Dinda.
"Kenapa kau begitu mudah memaafkan ku Dinda, kau menderita karna ku " ucap Ardian.
"Dinda merasa tidak menderita sama sekali, dan kenapa Dinda begitu mudah memaafkan tuan, saya hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa jika tuhan saja begitu mudah memaafkan hambanya lalu kenapa Dinda tidak, jika Dinda melakukan kesalahan-kesalahan Dinda minta untuk di maafkan lalu jika orang lain melakukan kesalahan Dinda tidak memaafkan bearti Dinda manusia sombong di muka bumi ini " ucap Dinda.
"Maaf sekali lagi " ucap ardian.
"Sekarang bangunlah " ucap Dominic.
Ardian langsung kembali di kursinya, rasanya hati nya mulai tenang sekarang .
Sedangkan di kamar yang bernuansa putih, dengan wanita cantik yang menangis di dalam nya.
"Kakak Ara boleh masuk " ucap Ara.
Sasa hanya mengangguk saat bibir nya tak mampu untuk bicara, hanya air mata yang terus menetes bercucuran .
"Hiks ,,,, Hiks ... " tangis Sasa.
"Keluarkan semua nya Kak, jangan di tahan " ucap Ara.
Ya Tuhan kenapa adiknya begitu kuat, padahal nasib mereka tidak jauh berbeda bahkan Ara lebih sakit dari bayi tidak di akui dan harus ikut menemani ibunya jualan.
"Ken-apa kau tidak sedih Ara " ucap Sasa terbata.
Tapi sebelum itu Ara tersenyum manis pada wanita yang mata nya sudah membengkak hidung yang merah karna menangis terlalu lama.
"Kenapa ya, emmm ,,,, begini kakak tahu jarum suntik " ucap Ara.
"Tentu saja " ucap Sasa.
Dia kan seorang dokter, bagaimana bisa tidak mengetahui Jarum suntik .
"Jika kakak di suntik oleh seorang dokter apa yang kakak rasakan " ucap Ara.
"Sakit " ucap Sasa.
Jelas sakit nama nya juga di suntik, ya walau hanya seperti di gigit semut.
"Lalu bagaimana jika cairan yang ada di dalam Karin suntik masuk di dalam tubuh kita " ucap Ara.
"Sedikit penat " ucap Sasa.
"Apa yang kak lakukan " ucap Ara lagi.
"Istirahat " ucap Sasa .
Kenapa otaknya tidak bisa menebak apa yang di pikirkan adiknya, dan apa maksud dari semua pertanyaan adiknya .
"Kak tau, seharusnya Kak istirahat " ucap Ara.
"Ara kaka tidak mengerti " ucap Sasa
"Wanita jika hatinya sedang tidak baik-baik saja, obat nya hanya satu diam, diam bukan tidak berpikir, dari diam nya dia sedang berperang dengan hati dan pikiran yang kadang tidak sejalan apa yang kita inginkan " Ara menjeda ucapannya.
"Jika seorang anak bisa memilih, dia ingin hadir di keluarga yang di inginkan dan di sayangi, tapi sayang mereka tidak bisa memilih semua yang dia inginkan, hidup di keluarga yang harmonis, bahagia tanpa ada Masalah tapi nama nya hidup tidak mungkin berjalan dengan mulus pasti akan ada tanjakan atau jalan yang rusak, begitu juga dengan hati ,,,, ara menyentuh hati Sasa sebelum melanjutkan ucapannya,,,, dia juga harus merasakan sakit biar tahu bagaimana rasanya terluka tapi tidak berdarah dan saat kita merasakan itu apa yang harus kita lakukan membiarkan dia sembuh sendiri atau kita membalas penyebab hati kita terluka atau ...." ucap Ara.
"Sembuh kan luka kita, walau tidak mungkin tapi seiring berjalan waktu luka ini akan hilang walau masih membekas " ucap Sasa
"Jawab yang tepat " ucap Ara.
"Mari sama-sama berdamai dengan hati kita, bukan kah dia juga ayah biologis kakak dan kakak akan segera menikah bukan sudah seharusnya dia tahu jika putrinya akan menjadi seorang istri seorang abdi negara ah,, salah lebih tepat nya agen rahasia dan Ara rasa mom juga pasti senang melihat putrinya memaafkan kesalahan om Ardian, walau Ara tidak pernah melihat nya tapi Ara merasakan mom sangat baik sama seperti kakak " ucap Ara.
"Apa kakak jahat pada nya " ucap Sasa.
"Tidak, kami mengerti kakak melakukan hal seperti itu tidak semua orang bisa menerima dengan mudah " ucap Ara.
"Tapi biar bagaimanapun dia ayah biologis kita, Sebagai seorang anak tidak baik membenci, bahkan dendam pada orang tua nya kita harus lebih hormat pada nya, tapi jika dia jahat melebihi batas mari kita tembak kepala nya " ucap Ara dengan canda nya, Setelah menyelesaikan ucapannya Ara langsung menekan tombol kecil di tangan nya.
Siapa sangka di ruang keluarga, mereka melihat Ara yang sedang berbicara pada Sasa, seakan mereka sedang menonton bioskop .
siapa yang menyiapkan semua ini, tentu saja ara yang entah sejak kapan menyiapkan segalanya.
"Maafkan kakak sudah berkata kasar pada nya " ucap Sasa.
"Bagaimana jika maaf nya di ucapakan pada om Ardian, eh ayah kita " ucap Ara.
Rasa nya aneh saat dia mengucapkan kata ayah .
"Ayo kita menemui mereka " ucap Ara.
Hi reader kesayangan author ๐ค bagaimana puas dengan part kali ini ???
Bagaimana perasaan kalian, marah atau menerima keputusan mereka ???