
Masih di posisi yang sama di markas , di mana Ara yang masih tidak sadar kan diri.
"Grandma ,,, kakak " tangis Vanya.
"Tenang sayang " ucap indah sambil memeluk tubuh cucu bungsu BENATA.
"Jeni bagaimana " ucap indah.
Sebelum Jeni menjawab , dia melihat anggota mereka yang berada di kamar tersebut, karna paham dengan tatapan Jeni .
"Semua keluar kecuali dokter " ucap indah.
"Baik Queen, kami permisi " ucap anggota Ara.
Sekarang tinggal mereka yang menunggu penjelasan dari dokter terbaik yang di khususkan untuk di markas.
"Bagaimana Menurut mu " ucap Jeni pada dokter muda yang berada tidak jauh di samping nya.
"Maaf Queen, tapi saya tidak menemukan luka sedikitpun " ucap dokter cantik tersebut.
Vanya yang semulanya memeluk tubuh indah, langsung mengurangi pelukannya dan menatap Jeni dan dokter dengan wajah datar nya.
"Lalu ,," ucap Indah.
"Jangan bilang .... " Vanya tidak menyelesaikan ucapannya dan langsung berlari menuju kasur di mana Ara di baringkan.
Sedangkan Jeni , indah dan dokter yang berada di sana hanya memperhatikan ulah apa lagi yang akan di lakukan oleh si bar-bar kali ini.
"Sssssuuuuueeeerrrrr "
"Astaga, jorok sekali cucu ku " ucap indah malu.
Secara Vanya menarik hingus nya dengan begitu kuat, padahal ada tisu di samping tapi sepertinya nya cucu nya memang sayang ingin membuang nya.
"Oh my good, seperti nya dia ingin membuat ulah lagi " ucap Jeni pelan.
"Emmmm,,,, kakak Vanya yang cantik jelita dan sebentar lagi akan menikah dengan ,,eemmmm siapa nama nya grandma ,,, lupa sudah lah yang penting dengan oom tua tapi tampan sih " Vanya menjeda ucapan dan tersenyum penuh makna.
Saat melihat senyum kecil dari cucu nya, Indah langsung menyuruh dokter cantik yang masih di dalam ruangan tersebut untuk keluar, karna dia yakin jika semua akan inpas.
Cup
Sebelum memulai apa yang sudah ada di pikiran Vanya anak yang baik hati dan Suka menolong dia harus meminta maaf terlebih dahulu dan ...
HHHHUUUUPPPP
Dengan kecepatan kilat Vanya langsung masuk di dalam baju Ara, dan dia benar-benar tidak menemukan luka tembak malah mulus dan putih.
"Putih, tidak ada luka " ucap Vanya saat sudah masuk dalam baju Ara , dengan jahil Vanya mencubit gemas Perut kakak nya tapi Ara masih tetap pada pendiriannya tidak ingin membuka mata nya.
"Kali ini kau pasti akan menyesal sudah menjahili adik mu " ucap Indah pelan.
"Apa dia akan menjadi bayi besar " ucap Jeni pelan.
Sedangkan Vanya yang berada di dalam baju Ara , tidak menyerah karna Ara masih menutup mata nya dan dalam hitungan detik Ara langsung bangun dan berteriak .
"Dasar anak nakal " teriak Ara dan langsung bangun dengan reflek dia menarik telinga adik nya.
"Aaaaaaarrrggggg , kakak sakit kuping Vanya bisa putus " teriak Vanya langsung keluar dari dalam baju Ara .
Ya, Ara hanya pura-pura seakan-akan dia tertembak padahal pistol tersebut tidak memiliki peluru .
"Sudah ku duga " ucap Indah.
"Astaga " ucap Ara langsung memeriksa tubuh nya yang memerah.
"Grandma liat kakak jewer telinga Vanya kan putus " ucap Vanya saat sudah mendekati Indah yang berada tak jauh di sana.
"Mana yang putus, kenapa grandma tidak menemukan nya " ucap Indah dengan susah payah menahan tawa nya yang benar saja kuping cucu nya putus dia bilang.
"Ih,,, grandma bukan nya kasian sama Vanya malah ketawa " Rajuk Vanya.
"Sayang bagaimana rasanya punya bayi besar "
What bayi besar ini bagaimana maksud nya ?
Okey next part selanjutnya dan jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain ππ»