I Need You

I Need You
Ini Pengecualian



Nuha memasuki kamar tamu dengan wajah memerah menahan dongkol.Sementara itu Dimas sudah siap berhadapan dengan sang kakak sepupunya di ruang multifungsi dalam suasana yang mencekam,"Ayo,saling melepas uneg-uneg."


Danang mengambil posisi duduk di sofa dan membiarkan tubuhnya bebas berhadapan dengan saudaranya yang duduk di kursi roda.


Pria itu tampak tersenyum semringah,"Jadi ini pasien istimewa yang selalu menjadi buah bibir orang istimewaku?"Mencoba mencairkan suasana dengan menggoda sang adik,"Aku bahkan sampai terabaikan setiap malamnya hanya karena dia begitu antusias bercerita tentangmu."lanjutnya seraya melempar senyum,"It's okay,bisa dimaklumi."


"Ke mana saja selama ini,aku mencarimu ke mana-mana?"Justeru yang ditanya malah balik bertanya.


"Seperti yang sudah-sudah,mencari target baru untuk kukencani,"ujar Danang sekenanya.


Dimas mendongak,memandang lurus wajah saudaranya itu dengan tatapan menyelidik,"Kenapa harus berbohong padaku?"


Danang menyeringai,"Apa motorikmu sekarang bekerja untuk seribu satu pertanyaan?"Sudah bisa dipastikan bahwa pemuda itu sedang malas menggubris pertanyaan membidik sepupunya.


"I'm serious,kenapa menyembunyikan perihal Vania dariku?"Menghujam pertanyaan memberondong,"Dia masa lalumu,kan?"


"Okay,seriously.Why are you like this?"Memindai intens sekujur tubuhnya,mana adikku Dimas yang dulu,"Talk me dude,apa karena Vania juga?"lanjutnya menyelidiki.Mencoba memberi ruang kepada sang adik untuk menyampaikan isi hatinya.


"It is not just her,it is one by friend and one by foe."Dimas menceritakan semua yang telah dialaminya selama ini,termasuk mengapa ia memilih untuk meninggalkan Vania.Lalu sikap Denis yang memanfaatkan kesempatan di saat ia sedang terjatuh akibat permainan Vania.


"Paman Denis bersama pria bernama lengkap Rico Saguna Lutfy itu,"ucap Dimas,dan Danang tampak mencerna sesuatu di balik nama tersebut.


"Mereka memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkanku."Tambah Dimas,"Aku baru menyadarinya setelah kucermati baik-baik lalu telah segera memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan milik Lutfy setahun yang lalu,"


"Kemudian dalam perjalanan kutemukan bukti kalau perbuatan Lutfy waktu itu ada kaitannya dengan Vania."


"Aku sempat menegur keras paman Denis,namun aku keburu kecelakaan sebelum bertindak tegas padanya."


Danang bergumam,"Rico Saguna Lutfy?"


Dimas mengangguk,"Rekan bisnisku dulu,atas rekomendasi paman Denis.Kami menjalin kontrak kerja selama lima tahun terakhir."


Danang menggeleng tidak percaya,'Seperti pernah dengar nama itu?'batinnya.


"Yang benarnya,Lutfy itu pria yang punya hubungan gelap dengan Vania dan mereka saling mencintai.Mereka juga berencana akan segera menikah."


"Waktu itu aku merasa sangat bersalah padamu,karena selama ini lebih mempercayai Vania ketimbang saudaraku sendiri.Aku berusaha mencarimu,tapi aku kesulitan."


"Dania.Ya,lewat Dania kita,akhirnya aku mengetahui semua tentang Lutfy,dia pria masa remajanya Vania juga."


"Ah,ingat!"Seru Danang menemukan solusi,"Lutfy kakak kelas satu tahun di SMAN 1."lanjutnya menggeleng-geleng.Danang merasa kecolongan.Padahal dulu,pemuda itu selalu mengantar jemput Vania ke mana-mana.Singkatnya di mana ada Vania selalu ada Lutfy.


Dan dirinya begitu percaya bahwa Vania dan Lutfy tidak memiliki hubungan spesial,"Karena saat itu,Vania mengaku kalau Lutfy adalah sepupunya,anak omnya yang lama menetap di Amsterdam."


"Nah,itu dia bro.Terakhir Vania bilang padaku akan ke Amsterdam untuk acara pernikahan sepupunya.Padahal tidak.Dia malah ke Maldives bersama pria bernama Rico Saguna Lutfy itu."


"Diego yang melihat mereka,satu minggu sebelum acara peresmian Resort Grand Park TF.Group Maldives.Dan ketika Karin mengundangku ke acara itu,semuanyapun ikut terkuak begitu saja."


"Sementara aku baru bertemu Dania dua minggu setelah itu,tujuannya mengorek informasi tentangmu.Tapi Dania bilang kau lose contac dan menutup diri dari siapapun.Ternyata saat seorang pria sejati patah hati....,bisa separah itu, huh."


"God damn your soul to hell!"Seorang pria terlalu bodoh meratapi nasib buruk hanya karena seorang wanita binal seperti dia,"Danang mengumpat,"Padahal masih banyak wanita baik-baik di luar sana yang patut dimuliakan."


"Seperti Hilya?"Dimas tersenyum miring.


Danang mengangguk,"Tidak dinafikkan lagi,"Menyugar rambut dengan sepuluh jari,"Oh,god,back up!....,cuma dia yang bisa tulus membawa pikiranku kembali normal seperti ini."


"Ya,kau benar kak.Aku,bahkan tinggal pasrah karena tidak memiliki keinginan untuk hidup kembali.Tapi ketulusannya telah membawa kekuatan itu untukku."


Dimas menarik bibirnya getir,"Hhhh....,kenapa dunia begitu kejam,dalam situasi begini malah menghadirkan seseorang yang bahkan aku sendiri tidak bisa menggapainya lantaran sudah dimiliki orang lain."Sementara Danang menyimak ucapannya dengan tatapan nyalang.


"Hah,dunia terlalu sempit.Kenapa orang lain itu malah kakak sepupuku sendiri."


Danang bersedekap,"Wait,kau sedang menguji kesabaranku?"


Dimas tidak menggubris,malah terus saja menyerocos,"Dunia juga terlalu tega membiarkanku patah hati untuk sekian kalinya."


Danang mengeraskan rahang,"Jangan bilang kau jatuh hati pada wanitaku."


"Ini tidak adil!"Pekik Dimas keras."Kenapa dari dulu,semua yang menjadi milikmu selalu saja membuatku tertarik?!....,justeru itu yang membuat hatiku sakit,bro!"


"Tidak,itu dulu.Di kehidupan baru sekarang,kau tidak boleh merengek kepada milikku,kita bukan anak kecil lagi."


"Tapi hatiku juga telah memilih di...."


"Hei,kau mau minta perusahaan keluarga,ambillah.Atau aset berharga lainnya,silakan saja.Akan kuberikan semuanya."


"Tapi tidak untuk Hilyaku,"ucapnya datar,"Dia milikku,satu-satunya.Tidak akan kubiarkan siapapun merebutnya isteriku termasuk,kau!"lanjutnya penuh penekanan pada kata 'isteri.'


Dimas mengerling jahil,kali ini ia perlu membuat Danang terpancing emosi,"Tapi kau kan,dari dulunya rela bagi-bagi,please dude."


"God damn everything,ini pengecualian!"Sentaknya tegas.


Dimas tersenyum samar,"Apa ada kata maaf untukku atas semua yang pernah terjadi?"


Danang mendengus sebal,"Tidak ada,untuk yang ini."


Dimas menyeringai,"Jadi begini posesifnya seorang Danang saat telah menemukan tambatan hati?"Dimas memberondong ucapan takjubnya,"....,kau benar-benar telah jatuh cinta,bro?"


Danang menyapu kasar wajahnya,"Awalnya,amat sulit untuk kupastikan apa aku telah jatuh cinta atau tidak,dan akhirnya aku menemukan sesuatu pada dirinya yang tidak pernah kutemui dari wanita manapun sebelumnya."


"Semua itu mengalir dengan sendirinya,setelah kami melewati beberapa proses yang tidak kusadari,telah begitu menyakiti hati dan jiwanya sebagai isteri yang membutuhkan kasih sayang seorang suami."Terang Danang pelan dan penuh penyesalan.


Dimas manggut-manggut,"Jadi kau mau mengatakan kepadaku bahwa seorang pria sejati tidak akan bertindak gegabah demi menemukan cinta sejati?"Danang mengedikkan bahu.


"Dan tidak semudah kicauan sesaat,yang digadang-gadangkan oleh para pecinta wanita?"Lagi-lagi Danang mengedikkan bahu seraya merentangan telapak tangannya,"Semuanya terserah padamu,bro."lanjutnya mengerling, diikuti tawa sumbang dari Dimas.


Dimas menyodorkan kartu yang diterimanya dari dokter Maulana sebagai rujukan yang akan diberikan kepada suami sang gadis yang ternyata adalah saudaranya sendiri,"Serahkan ini kepada suami pasien."Begitu kata sang dokter.Beserta dengan resep obat dan suplemen ibu hamil kepadanya.


"Dibaca saja,hasil pemeriksaan dokter Maulana mengenai kondisi terakhir isterimu."


Danang menatap tak percaya,Sebuah kejutan yang tidak disangkanya,"Benarkah?"Senyum mengembang begitu saja di bibirnya.Seketika tatapannya berubah menjadi berkabut dan mata itupun ikut mengerjap.


"Jadi permohonan maafku diterima nih?"Goda Dimas.


"Dari dulu,aku tidak pernah memusuhi adikku yang satu ini,"ujar Danang seraya menepuk pelan punggung Dimas.Saling membentuk tinju high five,lalu keduanyapun saling berpelukan dan saling memberi dukungan positif.


Sementara itu di kamar tamu,Nuha yang masuk dengan memasang wajah masam,"Nggak adik,nggak kakak,sama-sama menyebalkan."Ucapan yang berhasil menggariskan kerut di kening Hilya.


"Ada apa,Nut?"Pertanyaan yang sama sekali tidak ingin digubris oleh Nuha.Gadis itu masih saja menghentakkan kakinya berkali-kali.Baru kali ini Hilya melihat tingkah aneh sahabatnya,"Semenyebalkan ini."pikirnya.


Hening....


"Ceritakan,ada apa,"pinta Hilya.Wanita cantik itu terkikik geli melihat aksi mogok Nuha yang tidak ingin berbicara dengannya.


"Kenapa sayang....,kau tahu,anak gadis yang suka cemberut,jodohnya bakal lama."


"Bodooo....,suamimu dan saudaranya itu,bikin kesal hatiku saja."


Hilya terkekeh,"Bukannya Danang sudah sering jahili kamu?"Menggenggam tangan Nuha yang mengambil posisi duduk disampingnya,"Dimas menyakitimu?"lanjutnya ingin tahu.


Nuha mengangguk,"Sudah sekarat gitu,masih saja sombong,mana kak Danang pakai acara mendukung dia lagi,"decitnya kesal,"Menyebalkan."Gadis itu memasang wajah empat belas.Super dongkol.


Hilya terkekeh,"Aku rasa Dimas tidak sesombong itu."


"Jangan bela dia,aku benci padanya."Cetus Hilya semakin kesal.


"Kau berlebihan,awas perbedaan benci dan cinta itu teramat tipis lho."


"Idih,amit-amit.Jatuh cinta sama dia?"celetuknya gemas,"No,no,no.Mending sama si Joshua daripada dia."lanjutnya bergidik ngilu.


Hilya tegelak renyah,"Joshua?....,kau menyukai Joshua?"Hilya lagi-lagi berkedip menggoda,"Muassakk,sama mantan pacar sahabatnya sendiri?"Mencubit gemas pipi chubby Nuha.


"Ya,benarlah."Nuha berkelit.


"Kalau mau berbohong,pakai cara yang elit dong!"Cicit Hilya membuat wajah Nuha semakin memerah.


"Sudah,ah.Aku mau pulang saja,"decitnya pasrah.


Namun di sela senda gurau mereka,tiba-tiba bibi Riska mengetuk pintu dan membawakan semangkuk bubur hangat untuk Hilya dan juga beberapa jenis camilan beserta minuman segar untuk Nuha,"Dicicip dulu,nak."


Nuha menerima dengan mata yang berbinar,mengerling deretan camilan tersebut,mencopot salah satu yang paling khas di antaranya dan untuk dicicip.


Ini membuatnya teringat saat masa kecilnya dulu di mana sang mama yang selalu siaga menyediakan camilan yang terbuat dari kacang hijau ataupun keju sebagai bahan isi dilapisi kulit luar yang terbuat dari tepung terigu,minyak dan sayur.Lalu kuning telur dan susu cair menjadi olesan atas atau sentuhan terakhirnya dan,"Emm,yummi."


"Enak,kan nak.Bibi membuatnya hampir setiap hari,sebab itu camilan kesukaan tuan Dimas."


'Whatt?'Batin Nuha yang mendadak membelalak,"Oh,pantas saja bi.Ya,ini enak."Memasang senyum seramah mungkin.Ya,senyum yang dipaksakan,dan hanya Hilya yang mengerti ekspresi sahabatnya itu,kini tersenyum geli.


"Enak lho,dicicip ya,sayang."Hilya mengedipkan mata nakal,sontak membuat Nuha sukses melotot,memelas ke arahnya.


Bibi Riska tersenyum senang melihat tingkah imut Nuha,kini ia beralih menyodorkan nampan berisi bubur hangat kepada Hilya dengan tatapan sendu,"Nona,makanlah....,kau butuh tenaga agar lekas sembuh."


Hilya tersenyum ramah menerima nampan yang disodorkan oleh wanita paruh baya itu,"Terima kasih,bi."


Bibi Riska mengangguk,"Nak,maafkan kami jika selama beberapa minggu ini kami sudah lancang kepadamu.Sampai kau jatuh sakit begini."


"Tidak masalah,bi.Aku ikhlas untuk semuanya,apalagi dalam urusan membantu sesama."


"Bibi tahu kau orang baik,nak.Tapi kami juga salah tidak mengenal kalau kau adalah isterinya tuan muda kami juga,Tuan Danang."


"Bibi malu,nona.Pas tadi mengontak nomor tuan Danang,bibi ambil dari ponselmu.Ya,tidak tahunya wajah tuan Danang muncul di depan layar."


"Bibi ketar-ketir lho,ketika memastikan dia benar tuan Danang.Huh,ini jantung langsung memacu dikecepatan tertinggi nak,ampun."


Hilya dan Nuha sama-sama tergelak membaca ekspresi bibi Riska yang pias dan ketakutan saat membayangkan kemungkinan terburuk yang bakal mereka terima akibat amarah Danang dan mungkin juga tuan Imran jika suatu saat ia mengetahuinya.


Sejenak kemudian Hilya mengelus bahunya menenangkan,"Ini hanya faktor kebetulan saja,bi.Toh kedatanganku kemari di saat kita tidak saling mengenal."


"Ah.ya.Bibi hampir lupa.Ini obatan resep dokter Maulana,jangan lupa diminum ya,sangat baik untuk kondisi tubuh nona,dan juga....,


Ceklek


Suara ketukan pintu dan juga derit pintu yang dibuka oleh Danang dan juga Dimas seketika menghentikan ucapan bibi Riska.


"Ah,ya.Bibi keluar dulu,nak."Bibi Riska bangkit dan segera berlalu.


"Baik,bi."Danang dan Dimas sama-sama berucap nyaris bersamaan.Senyum semringah tergambar jelas di wajah keduanya.


"Aku juga pulang ya,"ucap Nuha seraya bangkit lalu beranjak mengekori langkah bibi Riska.


Namun Hilya tiba-tiba mencegatnya,"Eh,tidak dicicip dulu pai kesukaanmu?"


Nuha menggeleng,"Aku tidak suka pai."


Danang mengernyit bingung,"Bukannya waktu itu di gazebo,kau habiskan lima potong?"


"Itu dulu,sekarang aku benci pai,"ucapnya ketus sembari bergegas pergi,meninggalkan tiga orang yang kebingungan menatap punggungnya.


....


Bersambung....


🤗🤗🤗