
Happy reading đđ
Usai acara serah terima jabatan general manager Adhytama Star Hotel yang baru, Dania melangkah pelan menuju ke lapak favoritnya.
"Paman, roti gandum lapis satu dan minumnya seperti biasa." Dania memesan camilan kepada om Jimi sembari menunggu supir pribadi yang belum datang.
"Baik nona, perintah segera laksanakan." Jimi si pemilik lapak menyambut hangat tamu langganannya yang sudah terasa seperti keluarga.
Dania menanggapi seruan paman Jimi dengan senyuman kecil yang menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Hening..
"Nona Dania, maaf mengganggu, apa tidak sebaiknya pulang bareng paman saja," ucap suara yang datang mendekat tidak lain adalah paman Sani.
"Paman Sani, kau ada di sini, lalu bagaimana dengan kakak.."
"Ah, ya. Tuan muda lah yang menyuruhku menyusulmu kemari, nona. Dia akan menyelesaikan urusan di Hotel DS itu sendirian," potongnya cepat.
"Oh ya, tapi paman tidak seharusnya menuruti keinginan kakak kan," sela Dania menyesalkan tindakan sekretaris Sani.
Sekretaris Sani terlihat mengulum senyum manis ke arahnya,
"Tenang nona Dania, paman sudah menyampaikan hal ini kepada tuan besar dan beliau mengizinkannya."
Mendapati ekspresi sekretaris Sani yang tidak biasanya, Dania menngernyit curiga, "Apa papa merencanakan sesuatu untuk kakak, paman?"
"Ya, nona. Permisi....," Sani terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Dania dan disambut ramah oleh gadis itu dengan kernyitan kening pertanda bingung. Sesaat kemudian air muka gadis itu tiba-tiba berubah semringah.
"Ah, yang penting terbaik menurut papa dan tidak menyakiti kakak, kita ikut saja." Dania ikut tertawa memandang sekretaris Sani yang cengar-cengir sembari berlalu meninggalkannya setelah berpamitan.
"Paman, roti gandum lapis satu dan minuman yang sama seperti biasa," suara maskulin yang menggelegar dari sisi yang berbeda lantas membuat Dania seketika menoleh.
'si absurd itu lagi,'Â batinnya seraya memutar kedua bola mata.
Dania yang tengah menikmati camilannya memilih menunduk tanpa ekpresi.
"Boleh aku duduk?" Haidar bersuara.
Dania hanya menyeringai sinis tanpa suara.
"Jadi kau sepupunya kakak iparku, dan kau adalah puterinya tuan Imran," ucap pemuda Haidar yang dianggap absurd olehnya itu.
"Kalau ya, lalu kenapa. Apa kau mau meminta berdamai denganku setelah mengetahui aku adalah bagian dari ASH ini?" Dania berdecit kesal seraya menantang pemuda yang duduk di hadapannya itu.
Haidar tersenyum sinis, "Hhh.., itu hanya pikiranmu saja nona. Aku hanya kasian kepadamu, kenapa sepupumu begitu baik dan sopan tapi kau malah sebaliknya, sangat galak dan pemarah," ucapnya mencebik.
Dania melotot tajam, "Jangan membandingkanku dengan siapapun. Jika kau kemari hanya untuk mengganggu ketenanganku maka pergilah!" potong gadis itu cepat dengan wajah yang terlihat memerah.
"Eitt, jangan marah-marah. Nanti lekas tua." timpal Haidar basa-basi.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni pria cari muk seperti dirimu." Dania membalas ucapannya tandas.
Haidar mematung memandang wajah gadis yang sedang memarahinya itu, entah kenapa dengan hatinya, ia malah mendapati wajah itu tampak semakin imut saja.
Sesaat kemudian Dania tampak berdiri dari posisi duduk, "Dengar baik-baik tuan absurd, kau telah melampaui batasanmu. Pertama kau mengganggu ketenanganku di meja ini, dan yang kedua, mau aku galak atau pemarah itu urusanku. Kau tidak perlu mencampurinya." Dania mempertegas ucapan di akhir kalimatnya seraya berlalu meninggalkan pemuda yang masih melongo menatap punggungnya.
"Hei, kau mau ke mana, aku belum selesai bicara," serunya kesal.
"Kau bicara saja sama tembok," balas Dania dongkol.
'Menarik, aku suka gayanya!' Haidar mendengus kecil seraya tersenyum penuh arti memandang punggung Dania yang semakin menjauh.
â˘â˘â˘
ASG yang sepenuhnya telah menjadi milik keluarga Imran. Maka Danang adalah sang pewaris bisnis berlabel dunia tersebut termasuk restoran DS sebagai anak dari perusahaan cabang di kaki hotel DS berbintang lima itu.
"Malam Hilya," sapa salah seorang pemuda rekan sift nya.
"Malam juga Alfin," jawab Hilya ramah.
"Jangan lupa nasi goreng cumi spesial untukku malam ini Lya," goda Alfin seraya mengedipkan mata.
"Amanlah, yang penting kau pun semangat kerja Alf," balas Hilya seraya tertawa kecil.
Ya, gadis itu memiliki nama lengkap Hilya Afiyana. Dia seorang koki yang bertugas setiap malam berhubung di siang hari ia memiliki rutinitas penting sebagai anak kuliahan. Itulah sebabnya ia tidak pernah bekerja di siang hari.
Baru saja ia ingin meraih senjata pamungkas koki demi berhadapan dengan menu spesial malam ini tiba-tiba suara derit ponsel mengagetkannya,
Nak, baik-baik di sana ya. Bapak dan ibu akan selalu mendoakanmu. Salam rindu dari bapak, ibu dan Juna. °Ibu
Meskipun hanya sebatas pesan singkat akan tetapi kalimat penyemangat dari kedua orangtuanya itulah yang selalu membuat Hilya tersenyum penuh semangat.
Katakanlah, dalam rangka berupaya meringankan beban kedua orangtuanya yang sudah berjuang keras untuk menyekolahkan dirinya, hingga berbuntut beasiswa dan akhirnya ia berhasil mengenyam pendidikan lanjutan di kota ini.
Satu hal yang membuatnya tidak pernah merasa sombong dengan setengah keberhasilan yang telah ia raih. Karena orangtualah yang telah menjadi alasan utama mengapa Hilya ingin kuliah sambil bekerja di kota ini.
"Hilya, tolong ke ruangan manager sekarang juga," ucap manager Sherly yang hanya tinggal kelihatan punggungnya dari jauh.
"Baik bu." Hilya menjawab seraya menunduk hormat. Sesaat kemudian ikut mengekori langkah sang manager Sherly meninggalkan ruangan dapur.
"Awas Hilya, dia pasti minta dimasakkin lobster raksasa itu," goda Alfin dan beberapa teman lain yang sudah ikut bergabung.
Hilya ikut cengar-cengir mendengar usikkan teman-teman kokinya sembari memantapkan langkah menuju ruangan manager.
"Silahkan duduk Hilya," titah ibu Sherly.
"Baik bu, terima kasih," jawabnya sopan.
"Dengar Hilya, malam ini putera pemilik Adhytama Star Group akan melakukan kunjungan ke restoran kita hmm," ucapnya sedikit menjeda,
"Tolong kau buatkan menu spesial makanan laut lobster dan sate kerang khusus untuk tuan muda." lanjutnya setelah berpikir cukup lama. Sorot matanya tidak lepas dari memindai lekat tubuh gadis yang terseyum ramah di depannya itu.
"Baik bu, akan saya kerjakan sesuai perintah," balas Hilya penuh percaya diri.
"Ingat! Lakukan tugas ini dengan baik dan jangan sekali-kali mengecewakan tuan muda karena dia tidak segan-segan untuk memecat karyawan yang tidak becus dalam bekerja," tukas sang manager memberi peringatan ganda membuat nyali sang Hilya sedikit menciut.
"Baik bu, akan saya lakukan sesuai perintah," balasnya lagi. Kali ini dengan nada yang sedikit menurun dari awalnya.
"Baiklah. Ibu pamit pulang ya, kau baik-baik di sini bersama rekanmu yang lain," ucap sang manager seraya menepuk pelan bahu Hilya dan bersiap-siap untuk segera pulang karena beliau bekerja di sift pagi.
Di tempat lain, di tengah hiruk pikuk sebuah diskotik bar seorang pemuda sedang meneguk alkohol untuk kesekian kalinya. Sorot matanya menerawang membawa tubuh kekarnya ikut terkulai lemas di atas meja bar. Di bibirnya menyungging senyum getir. Pemuda itu tampak larut dalam kesedihan masa lalunya.
Sementara itu, di pintu samping diskotik telah berdiri seorang pria berjaket hitam sedang memantau keadaan pemuda lemas tadi yang tidak lain adalah Danang.
Pria itu ditugaskan oleh papa Imran agar menjaga keselamatan puteranya dan segera melaporkan keberadaan puteranya setiap sepuluh menit sekali.
â˘â˘â˘â˘â˘
Bersambung...