I Need You

I Need You
Suplemen Penyembuh Sakit



Happy reading 😍📖


Deheman keras sukses membuat semua mata menoleh ke arah sosok yang baru muncul.Hilya yang amat mengenal baik bunyi pita suara tersebut,sontak tersenyum lega.


"Gadis eror,kenapa pakai urat di depan dua pasien sekaligus?"Sembur sang pemilik suara maskulin yang tidak lain adalah Danang.


Namun ucapannya tidak mendapat respon apapun dari ketiga orang yang tampak masih belum percaya akan kehadiran dirinya nan begitu mendadak dan mengejutkan.


Baik Dimas maupun Nuha sama-sama mematung.Berbeda dengan Hilya yang tampak mulai bersemangat dan bahagia,"Bagaimana bisa kemari,bukannya lagi kerja?"


Bagaimana tidak,di saat suasana hatinya sedang kacau balau dan kepalanya yang masih berdenyut sakit,tiba-tiba orang yang paling ia cintainya sudah berdiri di depan mata,"Dapat panggilan dari bibi Riska,"ucapnya memberi keterangan.


Kaki jenjangnya melangkah pelan mendekati sang isteri dengan tatapan mendamba.Di balik sorot elangnya itu menggambarkan tingkat kekhawatiran yang teramat tinggi.Ah,sosok suami idaman.


"Kak Danang,kau."


"Mas Danang,kau."


Ucap Dimas dan Nuha secara bersamaan.Namun keduanya harus pasrah karena pria itu hanya menggubris seadanya sembari menyunggingkan bibir ke arah tujuan sebagai isyarat bahwa kedatangannya kemari demi wanita yang paling ia puja,yaitu isterinya sendiri.


Waktu seakan berjalan lamban.Dimas menangkap aura cinta yang menguar indah di antara kedua insan yang saling beradu tatap,bertanya kabar dalam diam dan baku jawab lewat tatapan cinta yang menerobos tajam,"Ternyata dia isterinya saudaraku sendiri,"gumamnya pelan sembari terus mengawasi tanpa kedip.Katakanlah ia sukses terkesiap.


Sungguh,Danang yang tidak mempedulikan sekitarnya,sontak memeluk sang isteri dan menyuguhkan ciuman ringan di keningnya,lalu tanpa malu sedikitpun turun mengecup singkat bibir ranum itu,"Kau membuatku panik dan khawatir."Danang menggenggam erat jemari isterinya.


Lalu Hilya yang tampak sangat bahagia menyambut kehadiran suaminya,tatapan penuh cinta itu,tidak pernah ia berikan ketika berbicara dengannya,kemudian pasrah menerima perlakuan intim dari kakak sepupunya tanpa canggung sedikitpun,meski rona merah di wajahnya tampak menjalar indah,"Aku baik-baik saja."Gadis itu tersipu menerima perlakuan suaminya.


Baru kali ini ia melihat Danang seposesif ini terhadap seorang wanita.Sontak membuatnya tersadar dari lamunan lalu sigap menyikut tangan Nuha yang masih belum menyadari kalau ternyata ia berdiri begitu dekat dengan dirinya.


Pergerakan refleks yang membuat Nuha terbelalak namun masih bisa mengontrol suaranya.Kini keduanya saling menyikut dalam diam.


"Tolong bawa aku keluar."Pintanya datar.Sementara Nuha masih hanyut memandang dua sejoli yang tengah memadu asmara,"Aku bilang bawa aku keluar!"bentaknya meninggi,namun tidak mengganggu kekhusyuan dua sejoli tersebut.


"Iya,sebentar kenapa."balas Nuha masih belum conect.Namun Dimas yang terlanjur terbawa perasaan,terus memaksa dan bersikeras untuk pergi dari hadapan mereka"Kalau aku tidak lumpuh,mana mungkin meminta bantuanmu,gadis gila."bentaknya semakin keras.


Seketika itu juga membuat Nuha mulai menyadari satu hal kalau wajah Dimas yang pias mulai memerah dan sendu,tanpa basa-basi ia buru-buru meraih kursi roda dan siap berlalu,"Iya,ya,kita keluar sekarang ya."bujuknya tidak tega,"Lah kenapa jadinya aku yang membujuk dia?"Nuha membatin ketus,"Bukannya aku harus puas melihat aura cemburu di wajah pemuda tengil ini?"Lagi-lagi membatin dengan kening yang kian mengerut tajam.


"Kenapa kau suka betah melihat adegan yang begituan?"Gelegar suara Dimas yang kesal membuat Nuha terjingkat.


Kini mereka berdua sudah melewati sekat pembatas menuju ke ruang multifungsi,"Kau cemburu?"Nuha melempar senyum licik.Waktu yang tepat melempar umpan.


Dimas mendengus kesal,"Tidak,tapi aku tidak suka."Membuang pandangan sembarangan arah sementara Nuha tertawa puas lantaran merasa umpannya termakan.


"Kenapa kau suka sekali melihat hal begitu?"Lagi-lagi Dimas melempar pertanyaan membidik,membuat Hilya mencebik.


"Apaan,aku tuh senang melihat sahabatku bahagia.Jadi adegan kayak gitu aku skip saja dari penglihatanku,"celetuknya memberi alasan.


Dimas menyeringai sarkas,"Yakin?"


"Yakinlah."


"Perasaan tiga tahun lalu,kau juga bocah gendeng yang mengintipku pacaran,bukan?"


"Eh,kau!"Nuha mendadak melepaskan genggamannya di penahan kursi roda,"Jangan sembarang menuduh."Serangnya tidak terima.


Dimas gelagapan,"Eh,jangan dilepas.Kau benar-benar ingin membunuhku?"cetusnya panik.


Nuha melotot tajam,"Iya....,puas?!"?Menautkan alisnya kesal.


"Eh,eh....,aku belum mau mati.Masih ingin menikmati adegan kayak tadi,"ucapnya penuh perasaan yang dibuat-buat.


Tangannya sigap menautkan jemari Nuha dengan ekspresi semesum mungkin,sembari mengatup bibir menahan tawa.Padahal di hatinya juga merasa tergores.Kali ini ia berniat menggoda gadis itu.Setidaknya membuat hatinya sedikit melupakan adegan yang sempat melukai hati didalam ruangan tadi.


Nuha berupaya mengelak,"Sana,nikmati saja sendiri,aku mau pulang."


"Memangnya siapa yang mau mengajakmu melakukannya?"Lagi-lagi Dimas berusaha menggoda dan sukses membuat Nuha terpaksa harus pasrah dipermalukan,"Kau bukan levelku,gadis gila."Sama-sama dipermalukan,seperti tiga tahun lalu.


"Diam atau kugampar."Bentak Nuha mulai kehilangan sabar.Mengangkat tangan nyaris melayangkan sebuah tamparan ke wajah Dimas.


"Ehmm,jadi cewek lembut dikit,napa."Tegur suara yang perlahan mendekat dari balik sekat.Lagi-lagi Danang memergoki mereka tengah perang mulut,dan Nuha di posisi mendominasi.


Sikap membela Danang yang kedua kalinya sukses membuat Nuha memutarkan kedua bola matanya,"Jangan dibela,napa."Jengah melihat Dimas melempar senyum kemenangan,"Orang dia juga yang duluan,"ujarnya kesal lalu mengambil sikap bersedekap.


Danang terkekeh geli,"Tolong kau temani Hilya didalam,"Menunjuk ke arah kamar,"Aku akan bicara berdua dengan adik sepupuku."lanjutnya masih cengar-cengir.


"Apa?!....,adik sepupu."Nuha menatap tak percaya,bibirnya mengulang kalimat Danang sembari melemparkan seringai sinis,"Pantas saja sama-sama."Siap beranjak.Namun Danang menghadang jalan gadis itu dengan tubuhnya selaku pagar betis.Melotot tajam membuat gadis itu langsung ciut nyali,"Sama-sama apa?....,jelaskan."Titahnya tak terbantahkan.


Nuha yang terperangkap terpaksa menghentikan langkahnya,"Sama-sama mesum."Mendorong kasar tubuh kekar Danang namun tidak berhasil membuatnya bergeser sedikitpun.


Danang terkekeh,"Makanya cepat punya pacar."Mengacak-acak rambut Nuha yang tetap rapi,"Biar nggak panas dingin lihat orang bermesraan."lanjutnya menoyor jidat sang gadis,gemas.


Pemuda itu tampak menyeringai menahan tawa,"Cari pacar yang sama gilanya macam kaupun boleh,lumayan jadi lawan kencan."Timpalnya kedap-kedipkan mata,membuat Nuha semakin kesal sembari menghentakkan kaki berkali-kali,"Yee....,pacarku nggak mesum seperti kalian."


Danang terkekeh,"Yang kau bilang mesum itu sehat lho,dek."Selorohnya jahil menahan tawa.


"Bukan,itu sakit."Cetusnya sengit.


"Orang sakit butuh suplemen yang begituan,"tambah Danang masih berseloroh,"Biar lekas sembuh."


"Nggak butuh."


"Yakin nggak butuh suplemen begituan?"Dimas menimpal sembari mengedipkan mata nakal.


Nuha mengepalkan tinju seraya bergegas,"Susah ngomong sama orang mesum."Bisa mati dikeroyok dua orang mesum,pikirnya seraya mempercepat langkah,"Untung ada kak Danang,kalau tidak sudah kuulek tuh matanya pakai cabai."gumamnya geram.


Ya tiga tahun lalu,


Flashback on


sepulang dari mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru di universitas Xx, Nuha iseng ikut pulang ke rumah sahabat karibnya yang tidak jauh dari rumahnya,"Aku main ke rumahmu,ya?"Pintanya iseng kepada Joshua.


"Boleh,habis itu kita ke galery seniku,ya."Balas Joshua sembari terkekeh meminta imbalan.


"Oke,siapa takut."


Di rumah Joshua,seperti biasa sembari menunggu sahabat terbaiknya itu menyelesaikan urusan pribadinya,ia akan berkeliling rumah besar sang sahabat itu sambil menikmati camilan nikmat yang disuguhkan oleh asisten rumah tangga Joshua.


Kali itu ia memilih berkeliling perpustakaan demi mencari bacaan menarik pelepas rasa jenuh selama menunggu.Saat sedang asyiknya berkutat dengan buku,tiba-tiba derit ponsel memaksanya melirik.Nama Joshua tertera di sana,"Hmm....,berangkat sekarang?"Tanyanya tanpa basa-basi.


"Ya,turunlah,tapi sebelumnya tolong mampir ke ruang pribadiku.Pintunya menyamping dengan punya perpus,tidak dikunci."


"Kau masuk saja,dan tolong ambilkan aku paket kuas baru yang kusimpan di atas meja.Sudah dibungkus rapi,tinggal diambil saja,oke."


"Baiklah,sebelah perpus,tidak dikunci dan sudah dibungkus rapi,di atas meja,dan tinggal diambil."Nuha mengulang petunjuk yang diberikan Joshua dengan lantang dan penuh ekspresi meniru gaya bicara sahabatnya yang super perfect.


Aksi gemasnya berjalan mulus tanpa menyadari kalau dirinya tidak sendirian di ruangan tersebut.Tapi juga ada sepasang sejoli yang tengah memadu kasih.Saling bercanda ria,saling memeluk mesra,saling mengeksplor tubuh dan saling melempar ciuman panas,"Wah ini gila."gumamnya terperangah.


Berhubung perpustakaannya berada di lantai tiga,maka kedua sejoli itu tampak leluasa melancarkan aksi kencan mereka tanpa mempedulikan apa kondisinya dan siapapun yang memergoki mereka.


"Hei,bocah sinting?!....,kenapa mengintip kami?"Bentak sang pria keras.Sontak membuatnya berjingkat.


"Nuha,kau di sini,dek?"Vania menyapa sembari melempar senyum tanpa dosa.


"I_yya kak,m_maaf."


"Dasar sinting."Pria itu masih saja mengumpat kesal.


Ya,pemuda yang akhirnya ia kenal sebagai Dimas,pacar kakak sahabatnya Joshua, bernama Vania.Dimas yang tidak terima lantaran merasa dibuntuti,akhirnya memutuskan untuk mengejar dirinya yang sudah siap kabur.Namun Vania lekas menarik lengannya,"Biarkan saja,dia sahabat adikku,"Memeluk manja tubuh atletis itu,"Pasti Joshua yang menyuruhnya kemari."lanjutnya menerangkan.


Dimas mengalah dan membiarkan Nuha lolos,"Awas kau,bocah.Urusan kita belum beres,"cetusnya memberi peringatan.


Nuha berlari sekencang yang ia hendaki.Pikirannya masih terjebak adegan mesra dua sejoli tadi,"Shit!"umpatnya kesal.


"Gila saja tuh orang.Sudah buat mataku nggak ori lagi,baru pakai aksi mengancam."


"Memangnya siapa dia?"


"Awas saja kalau dia sampai menghakimiku,bakal kubuat perkedel juga tu horang."Berjalan menghampiri Joshua yang sudah menunggu di mobil.


"Kenapa ketakutan gitu,terus komat-kamit sendiri lagi?"Suara Joshua mengagetkannya.


"H_habis maraton dari lantai tiga,"ucapnya dengan napas tersengal-sengal,"A_ada pria sinting di atas."lanjutnya berlepotan.


"Oalah,itu Dimas,tunangan kak Vania."Terang Joshua terkiki geli.


"Ooh."Angguknya pasrah.


Flashback off


Nuha memasuki kamar tamu dengan wajah memerah menahan dongkol.Sementara itu Dimas sudah siap berhadapan dengan sang kakak sepupunya di ruang multifungsi dalam suasana yang mencekam.


.....


Bersambung....


🤗🤗🤗