I Need You

I Need You
Panggilan ke Rumah Besar Papa Imran



Happy reading 😍📖


Usai membersihkan diri dan berdandan seadanya,Hilya mengambil langkah keluar ke ruang dapur.Di sana bibi Nunung sudah siap dengan menata sarapan pagi.Roti panggang selai kacang ditambah segelas susu,nikmat untuk pagi ini.


"Kau sudah rapi,kapan mandinya?"Hilya melongo melihat Danang yang sudah rapi dengan setelan baju kemeja non formalnya.


"Semalam....,"ucapnya cengar-cengir,"Kita akan segera ke rumah besar.Papa menyuruh kita ke sana."lanjutnya sembari menggigit potongan roti yang siap masuk kedalam mulutnya.


"Oh,ya.Baiklah."


Nyatanya,Danang mandi di kamar mandi yang berbeda demi mempersingkat waktu.Karena baru saja sang ayah menghubunginya kalau mereka akan kedatangan tamu di rumah besar dalam rangka menjalin kekeluargaan.


Sepanjang perjalanan,Juna yang ikut bersama tampak murung.Meski diajak berbicara namun bocah itu lebih banyak memilih bungkam daripada harus menjawab pertanyaan bunda maupun papa Danang.Baik Hilya maupun Danang tampak sama-sama mengira kalau Juna masih terbawa dengan masalah kemarin sore.


Rumah Besar Kediaman Keluarga Imran....,


"Selamat pagi,pa."


"Pagi nak,silahkan duduk."Tuan Imran mempersilahkan anak dan menantunya untuk duduk.Sementara Juna sudah berlari ke area taman belakang dan bermain bersama dengan paman Rudi si penjaga taman.


"Di mana mama,pa?"Hilya bersuara setelah beberapa detik terciptanya hening.


"Mama masih di kamarnya."Papa Imran menjelasakan.


"Oh biar aku yang jemput mama,"ucap Hilya sembari beranjak ke lantai atas.


"Lalu Dania?"Danang ikut menimpali.


"Adikmu kerja hari ini."Papa Imran lagi-lagi dengan sabar menjelaskan,"Ini yang ingin papa jelaskan kepadamu,soal keluarga Fahri Al-Fatih mau kemari untuk menjalin hubungan keluarga dengan kita."lanjutnya hati-hati.


"Jadi maksud papa,soal Dania?"Danang menangkap maksud dari sang papa.


Tuan Imran mengangguk.


Padahal Danang pernah menolak saat pertama kali Dania dipromosikan untuk bekerja di Adhytama Star Hotel.Mengingat ada Ibnu Haidar yang menjabat sebagai General Manager baru di sana.Danang tidak merendahkan siapa-siapa.Hanya saja ia tidak menyukai latar belakang keluarga besar Tun Al-Fatih yang selalu dibayangi oleh mafia kelas dunia.


"Karena aku khawatir hal seperti ini akan terjadi,"ujar Danang datar,"Tapi papa tetap saja memberinya peluang."lanjutnya menyesali sikap sang papa yang terkesan memberi kebebasan kepada puteri bungsunya.


Tuan Imran meraih cangkir teh di atas meja sembari menyeruput seteguk,melesat masuk begitu saja kedalam mulutnya.Sang papa yang tampak selalu tenang dan tersenyum.Tidak pernah menyelesaikan masalahnya dengan amarah.


Dipijakkan tangga terakhir,tampak Hilya menggandeng mama mertuanya,melangkah kian mendekat.


Sementara papa Imran bergumam,"Di luar dugaan,"kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja,"Padahal papa kira selama ini Dania punya pacar anak sekampusnya itu,"mengangkat wajahnya memandangi sang isteri yang sudah siap mengambil posisi duduk disampingnya,"siapa namanya ma,"lanjutnya mengingat-ingat.


"Lutfy."sambar mama Andin singkat.


"Ah,ya.Lutfy....,kan sering ia ajak kemari waktu itu."tambahnya merasa kecolongan.


"Ya,tapi Lutfy sudah pindah ke Belanda bersama keluarga besarnya."


"Ooh....,papa salah dong!"Tuan Imran bergumam,tenang.


Danang menghela napas dalam,


"Aku tetap tidak setuju pa,sosialita keluarga mereka itu memasuki level mafia kelas dunia,Aku tidak ingin Dania menerima nasib yang sama seperti....,"ucapannya terputus.Danang bungkam.


Papa Imran merenungi ucapan puteranya,sedangkan mama Andin dan Hilya saling pandang.


"Seperti Karin,maksudmu?"Mama Andin mencoba menyambungkan kalimat puteranya.


Danang tertunduk lesu.Wajahnya seketika berubah pucat.


Papa Imran yang merasakan kebenaran ucapan puteranya ikut menambahkan,


"Ya,keponakanku itu memang sangat tegar,"merenggangkan otot jemarinya,"Selalu menderita sejak ia masuk dalam keluarga Tun Fahmi."


Danang menarik seringai mencekam,"Waktu itu,Diego nyaris lenyap di kasus bom Bruno Palm,kan."menopang kedua tangan ke dagu runcingnya dengan kedua siku sebagai tumpuan,"gara-gara teror mafia juga."lanjutnya menerawang.


Hilya hanya bisa menyimak percakapan di antara ketiga orang dekatnya itu.Ada rasa ingin tahu yang cukup besar dalam hatinya soal Karin yang masuk dalam pembahasan mereka saat ini.Ini kali ke dua nama itu didengarnya.


Namun ketika Danang menyebut nama Diego,Hilya jadi teringat seseorang yang pernah memperkenalkan dirinya ketika di acara hari berbagi,penyerahan secara sombolik perwakilan seribu warga oleh Adhytama Group.Membuatnya berkesimpulan bahwa Karin itu adalah isterinya Diego.


'Jadi dia yang bernama Karin itu,'batinnya berkecamuk.Hilya sangat yakin kalau Karin itu tidak lain adalah wanita beranak satu yang pernah dipeluk oleh suaminya beberapa waktu yang lalu.Wanita yang memiliki kecantikan yang nyaris sempurna.


Lalu kenapa suaminya yang menolak menyebut nama Karin tapi malah begitu gampang memeluk ciumnya di saat bertemu.Entah kenapa,Hilya malah merasa terluka untuk yang satu ini.Untuk pertama kalinya ia mengetahui sisi lain suaminya. Bahwa ternyata Danang juga bisa bersikap sangat lembut kepada seorang wanita.


Dan itu bukan ditujukan kepadanya melainkan kepada wanita satu anak itu.Mungkin saja kesempurnaan yang dimiliki oleh seorang Karin yang membuatnya berbeda dengan yang lain termasuk dirinya sendiri.


'Ah,bahkan pikiranku saja sudah terkontminasi gara-gara monster menyebalkan ini.'batinnya sesal.


Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa kepalanya pusing.Perutnya mual dan ingin muntah.Perubahan mood di wajahnya itu disadari oleh ibu mertuanya,nyonya Andin.


"Hilya,kau tampak kurang sehat,nak."


"Ee....,ya.Kepalaku tiba-tiba sakit dan pusing,ma."balasnya pelan.


"Oh,ya sudah.Sambil menunggu kedatangan mereka,sebaiknya kau istirahat di kamar saja."


Sesuai saran mertua,Hilya menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak.Setidaknya cukup memejamkan mata saja sudah cukup.Melihat isterinya pergi,Danang memutuskan untuk mengikutinya.Hilya yang baru saja meletakkan kepalanya ke atas bantal menyadari krhadiran suaminya.


"Kenapa kemari?"Hilya membatalkan niatnya untuk merebahkan diri.Gadis itu memilih duduk di atas kasur sembari memeluk kedua kakinya.


"Malas saja di bawah."Danang melemparkan posisi duduknya di sofa sembari menopang dagunya.


Hilya memicingkan mata,


"Kan papa dan mama memanggil kemari untuk bicara."Gadis itu masih belum puas bertanya.


Danang menghela napas kasar,"Biarkan saja,"melepas dari topangan dagunya."aku tidak tertarik dengan keluarga pesohor itu."lanjutnya sembari menunduk dalam ke dasar bumi,


Hening....


Hilya memilih meraih buku bacaan miliknya yang tertinggal di atas nakas.Merasa belum puas dengan jawaban suaminya.Gadis itu mencebik,'Memang tidak suka,atau karena mereka pernah merebut sesuatu yang berharga darimu?'gumam Hilya lebih tepatnya bicara kepada dirinya sendiri.


Danang yang sempat mendengarnya lantas menarik bibirnya,lebih tepat dibilang menyeringai,


"Apa kau bilang?"Bangkit dari duduknya dan mendekati Hilya,"coba kau ulangi lagi."merebut paksa buku yang dipegang oleh isterinya.


Hilya tampak gemas dengan sikap Danang yang seenaknya,"Aku hanya bilang sebaiknya kau temani papa dan mama,"ucapnya melotot,"kembalikan buku itu."pintanya ketus sembari berusaha merebutnya kembali.


Sebelah tangan Danang masih mengangkat tinggi buku di tangannya untuk menghindari Hilya,sementara tangan yang lainnya siap mengunci kepala isterinya,"Jadi kau mengusirku dari kamarku sendiri?"sorot elangnya menjelajahi kelopak bening isterinya,membawa desiran perasaan layaknya seorang dewasa menerobos masuk dan meliuk-liuk di relung jiwa dan raga keduanya.


Hilya tertegun,meski hatinya berupaya menolak,namun raganya tidak kuasa menolak sengatan tajam yang memanah begitu saja.Kini ia pasrah,"Aku tidak mengusirmu,aku hanya menyarankan saja."


Danang tidak peduli dengan makna ucapan isterinya.Yang ia tahu saat itu hanya ingin merapat ke bibir isterinya yang tampak bergerak-gerak dan semakin menggoda hasrat lelakinya.Desiran dewasanya semakin menyengat menghantam sekujur raganya.Ia lepas kendali.


Disambarnya bibir ranum itu dalam pertahanan tiga detik,menunggu respon isterinya namun tidak ada respon penolakan sedikitpun dari sana.Membuat Danang semakin berani mengulum,mengeksplor hingga ke rongga bagian dalam milik isterinya dengan penuh ekspresi dan perasaan.


Kali ini ia tidak tanggung-tanggung mengerahkan semua kekuatan perasaannya,ia tumpahkan dengan penuh rasa kepada wanita yang pernah ia lukai hatinya,sakiti jiwanya,dan juga rendahkan harga dirinya.


Kini di hatinya hanya ada rasa ingin mengembalikan semua kehormatan itu kepada pemiliknya,namun ia sendiri tidak tahu dengan cara apa ia harus mengembalikannya.


Danang hati-hati membaringkan sang isteri.Dunia seakan berpihak kepadanya.Memberinya peluang untuk menjelajahi lebih jauh area-area sensitif milik isterinya yang belum pernah ia nikmati sebelumnya.


Danang lepas kontrol.Lobidonya meningkat.Dengan gencar ia menjelajahi,meninggalkan tanda-tanda kepemilikan di area dadanya.


Saat ia semakin ingin merebut kesempatan itu,seketika itu pula rasa bersalahnya tiba-tiba menggerogoti manakala melihat butiran bening menetes dari kelopak mata sang isteri yang tiba-tiba basah.Bagai gemuruh yang menghantam jiwanya,mengira-ngira pada perasaan isterinya.


Terluka kah ia,sakit hati kah ia,marah kah ia,atau masih truama kah ia....,semuanya menghantam begitu berat hingga iapun tak kuasa lagi menahan gejolaknya.Danang terpaksa menghentikan aksinya dan menjauh dari isterinya yang tergolek setengah polos,"Maafkan aku,"bisiknya lirih.


Pemuda itu tampak melangkah lebar membuka pintu kamar lalu keluar sembari membanting kasar daun pintu.Membuat Hilya hanya bisa menghela napas dalam.


Hilya merapikan pakaiannya setelah mendapat panggilan dari ruang keluarga mengatakan tamu mereka sudah di perjalanan.Hilya mengambil langkah turun ke lantai bawah dan bergabung bersama mertuanya.Tentunya setelah mematutkan kembali dirinya dengan benar di depan cermin.


"Hilya,di mana Danang?"


Suara mama Andin menyadarkan dirinya kalau Danang sedang tidak bersama mereka saat ini.Hilya gelagapan,"B_bukannya tadi dia di sini, ma?"


Nyonya Andin mengenduskan napas kesal,"Ada apalagi dengan anak itu,"menggeleng-gelengkan kepalanya.Hilya hanya bisa menanggapi keluhan sang mertua dengan cengir kuda.


Beberapa menit kemudian Danang muncul dan menyapa semuanya dengan senyuman memukaunya.Hanya saja sesekali tampak ekspresi datarnya menghiasi wajah oriental itu.Kerap mengokohkan rahang,membuang pandangan kosong,dan tidak ingin beradu tatap dengan gadis yang baru saja ia tinggalkan di kamar tadi.


Hilya merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya itu.Namun ia tidak bisa berbuat banyak karena memang itulah yang ia inginkan,agar Danang membenci dan menjauhinya.Berhasilkah dirinya untuk semua ini sedangkan hatinya saja seakan tersengat saat melihat suaminya mendiami dirinya.


•••••


Bersambung...


Maaf ya teman-teman,kesannya tarik ulur gitu..Tapi memang begitulah alur ceritanya yang author siapkan agar bisa mencapai bab yang sudah author tentukan..Mohon maaf jika tidak berkenan dan terima kasih banyak sudah mendukung author dengan like komen dan vote hadiah..Semoga kita semua diberikan nikmat kesehatan dan rezeki yang berlimpah..Salam ibadah Ramadhan bagi kita semua.Luv U all.


🤗🤗🤗