I Need You

I Need You
Ingin Pulang ke Pangkuan Ibu



Happy reading 📖😍


Mentari menapak di ubun-ubun langit Kota D..


Pemuda yang bernama Danang sengaja mengikuti Hilya dari belakang ketika ia mendapati gadis itu keluar begitu saja dari ruang owner dan berlari-lari keluar dari lift dan meraih taksi.Entah apa yang telah membuatnya merasa perlu membuntutinya.


Yang jelas ia merasa bertanggung jawab terhadap diri gadis itu setelah adanya keputusan dari sang papa yang meminta untuk segera menikahi dirinya.


Tidak tahunya setelah turun dari taksi dan belum jauh juga taksi tersebut menghilang, gadis itu tiba-tiba saja ambruk di depan pintu kos nya.Untung saja Danang tiba di sana tepat waktu dan segera membawa gadis itu masuk ke dalam kos dan membaringkannya di ranjang.


Awalnya ia berniat untuk pergi sebelum


Hilya sadar,namun kakinya terasa berat untuk melangkah,akhirnya ia memutuskan untuk pergi mencari makanan di warung sekitar kos tersebut.


Setelah membeli dua bungkus nasi,ia pun segera kembali namun apes nya di depan kos ia sudah dihadang oleh seorang wanita paruh baya berbadan gempal dengan masker menempel di wajah lengkap dengan rol velcro yang menghias rambut pirangnya, menggambarkan ciri khas ibu rumah tangga cerewet yang gemar dandan.Wanita itu lantas menatap Danang dengan sorot mata tajam dan menerkam,


"Siapa kau dan apa yang kau lakukan di wilayahku hmm?Ini kos khusus wanita!" tegasnya dengan tatapan menyelidik.


Danang mendengus kecil,"Maaf bu,saya atasannya itu,_"ucapannya terpotong sejenak seraya menunjukkan ke arah pintu kos yang di tempati gadis tersebut.


"Siapa?!"tukasnya tanpa melunak.


"Itu,_"terpotong lagi lantaran pemuda itu memang tidak mengetahui pasti siapa nama gadis yang sebentar lagi bakal ia nikahi.


"Hilya?!"


"Ah,ya.Hilya bu.Dia sedang sakit dan saya yang mengantarnya pulang.Izinkan saya masuk untuk memberinya makanan ini." balas Danang sedikit lega.


"Hmm..,lalu apa yang bisa membuatku mempercayaimu sebagai orang baik?" serangnya ketus.


Melihat gelagatnya demikian Danang menyeringai,


"Baiklah bu,untuk membuktikan saya orang baik,maka saya bersedia menitipkan KTP saya di sini dan,"Danang sengaja menjeda dan membiarkan si ibu kos mengangguk pelan tanda penasaran,


"dan saya juga akan melunasi sewa kos yang ditempati Hilya untuk satu tahun ke depan, bagaimana?"lanjutnya membuat tawaran dan wanita itu terbelalak sempurna.


Mana ada orang matre yang tidak menyukai uang.Alhasil ia pun menyetujui tawaran menggiurkan itu dan mempersilahkan Danang masuk tanpa syarat apapun setelah keduanya berhasil melakukan transaksi sesuai kesepakatan.'Melunasi uang sewa kos untuk satu tahun ke depan.'


Danang pun melenggang masuk dengan santai.Sebuah senyum sinis turut menyeringai di bibirnya yang seksi.


Di depan pintu kamar pemuda itu berdiri mematung manakala mendapati bibir ranum itu tampak bergerak sembari menyebut sesuatu,


'Ibu,Hilya ingin pulang..'


'Bapak,Hilya putus kuliah saja boleh ya.. Orang-orang di kota ini sungguh kejam, izinkan Hilya pulang yah.'


Gadis itu meracau tidak jelas seraya mengulang-ulang ucapannnya.Sesaat kemudian terlihat mengerjap beberapa kali sebelum seluruh nyawanya terkumpul dan benar-benar kembali sadar.


Kruk kruk kruk


Bunyi keroncongan berkali-kali menandakan kampung tengahnya mengamuk.Hilya mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan berusaha meraih pegangan di kasur namun tiba-tiba ia merasakan pusing yang teramat di kepalanya,


'Duh!Bagaimana mau cari makan,jika baru selangkah saja kepalaku sudah pusing begini'gumamnya pelan dan masih terdengar jelas oleh Danang.


'Izz..,andai kau di sini..'gumam gadis itu memelas.Kepalanya yang pusing lagi-lagi membuatnya tersungkur.Kali ini ia malah terjerembab ke lantai.


Bukk!


'Argh,auww!' Rintihnya seraya meraba pinggulnya yang terbentur.


Ketika ia mencoba bangkit lagi tiba-tiba Danang sudah meraih dan memegang erat punggungnya kemudian mendudukkan dirinya di atas lantai dan bersandar di ranjang.


"Kakak,apa itu kau?Aku lapar kakak,tapi mataku nggak bisa dibuka,pusing kak.., tolong..hiks hiks hiks.."ucapnya seraya menangis tersedu.


"Makanlah,akan kusuapkan."balas Danang sedikit ramah seraya membuka bungkusan nasi yang dibawanya,menyendok lalu menyuapkan ke mulut gadis itu.Beberapa suapan berjalan hingga gadis itu meminta diberikan air minum.Danang menurutinya.


Satu tegukkan berhasil lolos melepaskan dahaga gadis itu.


Sesaat kemudian gadis itu tampak menggigil dan tergeletak begitu saja di atas lantai.Danang mengernyit bingung.


'Apa dia pingsan lagi?' batinnya rada panik dan bingung.


Danang memberanikan diri meraba kening gadis itu dan ternyata panas tinggi,


'Waduh?!Dia demam tinggi.'gumamnya.


Sekali lagi Danang membopong gadis itu ke ranjang dan membaringkannya,kali ini ia merasa perlu menggantikan baju dan rok kerja yang kainnya terbilang kasar dan mengganggu kenyamanan istirahat dengan piyama yang ia temukan menggantung di ujung dinding dekat lemari pakaian.


Dengan sangat terpaksa ia melakukannya, mengganti baju dan rok wanita itu dan di dalam hatinya menggerutu panjang pendek akan nasib apes yang di deritanya sepanjang hari ini.


'Untung sakit,kalau sembuh sudah kubentak-bentak ni cewek.' batinnya.


Baru saja ia bergeser usai menggantikan baju gadis itu tiba-tiba si gadis meraihnya ke dalam pelukan seraya meracau ria,


"Kakak Helmi,jangan pergi aku takut mereka akan menyakitiku,"


"kakak..,hiks hiks hiks.."


Danang terpaksa mengikut arus dan membiarkan tubuh seksinya dipeluk oleh gadis itu hingga ia merasa tenang dan benar-benar terlelap nyaman.


Menjelang senja Hilya masih belum juga terbangun,Danang memberanikan diri untuk mengecek ponsel milik Hilya.Mencoba mencari nomor ponsel yang mungkin bisa dihubungi.Untung ponselnya tidak menggunakan pola atau kata kunci sehingga mempermudah dirinya untuk membongkar sesuatu di sana.


Ketika ia menggulir di layar siaga, tampaklah foto Hilya yang berpose ria bersama seorang pria seumuran dengannya. Hilya bersedekap ria menghadap kamera sedangkan pria tersebut memeluknya menggunakan sebelah tangan dan sebelah lainnya menancapkan ibu jari dan jemari telunjuknya membentuk pistol tepat di pipi gadis yang tampak melemparkan senyum menawan itu.


Danang melirik ke arah pemilik ponsel yang kini tengah tertidur pulas,


'Jadi ini kekasihnya yang sebenarnya.'batinnya lagi.


Pemuda itu mencermati wajah lelaki yang berfoto bersama Hilya,seketika itu juga membuatnya sedikit memicingkan mata lantaran merasa pernah bertemu dengan orang tersebut tapi entah di mana.


Sementara itu ia sendiri kebingungan dalam mencari siapa orang yang pantas untuk ia hubungi,dan ia baru menemukan sinyal ketika ia menggulir ke kontak whatsapp. Foto gadis yang tertera nama kerennya 'Centil Nuha Izz'itu memiliki wajah yang persis seperti gadis yang berperang mulut dengannya pagi tadi di depan kos ini.Maka tanpa membuang waktu ia pun segera menyambungkan panggilan kepadanya,


Hallo


Hallo


~


Dua puluh menit kemudian...


Manakala senja mulai meninggalkan langit kota D. gadis yang dihubungi oleh Danang pun muncul di depan pintu dengan wajah yang panik dan terlihat sangat khawatir.Danang yang duduk berselonjor di sofa kamar terlihat acuh tak acuh sembari mengutak-atik benda kotak persegi panjang serba canggih di tangannya itu.


Izz yang meraba kening sahabatnya itu, memandang ragu ke arah Danang dan terlihat ingin mengutarakan sesuatu namun segera dipotong oleh pemuda itu,


"Jika kau berpikir aku berniat buruk terhadap temanmu itu,maka mana mungkin aku menghubungimu untuk datang kemari," ucapnya tanpa memandang gadis yang di ajak bicara,


"jadi tutuplah kecurigaanmu itu sebelum aku berubah pikiran untuk menyakiti temanmu atau bahkan dirimu juga." lanjutnya tegas dan penuh penekanan membuat Izz sedikit terjingkat ke belakang.


"Tidak,aku cuma mau mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah merawat sahabatku seharian ini."balas Izz dengan nada paling rendah,sangat berbeda dengan suara oktafnya di waktu pagi hari tadi.


'Untung dia sudah berbaik hati menolong Hilyaku,kalau enggak pasti ini cowok sudah ku kucek-kucek kayak cucian.' batin Nuha Izz.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤩