
Happy reading 😍📖
Maulana Medika....
Satu jam berlalu,
Saat dunia sang anak dalam belenggu, saat wajah sang buah hati tengah bermuram durja, begitu juga dengan hati seorang ibu yang bagai terhempas ke dasar jurang yang paling dalam, hingga seakan tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bisa bangkit kembali. Itulah, yang tengah dirasakan oleh Hilya meski dirinya sendiri masih belum pernah melahirkan seorang bayi pun di dalam hidupnya. Akan tetapi kehadiran Juna dalam hari-harinya selama nyaris lima tahun di tambah kehamilan pertama yang baru dimulai membuatnya merasa telah benar-benar menjadi seorang ibu yang rela memasang badan demi sang buah hati.
"Mohon kembalilah, nak. Demi Bunda." gumamnya getir.
Seperti mana yang dialami oleh Hilya, begitupun yang dirasakan oleh ibu Elmiza Elfy Abimanyu saat ini. Wanita cantik itu tampak menggeleng pelan mematahkan niat suaminya mendekati sang puteri yang tengah menatap kosong sejauh mata memandang.
"Dia sangat terpukul," gumamnya sendu. Tampak cairan asin membekas di wajah cantiknya akibat dari air mata yang tak terbendung, menggores luka hati yang menatap beban dengan caranya sendiri, kian matang tertata oleh waktu, "Biarkan dia sendiri dulu," kini sapuan air kesedihan itu ramah nian menyapa wajah separuh bayanya yang tampak semakin menirus dimakan usia.
"Bapak tidak tega melihatnya begitu," balas si teman hidup paling pengertian, berupaya menawar, namun dibalas dengan tatapan bungkam yang menegaskan, "Tidak perlu..., beri dia waktu, Yah." sebuah sanggahan nyata yang jelas tak ingin dibantah seraya menelengkan kepala, membuat sang suami mau tidak mau harus terpaksa menuruti ucapannya.
Bagaimana tidak? Belum genap sehari, ia melihat wajah riang sang puteri tercinta dalam balutan pakaian adat khas pulau Dewata yang menjadi tanda kebesaran leluhur dan kecintaan keluarganya terhadap garis darah Hinduis yang menurun dari nenek moyangnya di masa lampau, mengalir melekat di dalam nadinya dan mendarah daging. Baru saja tadi, ia harus kembali menerima kenyataan pahit bahwa si puteri tercinta yang nyaris kehilangan nyawa putera angkatnya, juga harus turut merasakan sakit didera luka hati akibat tudingan pedas serta cercaan pahit dari nenek kandung sang anak, Nyonya Amanda.
"Jangan menyalahkan dirimu," pintanya lembut. Perlahan jemari rentanya berhasil menggapai pundak sang puteri yang sedari tadi masih mematung di ruang tunggu. Mengelusnya lembut, penuh kasih. Ada gurat luka di sorot matanya yang tampak meredup. Gadis itu sempat tak sadarkan diri, dan dilarikan ke ruang rawat, namun karena sikapnya yang kekeh membuat ia menolak untuk bertahan di sana sesaat setelah ia siuman. Kemudian memilih menunggu di ruang tunggu demi memantau keadaan sang anak.
Ibu Elmiza berupaya membujuk. Puterinya yang baru saja mencecapi kebahagiaan hidupnya itu, kini harus kembali terpuruk hebat. Hilya sempat menolak tegar. Gadis yang tengah melewati usia hamil muda itu, baru saja siuman lantaran merasa terguncang dan sempat kehilangan kontrol, saat mendapati Juna kesayangannya dalam keadaan tidak sadarkan diri, belum lagi sahabatnya Nuha yang juga kehilangan banyak darah dan mengalami kritis sejak awal. Akh, bagai berada di tengah himpitan langit dan bumi yang menyatu, membuat sang pemilik jiwa dan raga ikut tertindih hingga remuk berkecai bagai butiran debu yang berterbangan.
"Kuatkan hatimu," tambahnya lagi, bahkan sangat pelan mengusik pendengaran.
"Tapi Juna begini, karena keteledoranku, Bu." balasnya gamang, "Amat sakit untuk kutanggung semuanya," mengusap kasar wajah dan dadanya sendiri, "Andai keadilan sedikit saja memihak padaku, maka Juna tidak semenderita ini."
Ibunda Iza menghela napas dalam, sejenak ikut menggeleng pelan, "Takdir itu, sudah ada yang mengaturnya," lagi-lagi mengusap lembut pundak sang anak, "Serahkan beban laramu kepada Allah Yang Esa, insya Allah diberi kemudahan," lirihnya lagi.
"Tapi semua kesalahan bertumpuk padaku, bahkan semua orang menyalahkanku." keluh Hilya kehilangan rasa percaya diri, "Katakan padaku..., Aku harus bagaimana, Ibu?" luruh dalam sedu yang kian sendu.
Ibunda Iza menatap lekat kelopak bening sang Puteri yang semakin memerah, "Jangan didengar, nak. Fokus pada tujuanmu," mengangguk yakin seakan tengah memberinya kekuatan baru, "Kau bahkan punya alasan untuk membuat pembelaan jika memang kemungkinan buruk itu terjadi." lanjutnya penuh pemakluman.
"Ibumu benar, nak." gema suara Ayah Yadi yang baru muncul ikut memperkuat ucapan isterinya, "Abaikan saja tudingan orang," mengusap lembut pucuk kepala sang anak, "Mereka bisanya hanya bicara tanpa mau mencari tahu kejelasannya terlebih dahulu. Apalagi? Kalau bukan untuk menjatuhkan?"
"Tapi Aku tidak ingin membela diri," Hilya mendongak pasrah menatap mata gelap sang ayah yang sedikit tersulut emosi lantaran mendapati keadaan Puterinya saat ini tidak-baik saja, "Aku lebih rela dihukum dunia atas kesalahan yang telah kuperbuat." gumamnya parau. Dunianya luruh, seakan tidak punya kekuatan untuk menopang.
"Jika perlu, bapak akan mengadili mereka, sama seperti suamimu yang tidak tinggal diam." jelas sang ayah yang masih berapi-api, "Percayalah, Bapak dan Ibu akan selalu setia mendukungmu." lanjutnya penuh penekanan.
Hilya yang merasa mulai ada kekuatan baru, kini bisa mengangguk letih. Perlahan otaknya memulih. Sementara ingatannya yang kembali kuat memicu kerut di keningnya tiada henti mencerna ucapan sang ayah baru saja, bahwa suaminya tidak tinggal diam. Itu artinya Danang mengambil tindakan tegas pada beberapa wanita yang saling menggunjingkan dirinya sesaat sebelum ia jatuh tak sadarkan diri.
"Apa Danang mengadili mereka?" tanyanya pelan.
Bapak Haryadi mengangguk samar, "Orang seperti mereka perlu dibuat mengerti," mengambil posisi duduk di samping sang anak, "karena mereka tidak akan pernah bisa mengerti dengan sendirinya." seraya menyugar kasar rambutnya yang mulai beruban ke belakang.
"Sudah, sayang. Usah dipikir hal yang tidak penting. Biar suamimu dan Bapak yang mengurusnya," tambah sang Bapak seraya menggenggam erat jemari Puterinya.
"Sekarang saatnya kembali ke ruangan mu dan istirahatlah, demi menjaga calon bayimu," timpal sang ibu yang juga berada di sini yang lainnya, "Dia berhak hidup dari nutrisi dan kesehatan yang ditransfer oleh ibunya." memeluk pundak sang anak dengan penuh sayang.
Hampir setengah hari wanita paruh baya itu duduk menemani sang anak yang tengah tertidur pulas di ranjang pasien ruang VVIP. Suaminya, Danang menitipkan isterinya itu kepada mertuanya ini sebelum dirinya terpaksa harus berangkat ke kantor lebih awal bersama sang Papa lantaran ada rapat penting yang tidak bisa ditunda. Ibu Ia melirik singkat ke wajah pulas Puterinya. Tampak aura tenang di wajahnya yang masih membekas air mata lara, meski hatinya masih berjelaga.
"Itu artinya, sang Puteri yang satu ini sebenarnya sangat kuat." gumamnya lirih.
Kini wanita paruh baya itu seakan melihat cerminan dirinya di masa lalu. Menatap kilas balik perjuangannya sebagai seorang isteri yang patuh dan setia pada janji sucinya demi hidup yang tidak mudah lantaran ditentang keras oleh sang ayah yang notabenenya seorang hartawan di Kota nya. Sementara sang suami hanyalah seorang anak yatim piatu yang tidak memiliki siapapun kecuali sang paman yang juga seorang penjual sayur keliling. Namun berkat ketabahan hati dan kegigihannya dalam memperjuangkan nasib cintanya, akhirnya ia bisa bertahan hingga kini dan hidup bahagia dalam ikatan keluarga yang utuh. Malah sebaliknya, suaminya itupun telah dianggap anak oleh sang ayah sebelum beliau menutup mata.
"Dulu, Ibu nyaris kehilangan kakakmu, Helmy..., di usia kandungan ibu baru mencapai dua bulan," ujar sang Ibu mulai membuka kenangan masa lalunya, "Ketika itu, Bapakmu sedang dalam masa kritis di rumah sakit....," lanjutnya menjeda, sesaat setelah sang anak mengerjap dari lelapnya.
"Memangnya Bapak kenapa, Bu?" tanya Hilya dengan kening mengerut tajam, rupanya sang anak terpancing dengan cerita masa lalu orangtuanya.
Ibunda Elmiza tersenyum lirih menatap wajah sayu sang anak, "Untuk itu, berjanjilah. Setelah mendengar ini, Kau tidak boleh rapuh lagi." membelai lembut rambut sebahu sang anak dengan penuh kasih.
"Insya Allah, Bu." balasnya lirih, "Aku berjanji." namun murung.
Ibunda Iza melanjutkan ucapannya, "Bapakmu mengalami kecelakaan saat berjualan keliling akibat terlalu banyak beban pikiran."
"Gara-gara kakekmu mengusirnya dari rumah dan meminta agar segera menceraikan Ibu lantaran terpengaruh oleh ucapan para warga yang iri melihat kebahagiaan kami."
"Mencarikan tempat sewa yang murah agar Bapak tidak berjualan keliling lagi. Dengan demikian, maka usaha Bapak akan semakin mapan dan kemungkinan bisa diterima dengan baik oleh Kakek,"
"Eh, malah dinilai buruk oleh masyarakat sekitar, hingga Bapakmu dan sahabatnya itu diklaim saling selingkuh."
"Karena terpuruk, akhirnya Bapakmu yang sudah terusir selama dua Minggu, mengalami kecelakaan parah. Ibu ikut terpuruk hebat. Dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami pendarahan, namun masih bisa tertolong berkat wanita itu juga yang gesit membawa ibu ke rumah sakit.
"Hingga suatu ketika, akhirnya wanita baik hati itu rela hadir di hadapan Kakek dan memberikan penjelasan mengenai statusnya yang juga sudah menikah dan punya seorang anak yang telah mencapai usia dua tahun telah membawa perubahan besar pada hubungan kami."
"Kakekmu menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada Bapak, dan merestui hubungan kami hingga kini."
Hilya manggut-manggut mengerti. Bukan cuma dirinya yang paling menderita di dunia ini. Bahkan Ibu kandungnya sendiri saja memiliki perjuangan masa lalu yang cukup menguras energi dan air mata lara. Pantas saja sang Ibu tampak begitu tegar di saat mereka sama-sama mendapat musibah seperti ini.
"Bu, maafkan Aku, telah menjadi anak yang lemah." cicitnya di sela Isak tangis yang tidak tertahankan.
"Tidak mengapa, sayang. Untuk menjadi setegar Ibu, semua ada saatnya." bujuk sang ibu penuh kelembutan. Senyum getir ikut menghiasi wajah-wajah letih milik kedua anak beranak tersebut.
Sementara itu, di kejauhan lorong lalu lalang, tampak seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan terburu-buru mendekati ruang ibu dan anak yang sedang berbagi pengalaman mereka. Ia tidak lain adalah sang mertua, Nyonya Andin.
"Sayang, maaf Mama baru bisa kemari lagi setelah mengurus keperluan Papa dan suamimu ke kantor tadi." ucap Nyonya Andin yang baru muncul dari balik pintu rumah sakit.
"Tidak mengapa, Ma. Maaf juga, telah merepotkan Mama."
Tidak masalah, sayang. Dengan senang hati Mama melakukannya."
"Oh, ya. Bagaimana keadaanmu? Mama nggak mau ya, pakai acara pingsang mendadak lagi."
"Sudah mendingan, Ma."
"Ya, Aku janji nggak bakal pingsan lagi,"
"Emm, gitu donk. Ini baru menantu Mama yang hebat." mencubit pelan pipi sang menantu, "Senang melihat Kamu sudah mulai kuat." lanjutnya penuh semangat.
"Andin, terima kasih sudah menyayangi Hilya dengan tulus." Ibu Elmiza menyatakan rasa harunya.
"Sudah seharusnya begitu, Za. Dia juga Puteriku..., Puteri kita." balas Nyonya Andin tanpa sungkan.
"Oh, ya. Sayang. Mama baru saja dari ruang dokter. Kata Dokter Maulana, Juna telah melewati masa kritisnya." ujarnya seraya menyapu wajahnya yang juga tampak pucat akibat kurang istirahat, "Juna sudah bisa dijenguk saat ini." tambahnya panjang lebar diikuti helaan napas lega dari kedua wanita beda fase tersebut.
"Alhamdulillah, setidaknya ada sedikit kelonggaran." ujar Ibunda Iza menatap haru wajah sang Puteri yang mendadak bangkit dan juga ikut menitikkan air mata kelegaan.
"Kau benar, Za. Setidaknya kita bisa membagi waktu untuk ikut merawat Nuha."
"Tidak usah sekarang, Ndin....," menggeleng pelan seraya menggenggam pergelangan tangan wanita itu, "Nyonya Amanda masih syok berat." keluhnya merendahkan suara, "Dia mengamuk saat melihat kehadiran Hilya di ruangan Nuha." tambahnya menyesal.
"Oh,ya. Aku sudah mendengar semua cerita dari Danang. Itu sebabnya Aku tadi sampai terburu-buru kemari. Takutnya terjadi apa-apa pada Hilya." ungkapnya penuh kekhawatiran.
"Baru saja Dimas memberi kabar terbaru tentang Nyonya Amanda," Bisik Nyonya Andin menahan pergerakan Ibu Iza sesaat setelah mendapati Hilya telah lebih dulu meninggalkan ruangan, "Katanya, Nyonya Amanda akan mengangkat kasus ini di kepolisian." tambahnya bingung.
Wanita paruh baya yang telah melahirkan sang buah hati itu kini menghela napas berat, "Walau bagaimanapun, Hilya bukan penyebab secara langsung kecelakaan ini," menatap nyalang dengan bola api menyirat jelas di mata tua miliknya, "Aku tidak rela jika Puteriku dituding bersalah." lanjutnya pelan namun menekan.
Nyonya Andin mengangguk samar di sela langkah pelan mereka, "Kuharap Nyonya Amanda tidak gegabah."
Selanjutnya kedua wanita paruh baya ini memilih berjalan dalam diam. Keduanya larut dalam pikiran dan kesedihan masing-masing.
Sementara Hilya yang sudah pergi sesaat setelah mendengar ucapan sang mertua, kini telahpun berdiri tepat di depan pintu ruang ICU. Tampak dua orang perawat yang baru usai melakukan pemeriksaan lanjutan ke atas puteranya. Hilya tergugu. Menatap nanar sang bocah dari kejauhan dengan rasa bercampur aduk di sela air mata yang berjatuhan. Bibirnya bergetar mengungkapkan sesuatu yang tidak jelas kedengaran.
"Bu, silakan masuk. Harap tidak menciptakan keributan di dalam ruangan agar pasien tetap beristirahat dengan nyaman." ujar salah seorang perawat yang menyadari kehadiran dirinya.
••••
Bersambung....
🤗🤗🤗