
Danang menggeret tubuh gadis itu hingga bersandar di mobil.Kini jemari kekarnya menangkup rahang si gadis yang menirus. Deru napas yang memburu hangat menerpa hidung dan pipi gadis itu.Hilya menciut dan menutup mata.
Danang menyeringai sinis,
"Hhhh..,aku jadi semakin yakin di sini..,"ucapnya menjeda,"..bahwa kebaikanmu di depan semua orang itu hanya pura-pura," lanjutnya ketus.
Di manapun tempatnya, tidak akan ada wanita baik-baik yang berani keluar sendirian selarut ini,apalagi berjalan kaki sejauh satu kilometer di tengah malam hanya untuk mencari tumpangan.Terkecuali ia memang benar-benar memiliki keahlian bela diri yang khusus atau bahkan bertindak nekad.
Tiba-tiba bayangan masa lalu menghantui dirinya. Masa lalu tentang Karin yang berjalan sendirian lalu ditimpa kecelakaan,kemudian Lian yang mendapat tindakan asusila dari pria bejat, membuat dirinya berpikir dua kali membiarkan wanita ini berjalan sendirian.
Sementara yang ada di dalam hati dan kepala pemuda jangkung ini adalah sebuah kekhawatiran dan keinginan untuk melindungi,namun niat baiknya malah tertutup oleh ucapan kasarnya yang menohok hati dan jantung gadis itu.Danang sukses menyindir gadis itu lagi.
"Jangan menuding sembarangan,aku bukan murahan!"sergah Hilya masih dalam deraian air mata.
"Apa pernah ada maling yang mengaku?" balasnya nyinyir.
Danang menatap dalam bola mata bening gadis yang masih terisak tak tertahankan itu.Ada rasa yang berbeda tiba-tiba timbul dari lubuk hati yang paling dalam...,iba kah dia? Pemuda itu menghela napas pelan,mulai menstabilkan emosinya,
"Masuklah ke mobil,aku yang mengantarmu pulang."
Hilya terpaksa menuruti ucapan pemuda yang bertitah kepadanya itu.
"Besok tunggulah di kos.Aku akan menjemputmu."ucapnya datar,setelah mengambil posisi di kursi kemudi dan siap mengantarkan gadis itu ke Permata Kos.
Hilya bungkam,dalam hatinya merutuk dalam-dalam akan semua masalah yang dialaminya malam ini.
••
Pagi yang indah,usai mengikuti kelas yoga Dania memilih mencari sarapan sehat di taman kuliner,kali ini ia sengaja mengambil tempat di lapak yang berbeda dan jauh dari lapak milik om Jimi.
Tindakan gadis itu telah melukai hati seorang pemuda tampan yang sangat berharap bisa bertemu dengannya saat itu.
Perlahan langkah kaki itu menjejaki lapak baru yang disinggahi oleh sang gadis seraya berucap lantang,
"Paman,secangkir kopi hitam istimewa."
Dania menghentikan kunyahan roti selainya dan mengangkat kepalanya sekedar memastikan suara yang menggelegar,dan berharap apa yang ada di dalam pikirannya itu salah.Akan tetapi harapannya salah dan dugaannya ternyata benar.
Pemuda itu kini berada tepat di depannya, dan mengambil posisi duduk saling berhadapan.Sekilas tatapan mereka saling beradu,dan Dania memilih lebih dulu mengakhirinya.
"Masih mau berpindah tempat?"ucapnya bernada ledek.Seringai tipis menghiasi bibir seksinya.
"Untuk apa ke mari?Kau boleh bebas duduk di sana."ucap Dania kesal.
Sangat jelas amarah di mata gadis itu.Ingin rasanya ia mencakar wajah pemuda yang kini duduk manis di depannya memasang mimik menahan senyum.
"Sayangnya,tidak ada yang menggoda mataku di sana."Haidar memberi alasan sekenanya.
Dania melotot tajam ke arah Haidar yang menurutnya semakin tidak beretika, sementara di hati kecil pemuda yang duduk di hadapannya ini justeru bertolak belakang dengannya.
Entahlah apa yang terjadi pada sosok pemuda yang notabene bergelar playboy itu,yang jelas kali ini ia serius ingin memiliki sosok mungil dan manja itu.
"Hentikan ocehan kurang ajarmu itu,aku tidak tertarik."serang Dania mulai geram.
Haidar tersenyum ramah,"Baiklah,tapi ada syaratnya."
Dania mendengus kecil.Sejenak ia pun membuang pandangan ke lain sisi,"Cepat kataka apa syaratnya."
Haidar menghela napas,kini saatnya ia mengutarakan ketidaksukaannya kepada gadis tersebut,
"Jelaskan dulu kepadaku kenapa kau menolak tawaran promosi sekretaris itu dari kakak iparku?"
Dania menghela napas dalam,"Bukan urusanmu."cetusnya galak.
Haidar memicingkan mata nakalnya,
Mendengarnya,Dania sedikit memicingkan mata.Satu hal di luar dugaan bahwa permintaan Karin agar dirinya masuk dalam pencalonan sekretaris tidak lepas dari campur tangan pria di depannya ini.
Dania tertawa sarkas,"Kenapa kau melakukannya?"
Haidar gelagapan menyadari akan kecerobohanya sendiri.Pemuda itu terlihat menipiskan bibirnya sejenak,kemudian menatap gadis yang tengah memicingkan mata tidak suka ke arahnya,
"I..,itu karena...,because I need you."
ucapnya lirih.
Mendengarnya,mata Dania sukses membulat sempurna,
'Membutuhkan?' batinnya tidak percaya.
Membutuhkan dalam hal apa,Dania sendiri tidak mengerti.Lalu mengapa hati gadis ini tiba-tiba seakan melayang terbang ke langit lepas,manakala ia mendengar pernyataan pemuda blasteran di hadapannya itu.
Pantaskah ia merasa tersanjung dengan ucapan yang baru saja di dengarnya itu?Tiba-tiba bayangan akan ultimatum sang kakak melintas begitu saja di pelupuk matanya.Bahwa Haidar seorang playboy.
'Ah,tidak!Pria gila ini pasti salah.' gumamnya pelan.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"Haidar membuyarkan lamunannya.
Dania tersentak lantas menggeleng,tidak ada pria asing yang membutuhkan seorang wanita kecuali untuk dipermainkan.Apalagi pertemuan mereka diawali dengan cekcok akibat keegoisan masing-masing.
"Kau cari saja sekretaris lain untuk memenuhi kebutuhanmu itu."ucap Dania santai sembari bangkit dan berlalu meninggalkan pria yang hanya mematung.
••
Di sebuah perjalanan yang sepi,gadis itu hanya bisa menatap arah luar melalui kaca spion sembari melamuni nasib buruk yang menimpanya.Rasanya hampir dua jam ia berada di dalam mobil bersama pemuda itu.
Pria yang dari tadi membisu laksana seorang tuna wicara yang hanya mendengar sebuah percakapan tanpa komentar.Mata sendu itu tidak lepas membaca papan penunjuk jalan beberapa saat setelah ia lepas dari lamunannya.
Sejenak gadis itu membulatkan matanya tidak percaya.Hilya mencuri pandang ke arah Danang yang sedari tadi tidak mempedulikan keberadaannya.Dia memilih fokus ke depan kemudi.
Jika sebelumnya ia hanya berpikir bahwa Danang akan membawanya ke suatu tempat yang asing hanya untuk menyakitinya,kini ia baru tersadar kalau sebenarnya pemuda itu membawanya ke jalur menuju kota kecil.
Kota di mana tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan.Kota tempat kediaman kedua orangtuanya.Hilya panik.Gadis itu mulai tidak tenteram sembari menarik-narik tali sling bag yang menyampir di tubuh langsingnya.
"Kenapa,kau kaget?"Danang berucap tanpa melirik ke arah gadis yang terlihat panik itu.
Mendengar gelegar suaranya,Hilya terjingkat.Mata sendunya tiba-tiba membola,tangannya mulai gemetaran,
"I_iya..,eh!Ti_tidak..,eh?!"Hilya gugup.
Gadis canggung itu melipat lidahnya sendiri,'Sial,pake acara gagap lagi!' batinnya mengumpat,merutuki kebodohannya sendiri.
Danang tersenyum sinis,melirik tajam ke arah Hilya,"Bukannya sudah kukatakan..,kau yang menyulut apinya maka..,"ucapnya menjeda,"..kau juga harus menggenggam baranya."lanjutnya menyeringai licik.
Mendengar ucapan menohok pemuda tersebut,gadis itu tampak berkaca-kaca. Namun tetap bungkam.Tidak ada kata-kata yang bisa terungkap dari bibir ranum yang kian memucat.
Bagaimana mungkin dirinya yang belum selesai menamatkan pendidikan,tiba-tiba harus datang ke hadapan orangtuanya meminta restu.
Restu pernikahan akibat terjebak dalam hal tabu yang memalukan.Hal yang otomatis telah mempermalukan dirinya sendiri dan juga mencoreng nama baik keluarganya, terutama kedua orangtua dan kakak semata wayangnya.
Hilya tersenyum getir dalam sorot elang pemuda yang beradu tatap dengannya.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗