
Happy reading 😍📖
Mendengar pembicaraan di antara Diego dan isterinya yang sedang berlangsung, di mana suaminya menjadi topik pembicaraan terhangat, Hilya memutuskan untuk pergi dari sana tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tersebut.
Di perjalanan Hilya mendapat panggilan telepon kalau Tuan Jayahadi ingin sekali bertemu dengan dirinya,
"Hilya, ada waktu? Paman ingin bicara berdua denganmu. Paman tunggu di Cafe J."
Begitu bunyi kalimat yang keluar dari mulut pria paruh baya tersebut dari sambungan jarak jauhnya. Permintaan penuh harapnya, membuat Hilya merasa perlu meladeni kakek kandung dari putera angkatnya, Juna tersebut.
"Baik, paman. Tunggulah, satu jam lagi aku di sana."
Wanita berambut lurus sebahu itu membawa langkah kaki jenjangnya menuju ke cafe yang dimaksudkan oleh tuan Jayahadi.
Kembali ke ruang tunggu kamar ICU, Karin tengah menceritakan soal Haidar yang menghubungi dirinya beberapa waktu lalu, menceritakan tentang hubungannya bersama Dania yang mendapat kendala.
"Minggu lalu, Haidar bilang kalau paman Imran menolak keras hubungan mereka, ditambah Danang yang lebih cenderung menghindari masalah, memilih melarang Dania menjalin hubungan dengannya."
"Hmhm, dia menghubungimu minggu lalu, tapi kau tidak bilang kepadaku soal ini?" Diego mengerut kening tajam, "Kalau kau mengatakannya jauh hari, mungkin kejadiannya tidak seperti ini, hayolah sayang, sejak kapan kau mulai gerak lamban begini, hmm?" lanjutnya masih dengan nada protes.
"Maaf, sayang. Waktu itu kau sedang ada urusan penting di Maldives, dan aku tidak ingin mengganggu konsentrasimu." Karin menyatakan pembelaan.
"Hmm, lalu agenda bersama Danang hari ini untuk apa?" Diego bertanya dengan mimik menolaknya.
"Haayolah, sayang. Sejak kapan kau jadi pencemburu begini, hmm? Hei, dia sahabatku, dan kau tahu itu," ujar Karin. Kali ini ia yang melayangkan protes kepada suaminya.
"Tidak, aku tidak cemburu. Hanya saja perlu kau ingat bahwa sahabatmu itu sudah memiliki isteri yang juga patut dijaga perasaannya." Diego mementahkan tudingan isterinya, "Bahkan gadis itu sangat baik dan santun. Kau boleh buktikan langsung saat ini juga karena orangnya ada ..." Diego segera berbalik demi mengarahkan telunjuknya ke arah Hilya, namun ...
"Lah?! Ke mana orangnya, baru saja dia di sini bersamaku tadi?" tanyanya bingung sembari melongok ria.
Karin tertawa sarkas seraya mengedikkan bahu, "Sayang, gadis yang kau maksudkan itu sudah pergi sejak tadi," ujarnya mengerjap riang, "Seseorang baru saja menghubunginya melalui ponsel," lanjutnya penuh penjelasan.
Diego manggut-manggut mengerti.
"Memangnya kalian bicara apa tadi, sayang?" tanya Karin tiba-tiba ingin tahu.
"Emph, itu. Kalau bisa kita pertemukan keluarga Haidar dengan Dania," jelas Diego tenang.
"Hmm, ide bagus."
Sementara itu, di ranjang pesakitan, Haidar tampak tercenung seakan sedang mencerna apa yang diucapkan oleh Hilya. Setahu dirinya selama ini, hanya Hilyalah yang diam-diam mendukung hubungannya dengan Dania.
Masih ingat saat pertemuan pertama mereka di acara 'Berbagi Seribu Warga' di mana Hilya tampak secara terang-terangan menerima dirinya dengan menentang keras sikap playboy nya,
"Boleh menjalin hubungan dengan adik iparku, asal jangan kau sakiti hatinya," ujarnya dengan tatapan menuding.
"Amanlah itu, asal jangan kau beberkan ke calon mertua sebelum aku mendapat cara untuk melakukan pendekatan dengannya," ujarnya mengajukan syarat.
"Maaf, sogok tidak berlaku,"cebiknya.
"Sepertinya aku perlu melakukan sesuatu demi meyakinkanmu," tukasnya mendengus kecil, dengan wajah ditekuk. Hingga akhirnya ia memilih berdamai dengan gadis itu daripada harus memamerkan sikap menyebalkan sebagai ciri khas yang dimilikinya.
"Tidak kakak, tidak iparnya, sama saja. Sama-sama menyebalkan," batinnya kala itu. Dan sejak itu, Haidar dan Hilya menjadi teman baik. Banyak pengalaman menarik dan cerita seru yang sering gadis itu bagikan kepadanya sebagai tanda membuka diri dan penerimaan terhadap dirinya. Termasuk aktivitas jet sky nya bersama sang suami sewaktu berbulan madu di Tanjung Benoa Water Sport.
"Ini momen kami, mana momenmu?" ujarnya melalui dinding chat yang sengaja ditujukan kepadanya, disertai emoji tertawa guling-guling sambil menangis di ujung caption nya, lalu dipahami oleh Haidar sebagai bentuk penerimaan dirinya terhadap hubungan backstreet bersama adik iparnya tersebut.
"Open minded lah." Kira-kira demikian maksudnya.
Kemudian dibalas Haidar dengan gambar animasi sepasang burung cantik yang tengah memadu kasih di tengah taman nan indah, sembari menyertakan caption, "Menanti hari baik," lalu membubuhkan emoji ikut ketawa guling-guling yang sama. Cukup membuktikan penerimaan yang baik, bukan?
"Ya, aku tidak boleh menyerah hanya karena digebuk. Aku harus buktikan kepada pria menakutkan itu bahwa aku tidak seburuk yang ia duga," gumamnya seraya mengepal erat telapak tangannya. Ada garis getir yang mengukir di bibir keringnya yang luka lebam. Sekilas bayangan Dania yang cantik nan molek berkelebat ria di pelupuk matanya, "Argh, kau membuatku hampir gila," batinnya masih tersenyum getir.
Cafe Elit J, kota D
Hilya melangkah pasti ke meja yang terletak di ujung ruangan yang paling dekat dengan meja kasir. Sudah bisa dipandangnya dari kejauhan seorang bapak berpenampilan rapi dan menarik meski usianya sudah tidak muda lagi. Dialah tuan Jayahadi.
"Maaf, paman. Aku terlambat karena ada urusan penting yang tidak bisa terlewatkan," ucapnya santun seraya mengambil posisi berdiri di balik kursi yang berhadapan dengan sang bapak.
Tuan Jayahadi tampak mengangguk penuh pemakluman, "Tidak masalah, nak. Silakan duduk," ujarnya mempersilakan kepada sang gadis.
Hilya mengangguk singkat, "Terima kasih, paman."
"Begini, nak. Paman ingin membicarakan hal penting yang patut kau ketahui," ucapnya sebagai pembuka kalimat. Tentunya setelah mempersilakan Hilya memesan makanan dan minuman kesukaannya.
"Silakan memesan makanan apa saja, paman siap traktir." Tuan Jayahadi dengan kebiasaan ramahnya.
"Benarkah itu, paman? Baiklah, aku pesan menu semeja boleh ya," ujarnya terkikik riang. Untuk sejenak ia berhasil melupakan kejadian yang baginya cukup memompa jantung dan mengaduk perasaan.
Melihat semangat dan selera makan Hilya yang lumayan tinggi, tuan Jayahadi ikut tersenyum senang lalu sengaja memesan menu makanan laut terenak di cafe J dalam porsi besar, "Makanlah, ini untukmu."
"Wah! Paman, benar ini untukku?" seru Hilya berlagak seperti orang kelaparan. Entah kenapa, yang jelas saat ini ia hanya ingin makan dan makan.
"Menurutmu, apa paman pernah berbohong?"
Hilya tersipu seraya menggeleng-geleng kepalanya, "Emm, ini sangat enak, paman."
"Jika kau mau, paman akan mengajakmu ke pasar malam kuliner. Di sana ada menu makanan laut yang segar dan sangat lezat."
"Boleh, aku pasti akan mengajak Juna ikut bersamaku," terangnya riang, hal ini membuat wajah tuan Jayahadi tiba-tiba beruah sendu.
Mengetahuinya, Hilya cepat mengalihkan pembicaraan, "Oh, ya. Paman tadi mau bilang apa?"
"Sesuatu yang penting," jawabnya menerawang.
"Apa itu, paman?" tanya Hilya penuh semangat ingin tahu. Sementara jemari tangannya sigap menyantap makanan di depan matanya. Karena keinginan perutnya yang meronta tanpa kompromi agar lekas diisi.
Tuan Jayahadi menghela napas berat, "Paman baru saja mengurus pengalihan waris atas nama Nuha, sebagai pemegang warisan utama milik paman di Amsterdam dan Indonesia," ujarnya setelah merasa lebih tenang,
Hilya mulai menangkap maksud dari ucapan tuan Jayahadi saat ini. Juna, alasan mengapa pria ini ingin bertemu dengannya, "Emm..., lalu paman?"
Sejenak iapun menarik napas dalam, "Maka dari itu, paman berniat menyerahkan sebagian warisan Jaya Group dan juga asset kepemilikan tanah dan perusahaan properti Jaya Group di Indonesia,"
"Perusahaan induk di Nertherland dan Amsterdam juga menjadi roda bisnis terbesar Jaya Group. Semuanya ingin paman serahkan kepada Juna sebagai satu-satunya keturunan almarhum Arjuna Wijaya," tambahnya lagi seraya menatap dalam penuh harap ke arah Hilya.
Hilya sontak berhenti mengunyah, kini ia mendongak menatap wajah rapuh pria paruh baya yang tampak sangat memelas dengan satu tarikan napas dalam lalu dihembuskan pelan.
"Mengenai hal ini, paman harap kau tidak keberatan merelakan Juna agar menerima haknya," lanjut sang bapak dengan tatapan berkabut.
Hilya sukses mematung, gadis itu terlolong dengan bibir membentuk huruf O. Bahkan dalam hal mengurus kepemilikan dan pemberian hak kepada cucu kandung sendiri, harus meminta izin kepada orang lain yang bukan siapa-siapa, pikirnya kalut.
"Bagaimana menurutmu? Apa kau keberatan soal ini?" tanya tuan Jayahadi memecah hening yang sempat tercipta di antara mereka berdua.
Hilya tersentak, hatinya benar-benar menghenyak lantaran merasa tindakan tuan Jayahadi yang meminta izin kepadanya soal Juna terlalu berlebihan, "Apa tidak berlebihan itu, paman?" ujar Hilya balik bertanya kepada sang bapak. Sementara di dalam hatinya sukses berkecamuk ria, "Kenapa aku jadi bodoh begini?" batinnya gusar.
"Tidak terpikirkan sama sekali sebelum ini," gumamnya pelan lebih tepat berbicara kepada diri sendiri, lantaran menyadari keteledorannya sendiri.
Sebagai generasi, darah daging dan juga penerus dari seorang anak manusia, sudah tentunya akan ia mendapatkan harta warisan atau semacam pemberian hak, maupun hibah kepada generasi bersangkutan.
Tuan Jayahadi menggeleng singkat, "Paman sudah memutuskan untuk tidak lagi meminta hak asuh kepada Juna,"
"Paman sadar bahwa kebahagiaan seorang anak balita tidak diukur dari pemaksaan kehendak atas apa yang dimilikinya, atau siapa yang memilikinya,"
"Apalagi sebagai seorang ahli keluarga yang sempat terbuang,"
"Maka keluarga barunyalah yang akan menjadi tempat ternyaman baginya, ketimbang keluarga sebenar yang pernah mengabaikan tugas dan kewajiban mereka sebagai orangtua pengayom dan pelindung,"
"Bahagia seorang anak balita, diukur dari seberapa betah dan nyamannya ia hidup dan berdampingan dengan seseorang yang dipanggilnya dengan sebutan ibu," ungkapnya panjang lebar.
"Ck!" Hilya berdecak kecil.
Lalu apa haknya sampai tega menghalangi jalan sang kakek dengan mempertahankan seorang cucu yang bahkan kakek neneknya saja masih hidup dan amat membutuhkan kehadirannya di sisi mereka, demi secuil bahagia yang sempat tertunda?
"Bisa diterima, nak?"
"Ah, ya. Baiklah, paman. Aku akan membicarakan hal ini kepada bapak dan ibu demi solusi terbaik,"
"Insya Allah setelah beberapa harinya, aku akan mengabari paman,"
Hilya menghela napas berat. Kali ini ia ditempatkan pada beberapa pilihan tersulit, antara mempertahankan Juna di sisinya lalu mengabaikan semua permintaan tuan Jayahadi.
Atau bahkan menerima tawaran tuan Jayahadi dengan tetap mempertahankan Juna di sisinya tanpa mempedulikan perasaan keluarga Jayahadi dari sisi kemanusiaan.a
Atau bahkan mengabaikan semuanya dan memilih Juna seperti sebelumnya tanpa kehadiran keluarga Jayahadi di sekitar mereka.
"Baik, nak. Sangat diharapkan kerjasama darimu."
Hilya melangkah gontai tak menentu arah. Setelah seharian mengalami masalah yang cukup membuat jantungnya sport, kini ia memilih untuk menyendiri demi menenangkan pikirannya yang kacau.
Sperti yang sempat menjadi topik pembahasan bersama tuan Jayahadi, Pasar malam. Menjadi tempat singgahannya kali ini. Meski sendirian, ia merasa suasana hatinya sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Dan saat ini hanya ada keinginan untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Makan lagi, pikirnya terkikik geli. Yang jelas Hilya menikmati kesendiriannya seraya menyapu lembut perutnya yang datar, "Yang tenang ya, nak," bisiknya lirih.
Malam itu, Hilya pulang ke rumah dengan membawa setumpuk makanan lezat yang dibelinya dari pusat kuliner di pasar malam tadi.
"Aku pulang!" pekiknya melenting, berharap ada yang menyambutnya dari dalam rumah.
Dan ternyata harapannya terkabulkan juga. Bibi Nunung sigap menyambutnya dari ruang dapur dengan senyuman paling ramah, lalu Juna dengan gaya khas manjanya, "Bundaaa...," jingkraknya girang. Menggemaskan, bukan?
"Bunda, tumben beli makanan sebanyak ini?" tanya Juna di saat ia dan bibi Nunung sudah siap duduk di meja kan demi menyicipi oleh-oleh yang dibawanya.
Juna memang semakin kritis saja sesuai dengan perkembangan usianya, "Biasanya paling hemat soal jajan. Paling suka bikin masakan sendiri, kan bunda?" lanjutnya bernada menuding dengan kening yang mengerut tajam.
Gaya khas tengil sang bocah kini berhasil membuatnya terkikik geli, kini ada kelegaan tersendiri manakala melihat putera angkatnya itu semakin pintar dan jarang merengek seperti sebelumnya.
"Bunda lagi kepingin jajan di luar, sayang," ujarnya memberi alasan.
Bibi Nunung ikut berkomentar, "Juna benar, nona Hilya bahkan tampak lebih segar daripada biasanya."
Hilya melemparkan senyum canggung, bagaimana mungkin kalau penampilannya sangat jauh berbeda dengan suasana hatinya yang bertolak belakang. Gundah gulana. Ah, mungkin kaca mata bibi Nunung yang sedang bermasalah, pikirnya.
Hilya menghela napas dalam. Ia yang niat awalnya hanya ingin membantu Dania dan juga Haidar, malah berujung masalah di dalam keluarganya.
Sejak kejadian di ruang privat Adhytama Group waktu itu, beberapa minggu sudah berlalu, namun papa Imran masih saja mendiami anak-anaknya. Termasuk dirinya sebagai menantu kesayangan keluarga Setiawan.
Sementara suaminya, lebih cenderung menghindar dari benang kusut yang belum terurai tersebut. Danang bahkan memilih berkutat dengan pekerjaan kantornya ketimbang menemani dirinya di rumah.
Pergi dinihari, pulang larut malam. Berbicara seadanya, menyapa seperlunya tanpa mengurangi rasa kasih sayang dan perhatian kepadanya.
"Aku berangkat dulu, sayang. Ada kesibukan yang tidak bisa dihindari. Jaga dirimu dan anak kita baik-baik, demi aku."
Dan ketika pulangnya,
"Aku pulang!"
"Sayang, ini sudah larut, kenapa belum tidur juga? Sini kutemani istirahat." Begitulah kenyataannya yang terjadi belakangan ini, hingga yang katanya menemani isteri tidur, malah mendengkur lebih dulu ketimbang yang ditemani.
Hilya menghela napas dalam, alih-alih diajak membahas masalah Dania dan Haidar, masalah kantor dan perihal darah daging di perut isteri sendiri saja tidak sempat. Perlahan jemarinya membetulkan selimut sang suami yang tersingkap, "Istirahatlah, semoga esok pagi lebih baik," bisiknya lirih.
••••
Bersambung....
🤗🤗🤗