I Need You

I Need You
Tidak Biasa Menjadi Terbiasa



Happy reading 😍📖


Posisi Danang yang memeluk Hilya dari belakang,dan Hilya duduk di pangkuannya tengah mendongak ke atas membuat Danang lebih leluasa merebut bibir ranum itu.Entah yang keberapa kali ia melakukannnya di sepuluh menit terakhir.Seakan tidak ingin melepas kecupan panasnya.


Sejenak iapun menghentikan aksinya karena pertahanan yang hampir bobol.Danang berusaha memukul mundur hasrat yang tiba-tiba menderanya,akibat dari ciuman panas yang baru saja ia lepas.Jantungnya tiba-tiba berpacu kencang seiring dengan tarian napasnya yang tersengal.


"Ke Water Sport lagi yuk,"ucap Hilya mengajak di sela napas yang masih tersengal.Soal isi kamar,ya jangan ditanya lagi karena sudah jelas acak-acakan bak kapal pecah.


"Aku mau di kamar saja."Danang masih berusaha mentralkan rasa yang bergejolak.Posisinya masih memeluk Hilya dari belakang.


"Kenapa,seisi kamar sudah berantakan,mau acak apalagi di sini?"


"Kau saja,"ucap Danang sembari menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher sang isteri.


"Apa?"


"Kau....,makin diacak malah semakin cantik."tambahnya menggoda.Masih tetap dengan aksinya.


Hilya berbalik posisi dudusknya dan menyandar di lengan kekar yang menopang punggungngnya,"Ah,kau ini....,tubuhku saja sudah belang seperti macan tutul,kau bilang cantik?"protes Hilya sembari menyibak bajunya dan menunjukkan tanda-tanda kepemilikan yang dibuat Danang pada area-area intimnya.


Penampakan yang sempurna.Malah semakin membuat Danang terpancing.Pemuda itu segera melempar pandangan ke sisi lain,'Sial,ini malah semakin liar dan sulit dikontrol.'batin Danang mengumpat kelemahannya sendiri di depan isteri.


"Kenapa diam saja?"Memegang tangannya,"Kau baik-baik saja kan?"Menatap lekat ke sorot mata yang kerap ia hindari karena memiliki efek yang sangat besar bagi bagi tubuhnya.Ada kecemasan sendiri manakala melihat suaminya yang tiba-tiba tidak berkutik.


"Ya....,ya.Kita akan pergi,asal tanggung jawab dulu karena telah memancing hasratku ini,"balas Danang dengan napas satu dua.


Hilya terbelalak.Bukankah semalam adalah malam terpanjang yang mereka lewati mengingat dirinya sudah lepas dari rasa sakitnya itu.Lalu pagi ini sang suami malah menginginkannya kembali.Hilya baru paham kalah ternyata hasrat lelakinya ini sangat mudah terpancing.


Tidak ingin disalahkan,Hilya balik menyalahkan suaminya,"Kau yang memulainya."sentak Hilya tidak terima.


"Kau yang menggigitku."Danang membela diri.


"Kau."


"Kau sayanghhh,"desah Danang parau,suara bassnya menggelegar menggetarkan telinga dan hati sang isteri.Menguar sensasi ghairah yang mencekam di seisi atmosfer ruangan.


"Kita tuntaskan sekarang,biar cepat selesai."mulai meniupkan angin birahi ke sekujur tubuh sang isteri,melepas pakaiannya,"Aku janji setelah ini,akan membawamu terbang di udara."lanjutnya sembari melancarkan aksi sensualnya.


Hilya yang sebenarnya sudah terlalu lelah sudah terlanjur terbuai oleh bujuk rayu sang suami melalui sentuhan-sentuhan mautnya.Terpaksa menerima dengan ikhlas.Bagaimanapun ia tidak ingin melihat sang suami menderita di luar sana dan berakibat fatal bagi moodnya.Apalagi acara jalan-jalannya pasti gagal total.


"Maafkan aku,sayang."Danang mendesah parau memohon pemakluman sang isteri.Di balik napas yang kian tercekat membuatnya jadi sulit berkata-kata.Kini ia hanya mengangguk tanda memaklumi keadaan suaminya.


Lagi-lagi Hilya pasrah dalam gelora asmara yang berpanjangan.Menikmati perlakuan sang suami yang menindihnya berkali-kali dan membuatnya merasakan kenikmatan yang luar biasa.Dibantu oleh sinar pagi yang menerobos,memendar seisi ruangan,Hilya jadi melihat lebih jelas bagaimana kehebatan sang suami merajainya


Menyaksikan bagaimana raga kokoh itu beraksi menenggelamkan diri dan berpadu dengan kelembutan miliknya di sana membuat semuanya menjadi semakin gencar dan indah dalam pelepasan nikmat syurgawi.


Tanjung Benoa Water Sport....


Kali ini Danang dan Hilya memilih menikmati keindahan alam dari ketinggian dengan bermain parasiling.Seperti biasanya Hilya tetap menjadi obyek utama bagi Danang demi membuat momen mereka menjadi indah.


Hilya bagaikan obat penawar luka menahun yang menyembuhkan luka hatinya.Bahkan selama bertahun-tahun ia menjalani dunianya tanpa seorangpun yang bisa memahami isi hatinya.


"Bagiku semua ini menjadi luar biasa karena panorama hidup di depan mataku,"ujar Danang menggoda isterinya.


"Maka akupun begitu,sayang."memandang sekeliling,"Lihat,dunia bahkan tersenyum memandang kegilaanmu menggodaku."lanjutnya sembari memicingkan mata usilnya.Danang terkekeh.


Jika di masa lalunya Danang yang berusaha menyesuaikan diri dengan seseorang di agar bisa menenangkan hatinya,maka itupun mungkin hanya secuil.Mereka hanya bisa memahaminya dalam batas yang tidak berlebihan.


Mungkin hanya sekedar menjadi pendengar setia ataupun sekedar menjadi sahabat yang memberi saran kepadanya agar tetap kuat dalam menjalani hari-harinya.


Berbeda dengan Hilya.Ia bahkan memiliki segala yang sebelumnya tidak pernah disadari oleh Danang.Gadis yang sengaja di kirim Tuhan untuk dirinya melalui campur tangan sang papa yang penyayang.


Pemuda itu asyik memindai tubuh langsing yang kini sedang diikat oleh pemandu parasailing water sport yang memasang tali kekang.Sesuatu yang istimewa dan sulit dibahasakan dengan kata-kata,menguar menjalar begitu saja dari dalam tubuh dan otaknya.


"Siap-siap sayang,jangan abaikan aba-aba petugas,"pekik Danang di sela deru anging yang mengencang akibat luncuran speetboat yang mereka tumpangi siap meluncurkan tubuh mereka ke udara bersama tali kekang parasut yang sudah diikat oleh pemandu Water Sport yang membawa mereka ke tengah laut.


"Okay,siyap boss!"Hilya dengan gaya tunduk patuh pada titah sang suami.


Berapa menit kemudian sepasang anak muda itu sudah melayang-layang di udara pada ketingian seratus meter.Memandang keindahan ciptaanNya dari atas.


"Ini indah."Hilya dengan gaya takjubnya sembari tertawa menatap wajah sang suami.


"Bahkan terindah sepanjang hidup kita sayang,"balas Danang sambil tertawa.Pemuda itu bagai terhipnotis saat memandang senyum sang isteri yang semakin menawan.Kini keduanya sama-sama saling mengagumi.


Begitulah aktivitas Danang dan Hilya selama tiga hari.Mereka memanfaatkan momen kebersamaan dengan saling mengenal lebih dalam,saling berbagi,dan saling melengkapi juga mengagumi kelebihan masing-masing.


Semuanya meluncur begitu saja sembari menikmati keindahan panorama alam nan indah,bermain ombak bersama deru angin serta mengajak sang isteri berkeliling pulau penyu sembari menikmati kuliner-kuliner khas yang nikmat.


.


.


Danang mengutak-atik laptop miliknya sembari melihat-lihat kembali momen kebersamaannya dengan sang isteri.Keseruan perjalanan mereka selama tiga hari terpampang jelas di pelupuk matanya.


Ada senyum yang mengembang di bibirnya yang seksi.Sesuatu yang menurutnya tidak biasa akan segera ia perbiasakan bersama wanita yang kini telah menjerat hatinya.Satu-satunya wanita yang berhasil membawanya kembali dari dunia remang.


Begitu juga dengan Hilya yang memilih menerawang momen kebersamaan mereka dalam pikirannya sembari menikmati hari-harinya di rumah.


Tidak bisa dipungkiri,jika sebelumnya kedua anak manusia ini sering berlibur bersama keluarga dengan melakukan hal semacam ini.Termasuk barmain jet ski,parasailing maupun banana boat.Bukanlah suatu hal yang baru bagi mereka.


'Ini bukan tentang terbiasa atau tidak,ketika kita menjalaninya,tapi ini tentang rasa yang tengah menguar indah dari lubuk hati yang terdalam.Tentang apa yang kita jalani,bagaimana menjalaninya dan bersama siapa kita menjalaninya.Cinta telah membuat semuanya menjadi indah dan semua hal biasa terasa begitu luar biasa dan seakan baru dialami.'batinnya tersenyum.


"Masih waras kan?"Gelegar suara seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Kau?!....,apa tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu?"Danang dengan suara datarnya yang khas saat berhadapan dengan orang yang tidak lain adalah sepupu dari garis keturunan ibunya,Jefry.


Sungguh ucapan yang hanya mendapat respon tertawa renyah dan panjang dari Jefry.Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala dengan gaya sarkas yang jelas sangat dimengerti oleh Danang.


"Katakan,ada apa kemari?"Danang dengan suara ketus,menyerangnya begitu saja.


"Aku hanya ingin menjenguk adikku yang baru saja melewati momen bulan madunya,"mengambil posisi duduk dan masih terkikik,"apa itu salah?"lanjutnya mengetuk pelan meja di depannya.Danang sukses melengos.


"Aku baru melihat senyum itu kembali setelah duabelas tahun berlalu,"ucap Jefry yang tertawanya mulai mereda.


"Apa yang kau ketahui tentang sepuluh tahun yang lalu?"Danang pura-pura melupakan sesuatu yang sebenarnya sangat jelas tercatat di otaknya.


"Kau lupa,waktu itu kau datang kepadaku dan mengatakan bahwa Vania telah menerima cintamu....,ya senyum itu."Jefry menerawang,"Padahal aku sangat mengenal siapa Vania.Dia tidak tulus padamu,di balik itu dia begitu gencarnya mengejar diriku."lanjutnya lirih.Danang mengangkat wajahnya,tertarik dengan pengakuan Jefry.


"Lalu?"


"Nah,itu dia.Aku sengaja menerimanya agar kau membuka mata bahwa Vania bukan gadis yang pantas kau cintai."


Padahal waktu itu Danang mengetahui Jefry sebagai saingan berat yang ingin merebut Vania darinya.


"Tapi kau juga menelantarkannya setelah itu."Danang masih dengan rasa penasarannya.


"Ya....,itu karena aku mengetahui sisi lain dari Vania."Jefry dengan suara datarnya.Danang sukses mengerutkan keningnya,tajam.


"Maksudmu?"Danang tenggelam dalam pertanyaan yang membingungkan.


Jefry mendengus kesal,"Vania rela menyerahkan kehormatannya kepada seseorang."


"Jadi kau mengetahuinya?"Danang terbelalak,merasa seakan dirinya sedang melakukan kesalahan dan terciduk.


Jefry mengangguk pelan,"Ya."


"Siapa....,apa yang kau tahu itu aku?"Danang semakin penasaran.


Jefry menggeleng,"Yang jelas bukan kau ataupun aku....,tapi biarlah menjadi rahasiaku.Dia sudah terlanjur menjadi isteri Dimas,bukankah ia patut dihormati sebagai adik ipar?"


"Hahh....,sialan....,berarti selama ini dia cuma menjebakku,"ujar Danang menyesal,tanpa mencerna kalau Jefry tidak mengetahui kebenaran tentang Vania yang juga telah lepas dari sepupu mereka,Dimas.


"Ya,kau dan aku sama-sama dijebak....,ah.Lupakan dia,"kembali mengetuk meja,"Aku kemari untuk merayakan kebahagiaan yang pantas kau raih bersama dengan adik ipar Hilya."Jefry dengan wajah semringah mengacak-acak pundak sepupu sekaligus sahabatnya.


Danang tertawa kecil,"Ah,ya.Maaf....,aku lupa memberimu kabar."


"Tidak masalah,aku maklum pada jiwa kasmaran di momen bulan madu kalian,"ujarnya membuat Danang tertawa renyah.


Keduanyapun larut dalam cerita yang berpanjangan dan menyenangkan.Satu hal yang ditangkap oleh Jefry melaluo cerita Danang bahwa Hilya adalah cinta sejati sekaligus penyelamat bagi sepupunya itu.


Mungkin sudah saatnya ia mengecap kebahagiaan itu setelah sekian lama ketulusannya di manfaatkan oleh orang-orang tidak berhati seperti Vania maupun mendiang Lian.


"Selamat bro."Jefry mengulurkan jabatan tangannya kepada Danang dan disambut hangat oleh pemuda itu dengan senyum penuh arti.


"Terima kasih,lalu kau kapan menikah?"Danang melemparkan pertanyaan yang menyentuh privasinya.


Jefry menghela napas berat,"Belum terpikirkan....,"menyapu wajahnya yang tiba-tiba kusut,"Papaku sangat egois,dia lebih mementingkan kebahagiaan adik tiriku ketimbang diriku."jelasnya menyesal.


"Kau yang sabar,aku yakin om Denis pasti akan melunak kalau dia mengetahui kebenarannya."


"Semoga."


.....


Bersambung....


🤗🤗🤗